Aku kembali berdiri. Mengingat kejadian akhir-akhir ini. Aku sungguh berubah, botol minuman keras, suara berisik bar, perempuan-perempuan, pengusiran bibi, Ando. Semuanya terbayang jelas di benakku.
“Bagaimana?” Ujar aku yang bercahaya putih.
“Aku ingat semuanya.” Kataku membuka mata perlahan.
Aku yang bercahaya putih mendekat. “Aku bukan malaikat, ini hanya mimpimu. Terlalu banyak beban pikiran hingga kau menghasilkan mimpi seperti ini.” Dia kemudian memegang tanganku. Aku menjadi putih, diiringi dirinya yang menghilang bak sobekan kertas.
Deg.
Aku terbangun, di dunia nyata. Alat bantu oksigen dipasangkan, selang ada dimana-mana. Aku tidak bisa bergerak. Meski begitu, aku dapat melihat Careline tertidur, dia memegang tanganku erat.
Aku menatap Careline beberapa saat, setelah itu hanya diam, menatap langit-langit kamar. Aku bisa apa? Tidak bisa bergerak. Rasa sakit di sekujur tubuhku mulai terasa.
“Kamu sudah sadar. Sungguh?” Careline terbangun, kemudian menatapku bahagia, kantung matanya terlihat jelas.
Aku mengangguk.
Perlahan air mata jatuh di pelupuk wajah Careline. “Jangan menyakiti dirimu lain kali! Tunggu saja, kalau kamu sembuh kamu akan sakit lagi karena tinjuanku.” Careline memelukku. Aku hanya terpaku disertai senyum kecil.
RRR
Hari ini, dokter sudah mengijinkanku pulang. Keluargaku pasti mencariku. Sudah lima hari di rumah sakit tanpa ada kabar. Mereka mungkin saja mengira aku kabur dari semua masalah. Pasti mereka khawatir. Bukan khawatir karena kesehatanku, tetapi khawatir karena tidak ada yang mengurusi perusaahan. Uang mereka tidak mengalir.
Careline mengantarku ke rumah. Sebenarnya, dengan kondisiku kini aku sudah bisa mengendarai mobil. Tetapi, karena dua hal aku tidak melakukannya. Pertama, karena tidak ingin membuat Careline khawatir dan yang kedua aku tidak yakin mobilku masih bisa digunakan.
Persoalan kecelakaan beberapa hari yang lalu, polisi sudah meminta keterangan. Hanya saja, aku bersyukur karena kecelakaan tunggal yang terjadi, aku menabrak tiang besar di pinggir jalan. Mobil yang kulihat cahayanya sempat menghindar kata saksi mata. Meski begitu, aku pulang dalam keadaan mabuk merupakan suatu pelanggaran. Kupikir aku hanya membayar denda dan Careline sudah melakukannya untukku.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” Careline bertanya sambil membelokkan mobil ke jalan mangga.
“Aku berniat jadi pembalap.” Kataku bergurau, Careline memukul pundakku.
“Auu… sakit sekali Careline.” Kataku meronta-ronta membuat Careline kaget alang-kepalang. Sampai menghentikan mobilnya.
“Sungguh?” Careline mengelus pundakku.
“Hahahaha…” Aku tidak dapat menahan tawa.
Bugk.
Careline memukul pundakku sekali lagi. Rasanya sakit beneran.
“Kamu tidak ingin meminta maaf kali ini? Ini sungguh sakit.”
“Tidak. Setidaknya janjiku untuk memukulmu sudah terpenuhi.”
Aku mengingat janji Careline tempo hari.
“Andi. Persoalan aku dan David. Se-sebenarnya ayah yang menyuruhku menemuinya dan berhenti mengubungimu,”
Aku ber-hmm sebentar. “Tidak apa-apa Careline, sudah kuduga. Aku mengerti.”
Careline mencubit pipiku. “Kamu nampak khawatir Andi. Tenang saja, aku tidak akan menemuinya lagi. Ayah marah besar ketika tahu aku ditampar olehnya.”
Aku tersenyum.
Kami pun akhirnya tiba di rumah. Careline mengantarku kedalam.
Semua bibiku terpaku. Aku melihat wajah mereka. Ada yang memendam amarah. Ada yang bahagia (bahagia karena sudah ada yang menjalankan perusaahan). Ada juga yang khawatir, siapa lagi kalau bukan bibi Nuri.
Namun, tidak ada diantara mereka yang berani berbicara.
Aku dipapah Careline menuju kamar. Disusul bibi Nuri.
“Terima kasih.” Ucapku, setelah Careline menarik selimut.
“Jangan lupa istirahat dan minum obatnya!” Pinta Careline. Setelah bercerita begitu lama, dia memutuskan pulang. Derap langkahnya menjadi kesedihan tersendiri bagiku.
Bibi Nuri menyusul masuk, setelah berterima kasih kepada Careline. Dia nampak khawatir. “Kamu kemana saja Andi? Seseorang memberitahukan kami, kamu menghabiskan malam di bar. Apa kamu baik-baik saja?”
Sudah kuduga. “Aku baik-baik saja Bi. Bisa tinggalkan aku sendiri?”
Bibi Nuri mengatur suhu AC, kemudian pergi meninggalkanku.
Selang beberapa lama, aku tertidur, terlelap tepatnya.
“Kamu tidak akan tinggal saja bukan.” Aku mendengar suara, yang sontak membuatku terbangun.
Aku melihat tubuhku yang lain berwarna putih bercahaya tepat di sebelahku. “Hah? Apa yang harus aku lakukan.” Sedangkan tubuh asliku, tidak berwarna hitam juga putih. Masih seperti manusia normal pada umumnya.
“Kamu sungguh tahu harus kemana. Tidak kah kau merasa bersalah atas apa yang kamu lakukan selama ini?” Kata tubuhku yang lain.
Aku terdiam sejenak, berpikir. “Mungkin… Hijrah?”
Aku terbangun, dan tahu harus kemana.
--
Hari ini merupakan hari pengumuman hasil kelulusan. Aku berangkat sekolah pagi-pagi. Setidaknya aku bisa bertanya ke pihak sekolah apakah aku lulus atau tidak dengan cepat. Sebenarnya hasil kelulusan akan diumumkan siang nanti. Tetapi, dengan alasan ‘ini’ mungkin itu bisa ditolerir. ‘Ini’, sesuatu yang mungkin akan mengubahku menjadi lebih baik
“Ada apa Andi? Baru pukul berapa sekarang? Pengumumannya siang nanti,” tanya kepala sekolah setelah aku bertanya apakah aku lulus.
“Maaf Pak, aku akan segera berangkat. Kalau ditengah perjalanan aku pulang hanya karena tidak lulus itu bukannya makan biaya bukan?”
“Makan biaya? Untuk orang sepertimu. Hahaha…” Tawa kepala sekolah mengisi ruangan, membuatku risih. “Kamu memangnya mau kemana? Bagaimana dengan perusaahan ayahmu. Oh maaf, Aku tidak bermaksud mengingatkanmu Andi. Hanya saja, kami sangat peduli denganmu, ayahmu merupakan donatur terbesar sekolah ini. Dia dulunya ketua komite.”
“Saya tahu Pak. Kalau bapak ingin membantu setidaknya beritahu saya. Saya lulus atau tidak.”
“Tentu lulus. Nilai ujian nasionalmua bahkan masuk tiga besar. Andai bukan donatur kamu mungkin tidak lulus. Kamu tahu berapa banyak masalah yang kamu buat akhir-akhir ini, termasuk absen di kelas. Meskipun kami tahu dulunya kamu sangat berprestasi.” Pak Kepala sekolah khawatir.
“Tidak masalah. Kalau begitu, saya pergi dulu. Mungkin minggu depan saya akan mengambil ijazah. Terima kasih sebelumnya.”
Aku membuka pintu. Hendak keluar.
“Kamu mau kemana Andi?” Tanyanya sekali lagi.
“Tenang saja Pak. Kami akan tetap jadi donatur terbaik sekolah ini,” jawabanku sungguh tidak sopan. Namun, itu adalah pengelakan agar aku tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.
Aku keluar dari ruangan.
“Tiketnya sudah dipesan Tuan,” kata supir yang mengantarku kembali ke rumah. Aku hanya melihat ke kaca jendela, menatap kota yang dipenuhi rintik hujan.
Kami menggunakan jasa supir lagi setelah pak Yanto meninggal. Dia mungkin akan mempermudah bibi Nuri mengurusi Ando ketika aku tiada.
Besok, aku akan berangkat ke Kairo. Aku berniat mempelajari agama lebih dalam, mencari ketenangan. Kupikir, hidupku sudah cukup berat. Aku ingin memulai hidup baru. Setidaknya itu yang bisa kulakukan selain ‘bunuh diri’.
Aku masih berpikir tentang apa yang akan kulakukan hari ini. Hari terakhir dalam p********n dan tekanan. Aku harus menyiapkannya dengan matang. Mulai dari Ando, urusan perusaahan, juga bagaimana memberitahukan hal ini kepada Careline, dia mungkin punya sejuta alasan agar aku tetap tinggal dan saat ini aku berpikir bagaimana meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.