08 | Hati Yang Beku

1266 Kata
Sepanjang perjalanan, Arraya dan Adnan hanya saling diam. Hawa di dalam mobil terasa panas. Emosi yang Adnan bawa dari restoran itu benar-benar sangat terasa sampai ke mobil. Kedua alisnya menyatu. Bibirnya juga mengerut ke depan, mempertajam penglihatan orang lain kalau Adnan memang sedang dalam posisi marah. "Mas, Mas Adnan!" tubuh Arraya yang saat ini sudah merasa tak enak badan berusaha mengejar langkah kaki Adnan yang terlalu lebar dan terburu-buru saat keluar dari mobil. Tapi berkat usaha jalan cepatnya, Arraya berhasil meraih ujung kemeja Adnan. Bisa gadis itu lihat bagaimana wajah suaminya yang begitu memerah karena emosi. "Apalagi, sih?" sulut Adnan dengan kesal. "Mas kenapa main pergi gitu aja? Kamu bahkan belum sempat pamit sama yang lain—" belum sempat Arraya menyelesaikan kalimatnya, Adnan sudah lebih dulu menepis tangannya dengan kasar. "Mas sendiri yang maksa aku untuk datang ke acara keluarga Mas tadi, kenapa sekarang malah Mas yang bersikap seperti ini?" lanjut Arraya tak gentar. Mungkin Arraya memang harus lebih berani saat ini dengan Adnan. Ia tidak bisa terus diam tanpa berbuat apa-apa. Apa yang dikatakan kakek padanya memang benar. Ia adalah istri sah Adnan. Jadi jika Adnan sedang dalam masalah atau sedang emosi, maka Arraya sebagai istrinya harus bisa menenangkannya. "Papa duluan yang mulai." Adnan menunjuk ke arah pintu. Seolah di sana adalah rumah kakek beserta semua manusia di dalamnya. "Lagian kamu juga, harusnya kamu nggak kemakan pujian Kakek." Apa yang Adnan katakan barusan mengundang kerutan di kening Arraya. Arraya benar-benar tidak mengerti jalan seperti apa yang dipilih oleh kepala suaminya. "Jadi sekarang kamu malah nyalahin aku?" tanyanya tak percaya. "Aku bahkan nggak bicara apa-apa ketika ucapan Mas tadi seakan merendahkan diri aku. Aku bahkan mencoba sabar dan menahan diri aku untuk tidak membalas ucapan kamu yang menyakitkan itu." "Kenapa? Kamu sakit hati?" Sungguh, di mana lagi Arraya harus mengumpulkan stok kesabarannya jika terus berhadapan dengan karakter Adnan yang seperti ini? "Bukannya kamu juga setuju dengan ucapanku tadi? Memang benar, kan, yang menyukai pernikahan ini hanyalah Papa dan Mama? Dan yang aku omongan tadi memang benar. Sejak awal, takdirlah yang salah." "Astaghfirullah Mas, istighfar kamu!" Arraya mengatakannya dengan suara bergetar. Kelopak matanya bergelinang air mata. Mungkin dalam hitungan detik genangan air itu akan banjir. Tumpah ruah membasahi pipinya. "Itu memang fakta, Arraya!" Arraya menggelengkan kepalanya. Adnan memang benar-benar menguji kesabaran Arraya. "Apa Mas lupa kalau yang menyebabkan Mas Luthfi kecelakaan dan akhirnya meninggal adalah Mas Adnan sendiri? Kamu lupa itu, Mas?!" Arraya menatap mata Adnan dalam dan lekat. Seolah menerobos masuk dinding hati Adnan yang terlalu tinggi dan tebal untuk ia lampaui. Arraya masih ingat dengan jelas, bagaimana sedihnya ia ditinggalkan oleh Luthfi. Saat itu memang Arraya belum bisa membalas perasaan Luthfi, tapi ia bahkan sudah bisa berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan mengabdikan hidupnya jika suatu saat nanti Luthfi benar-benar menjadi pendamping hidupnya. Luthfi dan Adnan sangat berbeda. Cara kedua lelaki itu memperlakukan Arraya sangatlah berbeda. Luthfi selalu menghargai Arraya dan mengerti perasaan gadis itu. Makanya, Luthfi tak pernah memaksakan perasaannya pada Arraya. Tapi Adnan yang dulu juga sangat berbeda dengan Adnan yang sekarang. Dua Adnan dalam hidupnya ini, seperti dunia yang sudah berbeda alam. Adnan yang dulu adalah lelaki yang baik, ramah, dan sering tersenyum. Tidak seperti sekarang. Adnan yang sekarang hanya memiliki wajah datar, tidak pernah tersenyum, apalagi bersikap baik pada Arraya. "Kalau malam itu kamu dalam posisi fokus, mungkin Mas Luthfi nggak akan jadi korban sasaran mobil kamu Mas!" Kini keadaan menjadi berbalik. Adnan lah yang kini bungkam. Perihal itu memang salah Adnan sepenuhnya. Adnan yang tidak berhati-hati saat mengemudi. Hingga akhirnya menyeret nyawa orang lain dalam kecelakaan yang ia ciptakan. Adnan menelan salivanya. Kedua tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Ia membalas tatapan nanar Arraya dengan tatapan dingin miliknya. Ia tahu jika saat ini memang ia sudah keterlaluan pada Arraya. Tapi biarlah, ia justru ingin gadis itu membencinya. Tak tahan dengan dirinya, sampai gadis itu sendiri yang pada akhirnya menginginkan perceraian dengannya. "Itu bukan salahku lagi. Dari awal aku ingin bertanggung jawab secara hukum, tapi orangtua kita yang tidak setuju. Aku bahkan rela mendekam seumur hidup daripada menanggung beban pernikahan sama kamu!" Arraya mengusap bulir demi bulir air matanya. Air mata sedihnya karena mendengar kata-kata suaminya yang terus saja merobek hatinya. Seperti selembar tisu yang terkoyak karena disiram oleh air. "Tega kamu Mas bicara seperti itu sama aku? Aku ini istri kamu. Haruskah kamu selalu bicara jahat seperti ini?" "Arraya!" bentaknya. Arraya sampai memejamkan matanya karena berjengkit kaget. "Berhenti mengungkit soal kamu adalah istri sahku di sini. Kamu perlu memahami dengan benar, bahwa hubungan kita tidak seperti yang tertulis di buku nikah!" Berapa banyak lagi rasa sakit yang ingin Adnan berikan utuk Arraya? Berapa banyak lagi kawah sabar yang harus Arraya perlebar untuk Adnan? "Sudah cukup, hentikan pembicaraan kita ini." Suara Adnan mulai memelan. Ia menarik napasnya perlahan dan mengembuskannya. Mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tak sampai menyakiti Arraya lebih banyak lagi. Tapi mau dikata apa pun, Adnan memang telah banyak menyakiti Arraya. Arraya langsung masuk ke dalam kamarnya saat Adnan sudah pergi menjauhinya masuk ke dalam kamar. Ia duduk tepat di depan pintu kamarnya dengan memeluk kedua lututnya. Bahunya terguncang. Tubuhnya bergetar. Apa salahnya hingga Adnan memperlakukannya dengan hina seperti itu? *** Adnan membanting tubuhnya di kasur. Adnan benar-benar tidak mengerti ada apa dengan dirinya saat ini. Melihat wajah Arraya selalu saja menyulut emosinya. Padahal Adnan tahu, Arraya adalah gadis yang baik. Dan dengan sikapnya saat ini, Adnan merasa dirinya seperti pria b******k yang berkelakuan seperti setan. Kerjaannya membentak, memarahi, menyalahkan, dan menyudutkan Arraya. Selalu, setiap saat. Seolah semua ketetapan takdir Tuhan padanya ia anggap sebagai kesalahan mutlak Arraya. Adnan beranjak duduk dan mendesah panjang. Ia mengacak rambutnya frustasi. Sungguh, ia sendiri sangat tidak mengerti dirinya. "Itu bukan salahku lagi. Dari awal aku ingin bertanggungjawab secara hukum, tapi orangtua kitalah yang tidak setuju. Aku bahkan rela mendekam seumur hidup daripada menanggung beban pernikahan sama kamu." Adnan mendesah panjang mengingat kalimatnya untuk Arraya, tadi. "Bodoh," cibir Adnan pada dirinya sendiri. "Harusnya dari awal gue lebih berusaha buat ngebatalin pernikahan ini. Karena dengan begitu, gue nggak akan pernah sakitin hati dia lebih jauh lagi." Kini memang semuanya jadi serba salah. Di lain sisi Adnan tidak mencintai Arraya. Ia juga tidak ingin menikah dengan gadis itu. Tapi di lain sisi, Adnan sangat sadar dan masih ingat dengan jelas bagaimana hubungan baiknya dengan Arraya semasa kuliah. Lalu bagaimana dengan sekarang? Nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi. Ia dan Arraya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Tapi entahlah, semuanya seakan menjadi lebih rumit dari awalnya. Kalau ini terus berlalu, Adnan yakin, ia hanya akan memberikan luka yang lebih parah dari ini untuk Arraya. Semenjak menikah, Adnan bahkan tak pernah melihat wajah Arraya yang menyunggingkan senyum. Apa yang Arraya katakan selalu salah dimata Adnan. Apa yang Arraya lakukan seolah salah semuanya. Tidak pernah ada yang benar. Karena memang seperti itulah Adnan memandang Arraya. Hubungan teman yang pernah terjalin di masa lalu bahkan tak membuat Adnan membuka sedikit hati untuk Arraya. "Afifah ... Aku harap kamu segera siuman dan sehat kembali. Aku akan kembali padamu dan menikah denganmu. Apa pun yang terjadi, kita akan menikah dan hidup bahagia bersama." Adnan menjatuhkan tubuhnya lagi ke kasur. Menutup mata dengan lengan besarnya. Mengingat kekasihnya, bulir air mata mengalir dari sudut matanya. Biarkan. Biarkan sekali ini Adnan bahagia dengan keputusan yang hendak ia pilih. Dulu, Adnan pernah jatuh karena cinta. Dan kali ini Adnan tak pernah mau jatuh lagi akan perasaan yang sejenis. Untuknya melupakan Alya di masa lalu, adalah hal terberat untuk Adnan. Dan jika diminta untuk melupakan Afifah saat ini, lebih baik bunuh saja Adnan. Rasanya itu lebih baik, daripada merasa sakit yang perlahan menggerogoti hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN