Adnan keluar dari kamarnya saat merasakan tenggorokannya kering. Air hangat yang disiapkan oleh Bi Ira sudah habis tak bersisa di kamarnya. Ia menuruni satu-persatu anak tangga dengan perlahan. Sampai di dapur, Adnan langsung mencampur air panas dan air dingin ke dalam gelasnya. Ia duduk di kursi meja makannya. Matanya menatap ke sekitar. Sepi. Satu kata itu yang terlintas di kepala Adnan saat ini. Rumah besarnya itu sepi. Seperti rumah kosong yang tidak memiliki penghuni. Adnan melirik jam dinding yang ada di dinding dapur. Sudah hampir jam 12 malam dan Adnan tidak bisa tidur. Badannya masih terasa melayang, kepalanya pusing, badannya juga masih hangat. Adnan masih belum pulih sepenuhnya. Helaan napas panjang Adnan embuskan. Ia memutuskan untuk berdiri dan membawa segelas air hangatny

