FOTO 11 : Kebun Teh 2

1031 Kata
Aku tersenyum. Senang membuat Careline bahagia. Tidak sia-sia membawanya kesini. Malam akhirnya tiba. Aku ingin membawa Careline pulang, tetapi dia takut aku tidak dapat melihat jalanan karena luka tinju. Akhirnya, aku menyuruh Careline untuk tidur di kamar kakek. Sedangkan aku tidur di kursi ruang tamu. Careline juga memastikan orang tuanya tidak ada di rumah karena sedang ada urusan bisnis di Berlin. Ketika aku hendak memejamkan mata, ponselku berdering. “Ya, ada apa?” tanyaku kepada orang di seberang sana. “Mohon maaf tuan Aharon. Saya mengganggu malam anda, saya manajer keuangan ingin memberitahukan tentang penghasilan perusaahan kita dalam bulan ini. Saya harap bapak bisa membahasnya dengan mengadakan meeting.” Orang yang dengan jabatan manajer perusaahan yang belum kuketahui jabatannya ini berbicara profesional. Namun, nampak jelas getaran suara tanda gugupnya dia berbicara denganku. “Apa kita harus membahasnya?” Tanyaku. “Sekali lagi, saya meminta maaf tuan. Bukan bermaksud ingin memaksakan tuan untuk datang. Tetapi, para karyawan akan menggelar aksi untuk mogok kerja bahkan berhenti. Mereka takut kalau perusaahan bangkrut karena penghasilan yang tiap bulannya terus menurun.” “Baiklah, kita akan adakan ” jawabku pasrah. Pagi-pagi sekali, sebelum ayam mulai berkokok, aku berangkat kembali ke Surabaya. Dengan mengenakan jas agar bisa langsung ke kantor nanti. Careline masih tertidur. Kuangkat dia masuk ke dalam mobil. Aku akan menjelaskannya ketika tiba nanti. Di tengah perjalanan, Careline tidak bangun juga. Aku berharap dia tidak bangun-bangun. Tertidur pulas hingga tiba di rumahnya. Setibanya di rumah. Careline kuangkat dari mobil. Seorang perempuan yang mungkin seorang asisten rumah tangga kira-kira sudah menginjak kepala empat, terus bertanya-tanya kepadaku. “Careline adalah temanku. Ketika Careline terbagun, dia akan menjelaskannya kepada Bibi,” kataku sebelum pergi. Bibi Careline adalah orang yang baik. Dia hanya khawatir terjadi apa-apa dengan Careline, nampak jelas dari wajahnya. Setelah tiba di perusaahan, aku langsung masuk di ruangan. Rapat pun dimulai. Setelah rapat di perusaahan selesai. Entah membahas soal apa tadi. Intinya, penghasilan perusaahan yang menurun setiap bulannya. Hal ini sudah tentu membuat banyak karyawan yang takut kalau gaji mereka diturunkan. Masa bodoh, yang penting, aku bisa bermain di bar setiap malamnya. Urusan gaji karyawan juga akan terus berjalan lancar. Sawah ayah di Bandung sebagai gantinya. Jadi sudah seminggu berlalu, setiap malam aku hanya menghabiskan waktu di Bar. Tidak pernah bertemu dengan Careline. Aku tidak rindu. Hanya saja, aku penasaran mengapa dia tidak pernah mencariku. Apakah orang tuanya melarang Careline menemuiku karena aku membawanya ke vila. Bahkan mungkin, aku sudah dilupakannya. Ataukah, ada sesuatu yang terjadi kepadanya? Malam itu, merupakan malam yang dingin. Cuaca sedang tidak mendukung. Badai berlalu. Namun, aku terus minum. Tidak peduli bagaimana caranya pulang dalam badai. Tidak peduli dengan Careline. Aku hanya ingin menghilang saja dari dunia. Bukan mati. Tetapi, pergi untuk sementara dari jiwa dan pikiran ini. Itulah alasan mengapa aku sering ke bar. Untuk menghilangkan pikiranku akan kenangan masa lalu. Masa lalu yang bahagia yang langsung berubah menjadi tak tentu arah. Seperti dinaikkan ke atas angkasa dengan setinggi-tingginya kemuddian dihempaskan ke dalam jurang dengan sadisnya. Tegukan yang ke-5. Aku terpaku pada suatu hal. Careline? dia ada disini. Apa yang lagi-lagi dia lakukan bersama David?. Aku ingin berdiri