07 | Terluka (2)

1819 Kata
Arraya terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Lagi, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Helaan napas panjang Arraya keluarkan dengan resah. Padahal sejak tadi pagi Adnan terus mengatakannya untuk segera bersiap setelah solat maghrib, namun kenyataannya sampai saat itu pun Adnan belum datang untuk menjemputnya. "Mas Adnan yang membuat janji, dia juga yang mengingkari." Layar ponsel yang memperlihatkan room chat nya dengan Adnan pun hanya ceklis satu. Adnan tak membaca pesannya. Dan entah ada di mana lelaki itu. Suara klakson mobil yang cukup kencang dari arah luar membuat Arraya tersentak kaget. Ia berdiri dan mengintip dari jendela kamarnya. Rupanya itu mobil Adnan. Baru juga dibicarakan, lelaki itu langsung muncul. Dengan membawa tas kecil beserta ponselnya, Arraya keluar dari kamarnya setelah melihat bahwa penampilannya sudah cukup rapi dan tidak memalukan. "Maaf, Ra, aku telat. Meeting dengan klien tadi nggak nyangka akan sampai maghrib." "Nggak papa, Mas. Tadinya aku kira kita nggak jadi makan malam," ujar Arraya begitu sampai di hadapan Adnan yang berdiri di depan pintu rumahnya. "Jadi, Ra. Kakek, Papa, dan Mama sudah ada di restoran, jadi ayo kita segera susul ke sana." "Mm, Mas?" panggil Arraya ketika Adnan hendak masuk kembali ke dalam mobil. "Ya?" "Nggak apa-apa, kan, kalau aku pakai baju seperti ini?" Adnan sontak menatap tubuh Arraya dari ujung kepala hingga kaki. Untuk acara makan malam bersama dengan kedua orang tua Adnan dan kakeknya, Arraya memilih memakai gamis biru muda dengan potongan renda di bagian lengannya. Kerudung yang Arraya pakai pun berwarna senada hingga menutupi d**a. Membingkai tubuhnya terlihat cantik walau dalam tampilan sederhana. "Bagus kok. Hmm, kamu juga kelihatan cantik." Adnan mengangguk kikuk sambil mengalihkan tatapannya saat Arraya menatapnya. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobilnya. Masih tak ia sangka Arraya yang sekarang ternyata telah berubah. Padahal saat kuliah dulu, Arraya masih sering memakai celana juga kerudung yang hanya disampirkan ke bahu. Arraya tetap tersenyum malu walau dalam kebingungan melihat perubahan sikap Adnan padanya dari waktu ke waktu. Terkadang lelaki itu jadi galak dan menyeramkan, tetapi kali ini, lelaki itu terlihat bersikap biasa lagi padanya. Tak terlalu kaku atau terkesan meremehkan dirinya. Jika Arraya mengira perjalanannya dengan Adnan kali ini akan banyak bicara, maka ia salah. Karena sejak mobil melaju hingga kini, Adnan sama sekali tidak membuka suara. Yang ada hanya kesunyian menyelimuti perjalanan mereka. Sungguh miris. "Ini hanya makan malam biasa. Hanya ada Papa, Mama, dan juga Kakek. Ini seperti tradisi turun temurun untuk menantu baru di keluarga. Jadi tidak perlu canggung, dan bersikap saja sebagaimana mestinya." Arraya mengangguk singkat tanda mengerti. Tak berselang lama, mobil berhenti di sebuah restoran besar ala Jepang. Dekorasi halaman yang luas serta pohon rindang yang ditanam di setiap sudut menambah kesan asri restoran. Arraya yakin, makan di tempat seperti itu pasti akan menghabiskan seluruh uang gajinya sebulan atau bahkan lebih. Maklum, keluarga Adnan memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Semua keluarganya rata-rata pengusaha sukses serta akademisi di kampus. Termasuk buyutnya, yang memulai karir dengan membuka bisnis dari awal yang pada akhirnya bisa mendirikan perusahaan sendiri dan memiliki ribuan orang karyawan dan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia hingga di Singapura dan Hongkong. Makanya saat kuliah pun, tak heran jika Arraya sering melihat Adnan sih berganti datang membawa mobil atau motor berukuran besar yang keren. Arraya melepas seatbelt yang sejak tadi mengurung tubuhnya. Adnan bisa mendengar berkali-kali Arraya menarik dan mengembuskan napasnya. Jelas sekali jika Arraya sedang merasa gugup. "Tidak perlu gugup, biasa saja." Arraya menoleh. Meringis pelan mendengar sindiran Adnan untuknya. "Maaf, Mas. Tapi aku nggak bisa berhenti deg-degan. Aku takut..." Kedua bola mata Arraya membulat penuh saat merasakan ada jari-jari yang menelusup ke sela jemarinya. Saat ia melihat ke bawah, senyumnya ia coba tahan sekuat mungkin. Senang sekali melihat tangan