FOTO 4 : Pemakaman

1100 Kata
Aku mengelus pundak kakek dan membantunya berdiri. “Tidak perlu khawatir Kek. Aku akan tetap menemani kakek. Kakek tahu, sesungguhnya aku kehilangan harapan untuk hidup. Hampir saja. Tetapi Allah maha adil, dia kembali mempertemukan kita untuk dapat melindungi satu sama lain. Semoga kakek dapat memberiku nasihat dan terus menyemangatiku.” “Ya, tentu saja. Kepergian ayahmu mungkin akan membuka lembaran baru bagi keluarga kita yang rakus akan harta. Oh iya, kata-katamu barusan mengingatkanku dengan ayahmu sepuluh tahun lalu, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Aku tertawa kecil mendengar perkataan kakek. Dia betul-betul tahu cara menghiburku. “Oh iya, bagaimana dengan saudara kembarmu?” “Ando? Fisiknya semakin memburuk. Dia semakin lemah dan tidak terawat, semenjak ibu pergi. Satu hal yang kutakuti, bagaimana caranya memberitahukan Ando bahwa ayah sudah pergi?” “Benarkah, kakek berharap kamu menjaganya dengan baik. Ando akan mengerti suatu hari nanti.” Suasana lengang beberapa saat. “Andi, kamu juga perlu tahu bahwa bibimu itu licik, tidak punya rasa belas kasih. Mereka bisa saja berbuat yang tidak-tidak kepada Ando juga dirimu.” Kakek geram. Setelah itu, aku mengantar kakek pulang karena hari sudah malam. Matahari sudah terbenam beberapa menit lalu. Adzan maghrib mulai dikumandangkan. Kami shalat terlebih dulu kemudian melanjutkan perjalanan. Hingga tibalah kami di vila perkebunan teh di Malang. Kakek turun dari mobil. “Kamu tak mau ikut turun Cu?” Aku menggelengkan kepala. “Lain kali aku akan datang Kek. Kita akan bercerita banyak besok. Kalau aku tidak pulang sekarang, bibi pasti akan curiga.” Sebelum beranjak pergi dari tempat yang begitu sejuk ini, aku dan kakek saling bertukar nomor ponsel. Dia ingin memastikan aku baik-baik saja setelah apa yang terjadi. Ketika kutatap mata kakek terakhir kali, rasa tidak tega menghampiriku karena meninggalkannya sendirian di vila. Tetapi, dia juga sudah terbiasa bukan? Sekitar hampir tiga jam perjalanan, tibalah aku di rumah, mulai kutatap para bibi-bibiku menonton acara di TV. Sungguh, bukankah ini masih hari berkabung, tidak ada rasa sedih sedikit pun dalam diri mereka. Lupakan saja. Hari ini menjadi hari yang terpanjang dalam hidupku. Kulonggarkan dasi, menutup mata. Sebelum terlelap, wajah ayah yang tersenyum terus ada dalam benakku. Perlahan air mata mengalir, membasahi wajahku. Beberapa hari kemudian, aku tidak keluar rumah, tidak ke sekolah. Hanya tinggal di kamar, menerima telepon kakek dan melamun sepanjang hari. Aku terus menyalahkan diriku atas apa yang terjadi. Matahari pagi bersinar terang. Semalam aku lupa menutup tirai hingga cahaya matahari betul-betul menyinari wajahku. Cuaca hari ini begitu cerah, disertai awan-awan menggumpal seperti kapas yang terhampar di langit biru. Hari yang begitu indah untuk memulai hidup baru. Aku mendapatkan kepercayaan diriku setelah beberapa hari merenung. Aku mulai mendapatkan energi positifku, meskipun tidak sepenuhnya kembali. Aku tidak ingin ayah melihatku bersedih, dia juga akan ikut sedih nanti. Mulai hari ini, aku menggantikan posisi ayah di perusaahan. Aku melakukan aktivitas pagi seperti biasa, berolahraga, kemudian mandi dan berganti pakaian. Hanya saja, pakaian yang kukenakan bukan lagi pakaian sekolah. Tetapi, pakaian kerja dengan kemeja dan dasi yang menghiasinya, ditambah jas. Sebenarnya hari ini aku tidak ingin pergi ke kantor. Namun, supaya bibi-bibiku yang lain tidak curiga, aku memakai pakaian seperti ini. Mereka akan berpikir aku singgah di perusaahan setelah mengajak Ando berjalan-jalan. Mulai hari ini aku juga memutuskan untuk melanjutkan sekolah dengan home schooling saja. Dua kali seminggu. Aku pergi melewati teras belakang. Kukatakan pada bibi Nuri bahwa aku akan mengajak Ando berjalan-jalan hari ini. dia betul-betul excited. Tetapi sungguh, andaikan dia tidak mengidap autis dia tidak akan bahagia seperti itu. Bahagia yang begitu luar biasa. Kami berjalan-jalan, awalnya aku mengajaknya berkeliling kota kemudian melanjutkan perjalan ke vila di kebun teh. Mengunjungi kakek seperti janjiku kemarin. Itulah mengapa aku membawa Ando dengan cara sembunyi-sembunyi agar bibi-bibiku tidak curiga. Bisa saja mereka mengirim mata-mata, mengetahui keberadaan kakek kemudian meminta harta warisan. Aku berkhayal tinggi. Memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua jam lebih. Tibalah kami di vila berwarna putih. Cuaca disini begitu dingin, ditambah mendungnya awan pertanda hujan akan tiba. Aku menarik tangan Ando, memasuki rumah kakek. Sedikit ada paksaan untuk menarik tangan saudaraku ini. Kakek sudah menunggu di depan pintu menyuruh kami masuk. Pintu ditutup bersamaan dengan hujan deras yang datang. “Aku tidak percaya, Andoku sudah besar.” Kakek nampak bersemangat. “Duduklah! Aku akan membuat cokelat panas untuk kalian,” tambah kakek. Ando masih merasa takut, dia sesekali berteriak tidak jelas. Beginikah yang bibi Nuri rasakan setiap harinya mengurusi Ando? Kakek tiba dengan tiga gelas coklat panasnya ditemani biskuit. Ando langsung saja mengambil biskuit itu 4 atau 5. Dia makan berantakan. Kakek terkekeh-kekeh dibuatnya. “Ando, apa yang kau lakukan? Kakek kerepotan membersihkannya.” Ando mengabaikan perkataanku dia hanya duduk di sebelah kakek dan menyantap biskuitnya. Kakek mengelus rambut Ando. “Biarlah Andi, lagi pun kakek akan senang kalau melihat tingkahnya yang lucu ini.” Kakek terkekeh-kekeh lagi sampai air matanya keluar. Aku tersenyum. Suasana hening sejenak. “Kakek tak pernah sebahagia ini. Anak ini punya kelebihan Andi, jangan kau sia-siakan dia,” pesan kakek. Tiit, tiiit. Telepon genggamku berdering. “Halo dengan siapa?” kataku pada orang di seberang sana. “Ini dari kantor polisi. Kami ingin menyampaikan sesuatu kepada anda tuan Aharon!” ‘Aharon’ adalah sebutan laki-laki yang memiliki kekuasaan tertinggi di rumah kami. Kakek yang pertama kali diberi gelar seperti itu, ketika dia mulai berada pada masa jayanya. “Dimana saya bisa menemui anda?” tanyaku sopan. “Saya saja yang kesana tuan!” “Oh jangan. Kalau begitu kita ketemu di alun-alun kota Malang. Kebetulan ada urusan bisnis di kota ini,” jawabku tegas. “Baik pak, saya akan tiba disana kira-kira satu jam!” Aku menutup telepon. “Kek, ada urusan penting, kalau kakek tidak kerepotan Ando disini untuk sementara waktu.” “Tentu tidak, kakek malah senang.” Aku langsung bergegas keluar. Insting-ku berkata bahwa ada hal penting yang terjadi dalam keluargaku. Polisi tidak akan semena-mena memanggil jika hanya untuk hal sepele saja. Aku tiba di alun-alun dan menunggu polisi datang. Beberapa waktu kemudian polisi yang kutunggu datang lebih cepat dari perkiraanku. Dia menghampiriku dan langsung berjabat tangan. “Mungkin tuan Aharon bisa masuk ke mobilku sebentar. Tak baik berbicara di tempat umum seperti ini,” kata polisi. Aku hanya menurut, polisi sudah ahli dalam hal yang seperti ini. “Tuan, mohon maaf sebelumnya. Kami baru bisa memberitahukan hal sepenting ini dua hari setelah kepergian ayah tuan, Abyad Brigit Aharon. Bukan karena kami memang sengaja atau bagaimana. Hanya saja, kami baru dapat menyelidiki kecelakaan yang dialami oleh ayah tuan” Aku kebingungan, “maksudnya?” “Maksudnya… kepergian ayah tuan adalah hal yang disengaja” “Hal yang disengaja?” Aku bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN