Arraya duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong menatap jendela rumahnya yang sudah tertutup rapat. Satu tangannya masih berada di depan perut ratanya. Ia masih belum bisa percaya jika ada malaikat kecil yang telah Allah titipkan padanya. Rasanya aneh tapi juga sangat membuatnya bahagia. Rasanya seperti ia akan menjadi perempuan seutuhnya. Menjadi perempuan juga ibu dari anaknya nanti. "Maafin Umi ya, sayang..." Arraya mengusap lembut perutnya. Itu adalah kalimat pertamanya yang ia ucapkan saat ia tahu jika ada segumpal daging hidup di dalam rahimnya. "Maaf, karena Umi nggak bisa bawa kamu ketemu sama Abi..." Arraya menghapus airmata yang lagi-lagi mencuri-curi waktu keluar. Ia tak ingin bersedih untuk calon anaknya. Ia tak ingin bersedih untuk calon jabang bayi yang saat ini sangat