menghampirinya, Namun, kuurungkan niatku itu. Meskipun kami betul-betul saling meyakinkan bahwa kami tidak memiliki hubungan apa-apa dengan orang lain. Namun, aku tetap bukan siapa-siapanya. Aku hanya ingin dia melihatku bersama dengan perempuan lain. Biar seimbang. Sungguh, mudah saja bagiku untuk mendapatkan perempuan cantik. Keisya, perempuan yang kukenal, meskipun kami belum terlalu akrab, itu bukan berarti dia tidak mau diajak olehku. Untung saja, Keisya sekarang berada tidak jauh dariku. Langsung saja kutarik tangannya. “Ada apa ini Andi?” Keisya sontak kaget. “Aku ingin kamu mengaku menjadi pacarku untuk malam ini.” Keisya hanya mengangguk dan tersenyum. Dia pasti sudah mengerti maksudku. Kudekati Careline perlahan agar dia melihatku ketika David pergi meninggalkannya untuk mengambil minum dan aku seolah-olah tidak melihatnya. Berpura-pura berbicara dengan Keisya seolah sudah sangat akrab. Sampai aku yakin dia sudah melihatku. Tinggal menunggu reaksinya. Setelah itu, aku yakin Careline mengikutiku dan aku mengajak Keisya menepi. Kusandarkan dia di dinding dan kukecup bibirnya. Careline dari jauh terperangah. Aku melihatnya dengan jelas. Perempuan dengan senyum manis itu menghampiriku. Dia melayangkan tangannya tepat di wajahku. Namun, Keisya menahannya. “Jangan harap kamu bisa menyentuh wajahnya,” ucap Keisya. Aku tersenyum. Ingin sekali aku tertawa melihatnya. Keisya memang sudah ahli. Careline menarik kembali tangannya. “Kamu tega Andi.” Careline pergi. Meninggalkanku Bersama dengan Keisya yang sedari tadi tertawa. “Apa kamu tidak ingin mengejarnya?” tanya Keisya kepadaku. “Tidak.” Keisya meninggalkanku. Aku kembali ke dalam Bar. Namun, di dalam aku sudah mendapati Careline pipinya memerah. Semua mata tertuju kepadanya. David langsung pergi. Aku terdiam. Entah apa yang aku pikirkan. Dalam keadaan mabuk, aku sulit mengendalikan diriku. David menampar Careline dan aku diam saja. Kukejar David, kutinju dari belakang. David membalas, namun tidak berarti apa-apa. Kami saling tinju meninju. Orang-orang di sekitar histeris, Careline terisak dalam tangisnya. Hingga dua orang bertubuh besar melerai kami dan membawa kami ke dalam ruangan. Kami ditanya-tanya. Aku teringat masa lalu, ruang BK. Apakah aku juga akan diskor dari Bar seperti yang dilakukan di sekolah. Tetapi, kupikir tidak akan mungkin. Dalam keadaan mabuk, aku membuka pintu mobil. Perasaanku melayang, aku tidak merasakan apa-apa. Namun, masih dapat mengemudi mobil. Di perjalanan, aku sudah tidak tahu speedometer mobil menunjukkan angka berapa. Hingga sebuah cahaya dari arah depan melintas dengan cepat ,aku membanting mobil sepersekian detik. Suara klakson mobil bergema. Seketika gelap. RRR Aku terbangun, sekelilingku gelap. Cahaya perspektif putih nampak di ujung tempat ini. Aku terus berlari mengejarnya. Hingga aku tiba di sebuah tempat terang nan bercahaya. ‘Tempat apa ini?’ pikir benakku. Seorang laki-laki datang menghampiri, itu aku. Aku yang bercahaya. “Kamu kenapa?” laki-laki itu bertanya. Aku menggelengkan kepala. Kutatap sekujur tubuhku menjadi hitam. Aku menangis. “Ini bukan aku yang sebenarnya, kan?” Aku bertanya seolah bertanya kepada diriku sendiri. “Mungkin. Atau mungkin memang kamu seharusnya hidup seperti itu.” Tubuhku yang bercahaya tersenyum. “Aku yakin, kamu menjadi seperti ini karena masalah datang bertubi-tubi dan kamu sudah tidak sanggup menghadapinya. Intinya, jangan menyerah di saat-saat akhir. Kamu harus terus berjuang. Kembalilah ke jalan yang benar, Allah tidak akan menguji hamba diluar batasannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN