09 | Usaha Seorang Istri

2020 Kata
Pagi ini, Arraya membantu Bibi Ira di dapur untuk memasak. Ia sudah memutuskan untuk melupakan kejadian menyakitkan semalam. Semua yang sudah terjadi tak dapat diulang. Sekarang, Arraya hanya perlu maju ke depan. Menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusannya. "Non, nggak papa? Muka Non pucet, loh. Bibi takut Non Arraya sakit." Arraya menoleh dan memberikan senyum simpulnya pada Bi Ira. "Aku nggak papa, Bi. Lagian aku mau bantu Bibi buatkan sarapan untuk Mas Adnan." "Tapi muka Non pucet. Non pasti lagi sakit, kan?" Arraya menggeleng lagi. "Nggak, Bi. Aku nggak sakit kok. Aku sehat," ucap Arraya dengan memberikan tawa pelan pada Bi Ira. Meyakinkan Bi Ira kalau ia dalam kondisi baik-baik saja. Walaupun kepalanya memang sedang sangat pusing. "Jangan-jangan Non Arraya udah hamil ya?" mendengar kalimat antusias Bi Ira membuat Arraya tersenyum miris. Bagaimana mungkin hamil, disentuh suaminya saja ia belum. "Belum atuh, Bi. Doakan saja ya, semoga disegerakan sama Allah." Bi Ira mengaminkannya. Arraya pun sama. Ia bahkan mengucap aamiin berulang kali di dalam hati, walau rasanya tidak akan pernah mungkin terjadi mengingat apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Adnan. Keduanya kembali melanjutkan acara memasak. Sesekali Arraya menggali informasi mengenai kebiasaan Adnan jika berada di rumah. Apa yang lelaki itu sukai dan apa saja hal-hal yang tidak disukai. Hingga Arraya mendengar suara langkah kaki dari atas, ia menolehkan kepalanya. "Mas Adnan!" panggilnya. Adnan sempat berhenti di anak tangga ketiga dari atas. Ia juga menoleh dan melihat sosok Arraya sedang berada di dapur. Apa yang gadis itu lakukan di dapur? Bukankah sudah pernah ia katakan untuk tidak perlu repot membantu pekerjaan pembantu? Dan ada apa dengan ekspresi gadis itu? Tersenyum? Arraya tersenyum pada Adnan? Apa Adnan bermimpi? Bagaimana bisa gadis itu tersenyum setelah mereka berdebat hebat semalam? Bukankah semalam gadis itu menangis karenanya? Bukankah semalam ia sudah kelewat menyakiti gadis itu? Lalu kenapa kini gadis itu malah tersenyum ke arahnya? "Mas, sini sarapan." Adnan semakin tertegun mendengar suara lembut itu kembali menyapa pendengarannya. Ia menyadarkan dirinya dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Adnan berhenti di samping meja makan. Ia juga sudah membawa tas kerja dan kunci mobilnya. Bersiap untuk berangkat kerja pagi ini. Adnan menatap isi meja makan sesaat. Ada bubur ayam dan juga sandwich dengan isi daging asap dan sayur. Ada juga teh hangat dan s**u putih. Adnan akui, ia tergiur dan merasa kelaparan saat ini. "Aku langsung ke kantor. Ada meeting pagi." Rupanya gengsi terlalu menguasai. Adnan bohong. Tidak ada yang namanya meeting pagi. Ia hanya sedang menghindari Arraya. "Kalau gitu Mas bawa ini ke kantor ya?" Adnan melirik kotak bekal yang ternyata sudah disiapkan oleh Arraya. Lagi-lagi Adnan bertanya dalam kepalanya sendiri. Ada apa dengan Arraya? Kenapa gadis itu masih saja melakukan semua itu padanya? "Tidak perlu repot-repot." "Nggak repot kok, Mas. Aku bantu bawa ke mobil ya?" "Aku bilang tidak usah, Arraya." Arraya sontak mengedipkan mata karena mendengar suara Adnan yang mulai meninggi. Ini masih pagi. Apakah pagi di rumah ini juga akan dimulai dengan sebuat perdebatan? Merasa tidak perlu berpamitan pada Arraya, Adnan langsung melangkah keluar rumah. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Arraya yang menunduk lesu dengan menatap kotak bekal di tangannya. Adnan merasa bahwa Arraya tidak perlu melakukan semua itu. Karena pada akhirnya mereka akan berpisah, jadi lebih baik untuk tidak saling mencampuri urusan satu sama lain. Tapi Arraya, ia hanya ingin melakukan tugasnya. Melayani dan taat pada suaminya dalam waktu yang ia miliki. Ia ingin menyerahkan hidupnya pada Adnan. Taat pada Adnan. Karena bagaimanapun, ia menikah disaksikan oleh Allah dan para malaikat-Nya. Tetapi jika Adnan bersikap seperti ini, apakah Arraya tetap harus menaatinya? *** Adnan turun dari mobilnya dengan wajah masam. Sulit untuknya mengeluarkan senyum ketika hati dan kepalanya sedang saling berseteru. Sulit untuknya bersikap ramah. Kepalanya seakan mau pecah. Apalagi jika memikirkan sikap Arraya padanya pagi ini. Senyum gadis itu. Apa yang sebenarnya sedang direncanakan gadis itu? Adnan benar-benar tidak mengerti. "Adnan!" Tangan Adnan yang hendak meraih gagang pintu ruang kerjanya terhenti begitu mendengar panggilan untuknya. Adnan menoleh. Detik berikutnya ia mendengus pelan dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Kakak satu-satunya, Bima, muncul di kantornya dengan senyum yang memuakkan di mata Adnan. "Adnan! Ih tu anak!" Bima yang tadi memanggil Adnan pun langsung melangkah cepat menuju ruang kerja Adnan. ia mengambil alih dengan membuka pintu ruang adiknya cepat cepat dan menepuk b****g Adnan. Membuat Adnan memutar tubuhnya cepat dan melototkan matanya. "Ih! Apaan sih! Pelecehan tahu gak lo!" "Ya elah, Nan. Masih pagi, udah cemberut aja sih muka lo." "Diem! Gue lagi nggak mood buat berdebat." Bima tertawa. Sejak dulu, adiknya itu masih saja jutek dan dingin bicara padanya. Ya walaupun Bima tahu alasan Adnan bersikap seperti ini padanya sejak dulu. Memang, sejak kecil Adnan lah yang menanggung semua permintaan kedua orangtuanya. Diatur sana sini. Sedangkan Bima, Bima adalah anak yang benar-benar merasa bodo amat dan cuek. Apa pun ancaman dari papanya, tak akan pernah mempan untuk Bima. Bima selalu memilih jalan hidupnya sendiri. Berbeda dengan Adnan, ia selalu berhenti dan akhirnya menerima semua perintah papanya karena ancaman. Sejak kecil Adnan tidak pernah melakukan apa pun sesuai keinginannya. Bahkan untuk sekolah, kuliah, pilih jurusan, semuanya diatur oleh papanya. Adnan baru mulai merasa bebas saat lulus ia bekerja di perusahaan impor ekspor bersama Bima dan Althaf. Tapi papa mereka mengirimkan surat pengunduran diri sepihak tanpa Adnan ketahui. Dan akhirnya, Adnan terjebak di perusahaan keluarga mereka. "Oke to the point aja ya. Gue mau tanya sama lo, ada apa dengan lo waktu pertemuan keluarga semalam?" Adnan berdecih santai. Sudah ia duga Bima akan menanyakan hal itu. Kakaknya selalu saja kepo soal masalah pribadinya. "Nggak usah kepo karena gue nggak akan jawab." "Lo baik-baik aja kan sama Arraya?" Adnan melonggarkan ikatan dasinya. Sesak karena pertanyaan Bima. "Kalau aja lo nggak hadir semalam, buat apa kepo urusan orang? Urusin urusan lo sendiri." "Gue masih abang lo. Berhak untuk ikut campur ketika keadaan lo nggak baik-baik aja." Adnan menyeringai. "Basi," sindirnya. "Waktu Papa maksa nikahin gue juga lo nggak ada pembelaan apa pun." "Ya karena gue juga sependapat sama Papa atas masalah itu. Nikahin Arraya adalah cara yang paling tepat sebagai bukti tanggungjawab lo untuk dia. Lo udah nabrak calon suaminya, di mana besoknya adalah hari pernikahan mereka. Walau terdengar gila, tapi ini real terjadi dalam hidup lo." "Harusnya lo tau kalau bukan itu alasan utama Papa. Dari dulu juga Papa selalu ngelakuin hal yang menguntungkan buat dia. Dan cara agar Papa bisa lakuin semua yang Papa mau adalah dengan nikahin gue secara paksa sama cewek yang nggak gue cintai." "Dan selain itu lo harusnya ngerti kalau itu adalah cara bijak untuk nggak nyakitin adik kelas lo yang ditinggal suaminya meninggal dunia," balas Bima tak mau kalah. Adnan menghela napas panjang. "Dan harusnya lo bisa ngerti seberapa besar cinta gue untuk Afifah! Afifah adalah orang yang bisa buat gue move on dari masa lalu, Bim. Kenapa lo harus selalu buat gue berada di posisi terima semua permintaan konyol Papa, sedangkan lo dengan bebasnya nikah sama Rossa? Kalau lo aja nolak perjodohan lo dulu, kenapa lo sekarang malah minta gue terima semua ini?" "Nan, jangan bahas masa lalu." "Gue nggak habis pikir kalau ternyata lo sama egoisnya sama Papa." "Gue cuma pengen yang ter-" "Terbaik lo bilang? Terbaik menurut lo dan Papa, belum tentu terbaik buat gue," ucap Adnan penuh penekanan. Bertepatan saat Bima ingin menimpali perkataan Adnan, suara ketukan dari pintu membuat keduanya menoleh. Warna berdiri di depan pintu kaca dengan membawa sebuah berkas di tangannya. "Mohon maaf, Pak, saya akan kembali lagi nanti." "Tidak perlu, orang di depan saya ini juga sebentar lagi akan angkat kaki dari sini," ujar Adnan sarkasme. "Sadis banget lo," sindir Bima. "Lebih baik lo keluar sekarang dan balik ke kantor lo sendiri." Bima meringis dan menghela napas panjang. Akhirnya mau tidak mau ia harus undur diri dan kembali ke kantornya. *** Adnan menghela napas panjangnya begitu keluar dari mobil. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Agenda meeting hampir sehari penuh membuat pikiran dan juga tenaganya terkuras. Beban pekerjaannya pun bertambah seiring dengan meeting RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Banyak sekali hal yang perlu ia persiapkan untuk peralihan jabatan. Apalagi beberapa pekerjaan yang masih perlu ia selesaikan sebelum digantikan oleh pengganti dirinya nanti. Adnan membayangkan saat pulang Bi Ira sudah menyiapkan air hangat untuknya mandi dan minuman hangat. Sayangnya, ia lupa memberitahukan Bi Ira kalau ia akan pulang sedikit larut. Sedangkan untuk memberitahu Arraya, Adnan sama sekali tidak ingin memikirkannya. Ia tidak mau berhutang budi pada Arraya. Bahkan setelah perdebatan panjang mereka kemarin malam, Adnan yakin kalau Arraya pasti akan mengabaikannya. Adnan membuka knop pintu rumahnya. Ruang tamunya ternyata masih terang benderang. "Mas Adnan," suara lembut itu membuat Adnan menoleh dengan cepat. Di atas sofa, di depan tv, berdiri Arraya yang kini sedang melangkah menghampirinya. Dalam hati Adnan bertanya-tanya, untuk apa gadis itu masih terjaga dan belum terlelap? "Kenapa kamu belum tidur?" tanya Adnan dengan nada yang pelan. Tak ada intonasi tinggi seperti biasanya. Tapi bukan karena maksud lain, semua itu karena Adnan sudah terlalu lelah bicara hari ini. "Aku nunggu Mas Adnan pulang." Adnan terperangah saat gadis itu meraih tangan kanannya dan menciumnya. Dengan cepat Adnan menarik tangannya lagi dari genggaman Arraya. "Aku udah siapkan air hangat untuk Mas mandi. Mas pasti lelah, jadi silakan beristirahat." Arraya langsung bergegas pergi masuk ke dalam kamarnya setelah menyampaikan pesannya. Tak lupa senyum tipis ditampilkan gadis itu. Membuat Adnan semakin bertanya-tanya sekaligus penasaran. Selesai membersihkan tubuhnya, Adnan keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terlilit handuk berwarna putih. Ia sudah terlalu mengantuk saat ini. Mandi dan keramas pun ternyata belum mampu menyegarkan tubuh Adnan. Kakinya mendekat ke arah ranjang. Sudah dapat dipastikan, tak sampai lima menit ia merebahkan tubuhnya di atas kasur itu ia pasti akan langsung tertidur. tapi saat Adnan ingin melakukan itu, ia melihat ada nampan berisi teh hangat dan juga roti dengan isi selai keju. "Sejak kapan ada di sini?" Adnan mengerutkan keningnya tipis. Ia mengangkat cangkirnya dan menyeruputnya perlahan. Rasanya pas. Sesuai seleranya. Padahal selama ini Bi Ira sering sekali kurang pas dalam membuatkan minuman untuknya. Entah kadang yang kurang manis atau terlalu kemanisan untuknya. Yang jelas, teh hangat yang ia minum saat ini sangat sesuai seleranya. "Arraya?" tiba-tiba Adnan teringat Arraya. Sejak ia masuk ke dalam rumah, ia memang sudah tidak melihat Bi Ira. Hanya ada Arraya yang masih terjaga dan menunggu dirinya. "Apa dia sudah berani masuk lagi ke dalam kamar ini?" Adnan menggeleng. Ia memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Ia segera menghabiskan the hangat itu dan segera beranjak tidur. masih ada hari esok. Ia harus menyiapkan diri untuk ikut meeting BOD (Board of Director) besok. *** Pagi ini, seperti hari-hari sebelumnya. Arraya tidak pernah absen membantu Bi Ira membuatkan sarapan untuk Adnan. Walaupun Adnan masih enggan makan dengannya. Walaupun Adnan masih enggan makan hasil masakannya. Walaupun Adanan tetap diam dan tanpa banyak bicara padanya, Arraya tetap berusaha. Memasak, mengantar kepergian Adnan, menyambut kepergian Adnan, dan menyiapkan air hangat setiap kali Adnan pulang. Dan seperti saat ini Arraya mengikuti langkah kaki Adnan sampai ke batas pintu. "Kamu tidak perlu antar sampai pintu. Aku masih tahu jalan," ucap Adnan dengan menatap sekilas wajah Arraya. Tumben sekali, Adnan lihat kalau Arraya memakai baju dengan warna yang terang. Biasanya, istrinya itu hanya memakai baju berwarna gelap atau warna dasar jika berada di dalam rumah. Tapi ini, Arraya memakai gamis berwarna peach, membuat kulit gadis itu terlihat lebih bersinar di mata Adnan. Adnan menggeleng. Menepis pikiran terakhirnya. "Nggak apa-apa. Arraya suka kalau antar Mas Adnan pergi dari sini. Dengan begitu hatiku akan lebih tenang." Adnan hanya diam. Tak tahu harus mengelak ucapan Arraya seperti apa. "Aku berangkat." Lagi-lagi, Adnan dibuat membatu dengan sikap Arraya yang kembali meraih tangannya. Dikecup punggung tangannya oleh Arraya. Gadis itu tersenyum seraya berkata. "Mas hati-hati di jalan, dan semoga pekerjaannya lancar hari ini." Semakin hari, Arraya semakin mengerti caranya membuat Adnan diam seribu bahasa. Walaupun Adnan mengelak, Adnan menolak, Arraya tetap menjalankan tugasnya. Ia selalu membantu dan melayani Adnan dengan baik. Dan Adnan sangat menyadari hal itu. "Nanti malam aku pulang malam. Kamu tidur duluan aja, tidak perlu menunggu." Belum sempat Arraya menjawab, Adnan sudah langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Arraya yang menatap kepergiannya dengan sendu. "Wa'alaikumsalam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN