Terlihat jelas, seorang perempuan terjatuh di kolam. Melompat dan berenang sontak kulakukan tanpa berpikir panjang. Kacamata dan kemeja putih yang kukenakan kubuka. Baju dalam putih yang ketat akan mempermudahku untuk berenang.
Tatapanku buram di dalam air. Syukur saja, perempuan yang tenggelam tadi memakai dress berwarna merah. Mudah saja bagiku untuk menemukannya dan membawanya ke tepi. Di tepi, semua orang langsung mengerumuniku. Mereka nampak khawatir. Aku langsung mengambil kacamata.
“Apa kalian baik-baik saja?” mulai terdengar suara riuh di sekelilingku. Waktu yag begitu terbatas membuatku tidak dapat berkata apa-apa. Semua orang hanya melihat kami yang jelas-jelas basah kedinginan. Tidak ada yang coba membantu. Aku dengan sigap membawa perempuan yang tidak kuketahui identitasnya ini masuk ke dalam mobil.
Di rumah sakit,aku lagi-lagi mengangkat perempuan itu, menyusuri Lorong-lorong berbau, Perawat yang melihat kami langsung mengarahkan kami menuju ke unit gawat darurat. Suasana begitu mencekam. Aku mempertaruhkan nyawa orang yang bahkan tidak kukenal sama sekali. Aku berharap dia baik-baik saja.
Sementara perempuan dress merah itu ditangani, aku menggosok kedua telapak tangan. Pakaianku masih basah.
Trelelet. Handphoneku berbunyi. Untung saja, dulu aku membeli handphone waterproof.
“Halo, yah bibi ada apa?” tanyaku kepada bibi Nuri.
“Semoga kamu siap menerimanya nak.” Bibi Nuri terisak diseberang sana.
Aku tertegun. “Ada apa Bi?” bibi Nuri masih terisak. Dia telah menangis sejadi-jadinya.
“ADA APA INI?” emosiku meninggi.
“Ayahmu kecelakaan.”
Deg. Jantungku menciut. Namun aku masih dapat bersikap tenang.
“Dimana dia sekarang?”
“Kata polisi dia berada di rumah sakit Premier.”
Aku memutuskan hubungan.
Kebetulan. Sekarang aku berada di rumah sakit Premier. Aku langsung masuk dan menanyakannya ke beberapa perawat. Hingga kutemukan jawaban yang jelas. Dia berada di UGD. Aku masuk perlahan. Kakiku gemetar ketika kutemukan kepala ayah berlumuran darah di dalam sana. Napasnya tersengal-sengal. Namun belum sempat kusentuh, perawat membawaku keluar.
Diluar aku hanya duduk terpaku. Seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sesekali kuperhatikan dia dari luar melalui kaca tembus pandang. Dokter mulai bekerja, entah apa yang dilakukannya kepada ayah. Aku berharap ayah baik-baik saja, hanya dia satu-satunya orang yang mengerti diriku sekarang. Juga Ando.
Dari arah pintu masuk, nampak bibi Nuri lari tersengal-sengal, sendalnya putus. Tasnya dia genggam seadanya. Seakan-akan kesan keanggunannya menghilang, tidak seperti biasa.
Bibi Nuri kemudian duduk di sampingku. Tidak berbicara banyak. Dia mengerti keadaanku sekarang. Dia tidak ingin menambah beban. Tidak hanya bibi Nuri, bibi yang lain juga mulai berdatangan. Mereka hanya tinggal berdiri di depan ruangan.
Semuanya khawatir.
Dokter keluar dari ruangan.
“Bagaimana ini Dok?” tanyaku penuh harap.
“Kondisinya begitu parah, dia membutuhkan darah yang begitu banyak, operasi juga tidak bisa dilanjutkan, dia sudah kehilangan banyak darah,” Dokter pasrah.
Aku mengguncangkan tubuh dokter “Selamatkan dia Dok, berapa pun yang kau minta, satu milyar,dua, tiga, atau 100 milyar?” Namun, dokter hanya menggelengkan kepala. Tanda bahwa uang tidak lagi berharga untuk menggantikan nyawa.
Aku frustasi. Kulangkahkan kakiku ke dalam. Disusul anggota keluargaku yang lain.
Aku memegang tangan ayah perlahan. Dia hanya tersenyum, nyawanya kini sudah berada di dua sisi dunia. Suara isak tangis bibiku mulai mengisi heningnya ruangan. Suara yang palsu.
Tidak hanya itu, di sebelah kami walau jaraknya agak jauh,dan diselimuti kain berwarna putih, nampak jelas tiga orang tua disana. Keluarga perempuan dress merah yang kutolong di pesta tadi. Mereka nampaknya mulai risih. Emosi mulai meninggi, aku hanya mendengar kalau perempuan itu perlu melakukan cangkok hati secepatnya. Ternyata, dapat kutarik kesimpulan bahwa dia jatuh ke kolam bukan karena terpleset. Tetapi, karena hatinya yang mendadak sakit hingga kehilangan kesadaran diri dan jatuh ke dalam kolam yang amat dalam itu.
“Bi, bisakah kalian meninggalkanku bersama ayah disini?” kataku memohon.
Semua bibiku mulai meninggalkan tempat dan keluar. Aku hanya berdua bersama ayah di dalam ruangan. Kuelus rambutnya perlahan. Darah nampak mengalir dari pelipisnya. Bukan hanya itu, matanya kini sayup-sayup mulai tertutup, diiringi air mata yang jatuh di pelupuk wajahku.
“Maafkan ayah nak!”
Aku mengangguk perlahan memeluk ayah.
Aku masih duduk sendiri disini. Di atas nisan ayah. Ketika semua orang sudah pergi berjam-jam yang lalu. Hujan rintik menemaniku. Aku menatap langit, meratapi nasibku kedepannya. Seorang anak yang harus menanggung kehidupan keluarga besarnya kelak.
Aku masih ingat kata-kata ayah kemarin saat kami dalam perjalanan menuju sekolah. Aku tidak tahu jika itu adalah pesan-pesan yang ingin disampaikannya sebelum dia meninggal dunia. Dia mungkin punya firasat dia akan pergi. Kemudian, meyakinkanku untuk menggantikannya. Aku terus menyalahkan diriku karena tidak menyadarinya kemarin. Aku begitu bodoh, sangat-sangat bodoh.
Hujan sudah berhenti. Tetapi, aku melihat dengan jelas hujan masih turun di batu nisan ayah. Ada apa gerangan? Tubuhku sudah tidak terasa basah lagi. aku mendongak keatas. Sebuah payung berwarna biru cerah melindungi tubuhku. Seorang kakek tua memegang payungnya.
Tunggu dulu. Aku mengamati dengan jelas wajahnya. Dia adalah kakek kandungku, ayah dari ayahku. Semuanya terasa mimpi. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengannya dan sekarang dia berada disini. Aku mencubit diriku, berharap jika kepergian ayah juga adalah mimpi. Namun, sia-sia saja, aku masih merasakan sakit hasil cubitanku sendiri, juga terlihat jelas bekasnya berwarna merah.
“Mengapa kakek baru datang sekarang?” aku bertanya tenang.
Kakek mengelus batu nisan. “Kupikir, tidak akan ada orang yang akan mengingatku setelah pengasingan selama satu dasawarsa ini, kecuali ayahmu.” Kakek berkata seolah ada penekanan pada kata ‘ayahmu’.
“Apa maksudnya ini? Kakek datang sekarang dan mengapa kakek tidak datang di rumah hasil jerih payah kakek sendiri? Terus, kakek bersembunyi seolah tidak ada yang mengingat masa lalu? Dan mengapa kakek bilang hanya ayah yang mengingat kakek? Bibi juga bilang kakek ada di rumah sakit jiwa?” tanyaku bertubi-tubi.
“Ceritanya Panjang,” kakek berdehem sejenak dan melanjutkan perkataannya lagi. “Sepuluh tahun yang lalu, sejak nenekmu pergi kakek mulai merasakan firasat buruk. Hampir tiap malam kakek di teror, suara bising dari kaca jendela, gelas yang pecah bahkan tulisan darah di teras rumah. Seakan-akan ada pembunuhan berencana yang mereka rencanakan untuk membunuh kakekmu ini dan yang paling buruknya lagi, banyak orang yang menganggap bahwa kakek adalah orang gila. Kecuali ibumu, dia meyakinkan ayahmu bahwa aku baik-baik saja, kemudian ayahmulah yang meyakinkan saudaranya bahwa aku sudah berada di rumah sakit jiwa. Padahal dia membawaku ke vila dekat kebun teh di Malang dan setiap harinya ayahmu akan mengunjungiku sehabis pulang kerja. Sedangkan ibumu, dia datang setiap minggu membawa beberapa pancake kesukaanku juga mengenalkanku akan cokelat panas. Itulah mengapa saat ini aku sangat suka dengan cokelat panas karena itu mengingatkanku dengan ibumu. Namun, beberapa tahun kemudian kondisi kesehatannya kian hari kian memburuk, hingga aku tidak pernah makan pancake lagi karena hanya ibumulah yang tahu cara membuatnya. Hanya tersisa ayahmu, namun hari ini menjadi hari paling sedih karena kakek sudah kehilangan hampir seluruh harapan. Kalau saja kakek lebih duluan pergi dari mereka berdua mungkin itu lebih baik. Namun, sedikit dari harapan itu ada dalam dirimu, Andi. Kamu tak perlu mengunjungiku setiap hari. Tapi ingatlah aku, bahwa aku masih ada dan menjadi secuil bagian dalam hidupmu.” Kakek tertunduk, terlelap dalam tangisnya.