FOTO 13 : Sekolah

1112 Kata
“Pak, bisa bawa aku ke rumah Careline,” kataku sambil mengirim alamatnya melalui smartphone. Ting. Alamatnya terkirim. “Siap Tuan,” jawab pak Tresno, nama supir baru kami. Aku mengamati embun di kaca jendela, mengumpulkan kata-kata. Belok kiri terus ke jalan jambu. Terdengar suara dari handphone pak Tresno. Setelah itu, suasana lengang hingga kami tiba di depan rumah Careline. Bisa keluar? Aku diluar sekarang. Ada yang ingin kubicarakan penting. Kukirim pesan singkat via whatsapp Tunggu bibi membukanya, aku mungkin agak lama menemuimu. Harap bersabar Yah :v Aku tersenyum menerima pesannya. Setelah itu, bibi yang kutemui tempo hari ketika aku mengangkat Careline dalam keadaan tertidur membuka pintu. “Eh kamu? bibi pikir siapa.” Responnya pertama kali. Aku hanya mengangguk, disertai senyum. Aku masuk, menunggu Careline di ruang tamu. Memperhatikan sekeliling rumahnya, juga foto-foto masa kecil. Rumah ini terbilang besar, aku ingat jelas di belakangnya ada kolam renang tempat diadakannya acara malam itu. Sampai disitu saja, kejadian setelahnya malah akan membuatku tidak sanggup mengatakan apa-apa pada Careline. Careline datang, menggunakan piyama, rambutnya diurai begitu saja. Dia sangat manis. Maksudku teh yang dibawanya pasti sangat manis. Aku tersenyum. “Jangan bilang kamu membuatku menunggu lama hanya karena ingin memamerkan hasil dandananmu itu.” Careline tertawa kecil. “Tumben datang kerumah. Apa ada sesuatu? Atau kau ingin mengajakku jalan-jalan. Aku yakin kamu membawa berita gembira bukan? “Aku ingin mengatakan sesuatu,” kataku setelah menyimpan teh hangat yang diberi Careline. Aku menarik napas dalam-dalam. Memperhatikan sekeliling, semuanya nampak tenang, juga bersahabat. Tinggal tunggu beberapa menit lagi semuanya akan berubah. “Apa? Jangan membuatku takut seperti itu Andi. Kamu pikir bisa mengelabuiku lagi dengan sikap lugumu itu. Hahaha… tentu tidak.” “Aku serius Careline. Sungguh!” “Lantas apa? Katakan semuanya.” “Aku butuh waktu untuk mengatakannya. Ini tidak mudah, kau tahu, yang kutakutkan daripada ini adalah kekhawatiranmu,” Careline terdiam. Dia betul-betul siap menerimanya. “Aku akan per…” Aku berhenti. Careline menutup mulutku. “Jangan katakan, kalau itu benar. Jangan pernah mengatakan bahwa kau benar-benar ingin meninggalkanku.” Careline tertunduk, air matanya jelas mengenai suit-ku hingga basah. Aku mendekapnya perlahan. “Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apa pun.” Setelah beberapa menit Careline menangis, suasana lengang begitu lama. “Careline, careline.” Dia tertidur rupanya. Aku kemudian mengangkatnya ke kamar di lantai tiga, setelah bibi menunjukkannya padaku. Ini kali kedua aku mengangkatnya. Apa memang hobinya seperti ini? Tidur. Langkah demi langkah, rasa bersalah terus menghampiriku. Namun, menurutku inilah yang terbaik. Dia bisa mencari orang yang lebih baik daripada aku. Orang yang bisa menjaganya tanpa membuatnya khawatir. Aku menaruhnya perlahan. Takut kalau dia terbangun, berteriak dan meronta-ronta tak terima. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku pergi, langkahku keluar dari rumah Careline entah mengapa terasa begitu berat. Mesir. Aku akan datang. - Aku tiba disini, Kairo. Sebuah kota besar yang dipenuhi dengan aktivitas orang-orang berlalu lalang. Mereka sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang berlari mengejar pencuri, ada yang menuju masjid, ada penjual, anak-anak berlarian, pengemis, orang berkulit hitam. Mirip-mirip Jakarta, hanya saja bangunan disini terlihat berbeda juga suhunya lebih panas lagi disiang hari. Simfoni klakson menderu-deru bersama dengan debu yang melayang-layang di udara. Sebuah taksi lewat. Aku mengulurkan tangan. “Can you bring me to this place ,“ kataku setelah menunjukkan kartu alamat yang kutuju. “Course. But we need long time to this place,” jawabnya menggunakan aksen Amerika. “Where are you come from?” Tambah supir taksi setelah suasana lengang. “Indonesia” “Oh, really? I come from Malaysia but my Mom and Dad from India.” Laki-laki didepanku ini malah terdengar seperti anak muda berusia belasan tahunan. “Jadi kamu pintar Bahasa Melayu?” tanyaku basa-basi. “Aku bahkan pintar bahasa Indonesia. Tetapi, hanya sedikit. Lama aku tinggal di Malaysia. Dulu waktu aku disana aku punya teman orang Indonesia. Waktu masih anak-anak, nah anda kenapa pergi ke Kairo? Disini sangat panas, anda tahu?” Aku hanya membalasnya dengan tertawa kecil, tidak tahu ingin berkata apa. Dia betul-betul pandai bahasa Indonesia. Meskipun terdengar formal. Aku menikmati perjalananku. Menatap keluar. Nampak jelas bangunan kota ini yang didominasi dengan warna cokelat. Ketika kami berada di perempatan jalan, ada polisi yang memandu lalu lintas. Rupanya disini lampu merah belum cukup untuk mengatur kepadatan kendaraan. Kami tiba ditujuan. Seorang laki-laki telah berdiri menungguku . “Thanks,” kataku setelah memberi uang. Supir taksi tersenyum. Kemudian perlahan mobilnya hilang di sudut jalan. “Mohon maaf Tuan. Saya telat menjemput anda di bandara. “Tidak masalah. Lagi pun, saya ingin mencoba sesekali naik taksi,” jawabku kepada orang yang sedari tadi tangannya nampak bergetar ini. “Apakah barang anda sudah siap? Saya telah memilih tempat terbaik untuk anda. Semuanya telah saya urus sebelum bapak tiba. Saya menjamin tidak ada yang mengikuti jejak bapak hingga tiba disini. Keluarga bapak tentu tidak tahu. Semua perusaahan telah kami jamin kemanannya masih milik bapak. Perusaahan juga akan terus berjalan ketika saya akan mengurusinya Tuan.” “Baguslah.” “Saya akan mengangkat barang Tuan. Tuan masuklah kedalam.” “Tidak perlu, saya bisa mengurusinya sendiri. Kembalilah ke Indonesia untuk mengurus perusaahan. Persoalan itu, kita juga harus memutuskan hubungan. Aku tidak ingin tahu apa pun yang terjadi disana. Kecuali satu hal. Ando. Hubungi aku bila memang terjadi sesuatu padanya. Bila tidak, jangan pernah coba menghubungiku. Aku sangat percaya padamu Frans.” Frans mengangguk. Matanya nampak berlinang namun dia mampu menahannya. “Jangan lupa, jaga diri Tuan baik-baik.” Aku mengangguk. Frans pergi. Perlahan kumasuki asrama kampus. Menyusuri koridor demi koridor setelah menerima alamat kamar dari penjaga di depan gerbang. Aku tiba di depan kamar. Mengetuk pintu. “Assalamulaikum.” “Walaikumsalam.” Seseorang menjawab salam dari dalam, kemudian membuka pintu. “Is this room number twenty one?” Tanyaku. “Hahaha… Don’t use English please. Saya juga orang Indonesia.” “Oh sungguh,” kataku heran “bagaimana mungkin?” “Untuk mempermudah segalanya mahasiswa satu kamar berasal dari negara yang sama. Kecuali kamu minta pengecualian,” ujarnya. “Aku Rifqi mahasiswa tahun kedua disini,” tambahnya sambil menjulurkan tangan. “Aku Andi.” Dia tersenyum simpul. “Dulu, aku sekamar dengan kakakku sendiri. Setiap saat aku meminta bantuannya, namun dia lulus tahun ini dan kembali ke Jember, kampung kami. Jadi saat ini aku juga berniat menjadi kakakku maksudnya untuk membantumu, jangan sungkan bila kamu butuh bantuan.” “Terimakasih sebelumnya.” Setelah itu, aku membereskan barang-barang dibantu Rifqi. Kami akan tinggal Bersama entah berapa tahun lamanya. Sepertinya, ini tempat pelarian terindah bagiku. Tidak ada siapa pun yang tahu, semoga saja tidak ada lagi derita. Aku hanya ingin mencari sedikit ketenangan disini, bukan kebahagiaan. Kemudian berharap kembali dalam keadaan kuat menghadapi semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN