Arraya memasuki lobi kantornya dengan gerakan terburu-buru dan gusar. Kepalanya yang terus saja memikirikan hal yang tidak-tidak, membuat Raya hampir tersandung langkah kakinya sendiri. Gadis itu memencet tombol lift dengan tak sabaran. Ia ingin sampai di kubikelnya. Kembali bekerja dan melupakan perihal foto perempuan lain di dompet suaminya. Raya sadar, harusnya ia bisa sedikit tahu diri. Harusnya ia bisa sadar posisinya sekarang. "Kamu telah mengambil lelaki dari perempuan koma yang tidak tau apa-apa, Ra. Bagaimana jika nanti dia terbangun lalu meminta Mas Adnan kembali ke sisinya?" Air mata tak dapat ia tahan lagi. Cairan bening itu terjatuh tanpa bisa ia cegah begitu kepalanya semakin menjadi memikirkan hal buruk yang mungkin saja menimpa rumahtangganya. Awalnya Raya tak terlalu m