Adnan yang menggenggam tangannya dengan erat. "Tidak perlu takut. Ini akan cepat berakhir seperti kamu bimbingan skripsi dengan Pak Alex dulu." Karena kalimat Adnan itu, Arraya akhirnya baru bisa tersenyum lepas. Adnan mengungkit satu dosen pembimbingnya dulu yang begitu nano-nano. Ada sedih, marah, kesal, juga bangga karena mendapatkan dosen pembimbing yang ketus namun sangat pandai seperti Pak Alex. Sampai di sebuah ruangan tertutup, Adnan menghentikan kedua kakinya hingga Arraya mengikuti. "Dengan Bapak Adnan?" seorang pelayan lelaki menggunakan seragam restoran berwarna hitam menyambut Adnan dan juga Arraya. "Ya, saya sendiri." "Silakan masuk, Pak. Keluarganya sudah menunggu di dalam." Pelayan tersebut mempersilahkan Adnan dan Arraya untuk masuk ke dalam ruangan. Dekorasi dengan furniture kayu jati dan motif bunga sakura yang dijadikan wallpaper dinding membuat Arraya berdecak kagum dalam hati. Perpaduan warna cokelat klasik ini jadi menambah kesan elegan dan juga mewah yang dimiliki restoran tersebut. "Kenapa telat, Adnan?" tanya Lidya. Adnan mencium kedua tangan orang tuanya, setelah itu ia menghampiri kekeknya yang sejak tadi ia perhatikan hanya diam sambil menatap Arraya lekat. Ini adalah pertama kalinya Arraya bertemu dengan kakek kandung Adnan. "Macet, Ma, jadi maaf jika sudah menunggu lama." Lidya tersenyum simpul. "Tidak apa, silahkan duduk. Arraya, sini duduk, Sayang." Arraya bersyukur, setidaknya ia mendapat perhatian sendiri dari mamanya Adnan yang menyapanya dan menawarkan kursi untuknya. "Makasih, Ma." Arraya mulai duduk di samping Adnan, di depannya ada Lidya, sedangkan sang Kakek duduk di kursi sendiri dengan menghadap yang lainnya. Rupanya Adnan benar, pertemuan ini memang sedikit privasi, karena hanya dihadiri oleh kedua orangtua Adnan, beserta kakeknya yang sampai detik ini belum Arraya tahu seperti apa karakternya. Acara makan malam pun berlangsung dengan suasana yang dapat Arraya gambarkan kaku dan canggung. Tidak ada yang membuka suara. Baik Lidya, Fajar, bahkan sang kakek, semuanya menikmati makanannya dalam diam. Padahal, Arraya sudah menyiapkan diri untuk sesi wawancara yang ia prediksi akan berjalan malam ini. "Jadi, siapa nama kamu?" Arraya sontak mengangkat kepala begitu mendengar sebuah pertanyaan yang sepertinya ditujukan untuknya. Sesuatu yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kakek Kak Adnan tidak tahu namaku? Tanya Arraya bingung dalam hati. "Namanya Arraya, Kek." Lidya refleks menjawab pertanyaan mertuanya yang sebenarnya ditujukan untuk Arraya. "Saya tidak tanya kamu, Lidya. Saya bertanya pada istrinya Adnan." Kunyahan makanan di dalam rongga mulut Arraya berhenti begitu ia mendengar kalimat sindiran dari mulut Kakek. Mendadak Arraya jadi merasa bersalah pada mertuanya, karena dirinya, mertuanya sampai mendapat sindiran dari Kakek. Arraya mengunyah makanannya dengan cepat, meminum sedikit air mineral lalu bersiap untuk menjawab pertanyaan barusan. Kakek masih setiap memperhatikan Arraya dari balik kacamatanya. "Nama saya Arraya Kirania, Kek." Kakek menganggukkan kepalanya singkat. "Umur kamu berapa? Tinggal di mana? Dan kesibukan kamu sehari-hari apa?" Kakek kembali meluncurkan rentetan pertanyaannya. "Umur saya 25 tahun, Kek. Saya tinggal di Jakarta Timur, dekat Matraman. Kalau sekarang saya masih aktif bekerja di Kementerian Luar Negeri sebagai anggota Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga, Kek." Kakek masih memperhatikan wajah Arraya dengan saksama. "Nama yang cantik seperti orangnya. Pekerjaan yang hebat juga. Saya salut dengan kamu." Kakek balas tersenyum untuk Arraya, membuat hati Arraya menghangat saat melihat senyum tipis yang tulus itu. Walau Kakek terlihat seram, tapi saat bicara tutur katanya begitu santun, menatap Arraya tanpa mengintimidasi. Arraya tak habis pikir jika Kakek ternyata memiliki karakter yang lebih hangat dibanding Adnan dan Fajar. "Terima kasih, Kek." "Kalau begitu pantas jika Adnan mau menikah dengan perempuan baik seperti kamu." Kakek kembali memuji Arraya. Kakek terlihat santai membanggakan Arraya di depan cucu dan juga anaknya, padahal tanpa Kakek tahu ada seseorang yang sedang menahan kesal sejak tadi. Ia adalah Adnan. Adnan yang mulai tak suka dengan arah pembicaraan Kakek yang terus memuji Arraya. Apalagi saat ia mendengar kalimat barusan yang meluncur dari bibir Kakek. "Maaf, Kek. Tapi aku rasa, Kakek salah paham." Kedua orang tua Adnan langsung melirik Adnan, termasuk Kakek dan juga Arraya yang menunggu kelajutan ucapan Adnan. "Yang mau aku menikahi Arraya bukan aku sendiri, Kek. Itu semua aturan yang Papa buat secara sepihak. Harusnya Kakek nggak lupa kalau aku sudah punya tunangan sendiri." "Adnan!" Fajar yang sejak tadi diam mulai bereaksi. Ia menyebutkan nama putranya dengan kencang, membuat suasana yang semula santai mendadak tegang. "Jaga ucapan kamu! Kamu nggak berhak bicara seperti itu setelah apa yang sudah kamu lakukan sebelumnya." "Papa yang nggak berhak!" balas Adnan tak terima. "Pertemuan ini harusnya nggak usah dilakukan. Semua orang di sini tahu kalau aku sudah punya tunangan, tapi Papa tetap saja memaksa aku untuk menikahi Arraya." "Maksud kamu apa Adnan?" tanya Kusuma bingung sambil menatap putra dan cucunya bergantian. "Kakek nggak akan tahu alasan dibalik pernikahan ini, karena Papa yang menyembunyikan ini semua dari Kakek." "Adnan cukup!" bentak Fajar. "Sekali lagi kamu berani berucap, Papa tidak akan tinggal diam!" "Kakek sendiri tahu aku sudah punya tunangan, lalu kenapa Kakek sama sekali tidak penasaran kenapa aku bisa meninggalkan tunanganku begitu saja?" tanya Adnan dengan berani pada Kusuma. Arraya menelan salivanya susah payah. Ia langsung menunduk dan menautkan jemarinya. Rasanya seperti Adnan baru saja meninju hatinya. Sakit rasanya mendengar tiap kata yang meluncur dari bibir Adnan. "Cukup Adnan!" "Papa yang harusnya berhenti untuk tidak melewati batas!" balas Adnan dengan amarah yang meledak-ledak. Satu bulir air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Arraya. Pertemuan privasi yang semula ia harap akan berjalan dengan tenang dan lancar, rupanya hanya akan menjadi tempatnya dicaci-maki secara tidak langsung oleh Adnan. *** Arraya tertegun. Hanya bisa menunduk membisu. "Adnan, jangan bicara dengan nada tinggi sama Papa kamu!" Kini giliran Lidya yang menegur Kak Adnan. Mereka bertiga seperti petasan yang disulut dengan api. Meledak-ledak hingga membuat seisi rumah ini, suasana ini, menjadi lebih hening berkali-kali lipat dari sebelumnya. "Mama sama saja egoisnya seperti Papa! Tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan aku!" Tidak ada yang berani membuka mulutnya sedikit pun kecuali Adnan dan kedua orangtuanya. Arraya bahkan juga tak mampu membela dirinya sendiri dari sikap Adnan yang seolah ikut menyeret dirinya saat ini. "Arraya, kita pulang sekarang." Mendengar ajakan dingin dari Adnan barusan, Arraya sontak mendongak. Adnan berdiri dan langsung meninggalkan meja makan. Tanpa pamit. Membuat semua orang di meja itu menatap kepergiannya dengan tatapan terkejut bukan main. Sepertinya Adnan benar-benar marah. Sampai namanya dipanggil dua kali, Adnan tetap tak mau menyahut. Langkahnya sudah pasti, ia memang ingin pulang. Meninggalkan acara keluarga yang justru menyulut emosi terpendamnya. Urusan orangtuanya, biarlah ia urus nanti. Yang jelas Adnan memang harus pulang ke rumahnya sendiri. Ia harus menenangkan dirinya sendiri. "Pulanglah..." Merasa ada yang menyentuh lengannya, Arraya segera menoleh. Kakek menatap gadis itu dengan tersenyum simpul. Hanya kakek yang sejak tadi tetap diam dan tenang sambil mengamati suasana memanas yang baru saja terjadi di hadapannya. "Temani dan tenangkan Adnan. Sejukkan hatinya, dan jangan diambil hati ucapan kasarnya tadi. Bagaimanapun juga kamu adalah menantu Kakek yang sekarang, cucu Kakek juga." Kedua sudut bibir Arraya yang sejak tadi miris tanpa senyum, kini akhirnya mengeluarkan binarnya. Membentuk senyum haru pada kakek. Ia tak menyangka jika pria baya seperti kakek ternyata diam-diam memperhatikan dan sangat memahami perasaannya. "Makasih, Kek," katanya dengan langsung pamitan singkat pada keluarga Adnan. "Kamu berhutang penjelasan pada Papa, Fajar," pungkas Kakek pada putranya begitu Adnan dan Arraya pergi. Fajar yang mendengar kalimat itu dari Kusuma hanya bisa menghela napas panjang. Hal rumit yang sudah sengaja ia tutupi akhirnya terbongkar hanya karena Adnan yang tersulut emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN