Adnan membuka pintu kamarnya perlahan dengan satu tangan lainnya sibuk membawa nampan berisi semangkuk bubur juga teh manis hangat untuk Arraya. Gerakannya begitu hati-hati, takut terjatuh, takut malah merusak makanan yang sudah susah payah ia buat hingga berpeluh-peluh. "Ra...." suara lembut Adnan memanggil sang istri yang kini masih berada di dalam balutan selimut dengan kedua mata terpejam rapat. Nampan tadi ia letakkan di atas nakas, sedang ia duduk di tepi ranjang dan menyentuh bagian tubuh Arraya yang tertutup selimut. "Sayang, bangun dulu. Kamu harus makan." "Nggak mau, nggak nafsu." Arraya menjawab pertanyaan Adnan tanpa membuka mata. Ia masih setia dengan posisi rebahannya dan wajah yang ia alihkan ke arah lain. Di keningnya juga masih menempel handuk kecil sedikit basah yang A

