"Arraya?" Arraya sontak berdiri karena kaget. Dengan gelagapan gadis itu mencari kerudung hitam tapi tak juga menemukannya. Akhirnya ia menyerah dan memberanikan diri menatap lantai marmer kamar dengan kepala tanpa hijab. Rambut panjang hitamnya, ia biarkan tergerai, menjuntai hingga perut di hadapan Adnan yang kini sudah halal untuknya. "Ya..ya, Kak?" Hening. Arraya tak mendengar Adnan melanjutkan kalimatnya. Tapi saat ia mendongakkan kepala, ia malah melihat Adnan sedang memperhatikan dirinya dengan pandangan yang lekat. "Kenapa, Kak?" tanya Raya sekali lagi. Arraya meremas ujung baju tidurnya karena tak kuasa menahan debaran jantung yang semakin menggebu hebat. Ini adalah malam pertamanya. "Tidak jadi," jawaban yang singkat. Tidak seperti kepala Arraya yang malah memikirkan hal ane

