FOTO 10 : Pemakaman 3

1098 Kata
Dia balik meninjuku. Kemudian terjadi saling tinju-meninju diantara kami berdua. Aku tidak menyerah, meskipun darah bercucuran dari berbagai titik di area tubuhku. Emosiku lebih besar dari tinju Bram seakan membuat semua luka tidak terasa. Aku terus meninjunya ketika dia melemah. Sebenarnya, tinju yang kulayangkan kepada Bram bukan semata-mata persoalan bahwa dia memalakku. Lebih keterkepadaan kepergian kakek membuatku depresi. Luapan emosiku kemudian kutuangkan di wajah Bram yang memiliki bentuk tegas. Bram melemah dan kemudian tidak sadarkan diri. Aku menghentikan tinjuku yang tadinya menggebu-gebu. Kutatap wajah Bram sudah bengkak dan lebam dimana-mana. Suara teriakan histeris sedari tadi dilakukan oleh para perempuan yang menyaksikan kejadian ini baru saja kusadari. Kemudian, pak Sutrisno guru BK yang terkenal sangar, mengamankanku dari teman Bram yang mulai emosi. Sedangkan Bram dibawa menuju ke UKS oleh anak PMR. Di ruang BK, aku ditanya-tanya. Kujawab dengan jelas dan pasti. Pak Sutrisno masih bisa menerimanya, karena Bram memang terkenal anak yang nakal. Dia malah menyatakan kepuasannya, karena ada anak yang berhasil melawannya. Namun, pak Sutrisno juga menegurku, ‘jangan meninjunya terlalu keras Nak sampai keok cukup sampai sadar saja!’ Aku tertawa. Pak Sutrisno juga mengatakan bahwa mungkin saja pihak Bram akan membawanya ke rana hukum memanggil polisi dan sebagainya. Bukan hanya itu, Skorsing sudah tentu diberikan dari sekolah. Namun, pak Sutrisno menjamin aku tidak akan di DO dari sekolah. “Bapak harap, akhir-akhir ini kamu amankan dirimu sendiri. Bram itu bos geng motor, bisa mati kamu dibuatnya.” Kata pak Bram terakhir kali. Aku hanya tersenyum, sambil memegang lukaku yang perlahan mulai terasa. Aku keluar dari ruang BK. Pergi ke kelas untuk mengambil tas dan pulang, untung saja, pelajaran hari itu kosong karena guru Bahasa Jerman kami sedang sakit. Namun, ada perempuan yang sedari tadi terus menatapku di kelas. Careline. Careline perlahan mendekatiku dan menarikku menuju ke taman sekolah. PLAK. Sialan. Dia menamparku, ketika kondisiku seperti ini. “Apa ini?” Dia bertanya. Pertanyaan yang tidak kuketahui jawabannya. “Apa, apanya?” “Apa kamu sadar hah? Kamu sudah berubah. Bukan Andi yang dulu kukenal lagi. Andi yang selalu tetap tenang, Andi yang rajin belajar, Andi yang baik hati, Andi yang diam di tempat duduknya dan tidak melawan.” Suara Careline meninggi. “Andi yang dulu kau kenal? Apa pedulimu?” Kutanya dia yang perlahan mulai menunduk karena mungkin tidak tahu mau menjawab apa. “Cih kamu hanya diam. Kamu hanya ingin aku menjadi milikmu namun, kamu juga ingin dimiliki orang lain.” “Kenapa kamu berkata seperti itu Andi?” Dia bertanya memelas. Aku mendekatkan bibirku di telinganya dan berbisik. “Karena kamu hanya ingin hartaku saja kan? Tentu saja, saham ayahmu akan meningkat.” Careline shock. Dia kemudian mencari tempat duduk yang kebetulan disiapkan di taman sekolah. Aku masih berdiri, melihatnya dari jauh. Kudekati dia dan kutarik tangannya. Kuajak dia bolos, pergi ke tempat yang lebih baik untuk kuajak lebih dari sekedar berbincang-bincang. “Kita mau kemana?” Tanyanya ketika aku tengah menarik menggegam erat tangannya. “Ikut saja!” Aku membuka pintu mobil untuknya. Kami berdua akhirnya berada di dalam mobil. “Bagaimana ini bisa terjadi Andi, apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupmu kamu bisa menceritakannya dan me…” Careline terhenti. Tentu, sontak saja kukecup dia, ini memang terkesan absurd. Siapa suruh, dia cerewet sekali. Careline, dia hanya diam, entah kaget atau tengah menikmati. “Kamu ingin ikut atau kau ingin kembali?” tanyaku. “Tidak. Aku hanya ingin bersamamu. Menghabiskan hari yang panjang.” “Bagaimana kalau aku bukan Andi yang dulu lagi?” “Aku suka kamu apa adanya. Kamu penjahat atau kutu buku, aku tidak peduli.” “Bagaimana dengan David,” kataku bergurau. Careline tertawa. Senyumnya manis sekali. Aku kemudian tahu tempat tujuanku sekarang. Vila kakek, dekat kebun teh. “Kita akan kemana?” Tanya Careline di tengah perjalanan. “Kamu akan tahu tempatnya. Tidurlah, perjalanan masih panjang.” Careline tertidur. Perjalanan memang terbilang agak jauh. Entah apa yang akan aku katakan pada orangtuanya. Careline meringkuk kedinginan. Aku membuka sweaterku, kemudian menyelimutinya. Setibanya di kebun teh, aku membuatkan cokelat panas untuk Careline. Sedangkan Careline sedari tadi meminta kain dan air dingin. Sambil menunggu airnya mendidih, aku memasuki kamar kakek. Memperhatikan fotonya bersama aku dan Ando. Tanpa sadar, air mataku menetes. Namun dengan cepat kuhapus ketika kutahu Careline sudah mengambil air dingin dari kulkas. Meskipun kakek sudah tiada, listrik dan fasilitasnya seperti AC, kulkas, televisi masih layak digunakan. “Jadi, ini rumah kakekmu yang baru meninggal itu?” Tanya Careline. “Iya.” “Tetapi…” Careline ingin berkata sesuatu, tetapi dia mengerti kondisiku sekarang ini. Dia tidak banyak mengajukan pertanyaan. “Airnya sudah mendidih, tunggu aku di teras, aku akan membawa cokelat panasnya.” Careline menurut. Kami meminum Cokelat panas itu sambil menikmati hamparan kebun teh yang menyegarkan. Careline perlahan mulai mengompres lukaku dengan air dingin. “Kamu tahu kalau Bram itu ketua geng motor?” Tanyanya sambil mengolesi luka di tepi bibir. “Tahu.” “Kamu tidak takut kalau dia menyuruh temannya untuk membunuhmu?” “Tidak.” “Kalau kamu takut, kenapa kamu berani meninjunya. Lagi pun, memberinya uang untuk keamanan juga tidak apa-apa kan? Daripada hasilnya seperti ini.” “Maksudku, tidak, aku tidak takut. Terus, bayangkan saja, kalau hartaku tinggal kamu. Apakah aku hanya tinggal ddiam saja jika kamu diambil olehnya?” Careline tersenyum. Lagi-lagi senyumnya manis sekali. “Kamu malam itu menyuruhku datang ke café. Tetapi, kamu tahu apa yang kulihat disana?” “Andi, aku minta maaf. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. David yang tiba-tiba datang dihadapanku. Kupikir kami hanya bercerita seperti biasa. Mana aku tahu kalau akhirnya dia memberiku sebuah cincin. Hanya karena waktu yang tidak mendukung kamu jadi melihatnya. Kamu juga salah, aku menghubungimu berkali-kali ingin tahu alasan kamu pergi, namun kamu tidak pernah membalasanya.” Aku ber-ngg sebentar. Kemudian meminta maaf karena membahas persoalan saham tadi. Aku terbawa emosi. Careline , matanya terus tertuju pada hamparan kebun teh. “Kamu ingin pergi kesana?” tanyaku. Careline mengangguk hebat. Aku tahu itulah yang diinginkannya sedari tadi. Kami berdua akhirnya berlari-lari di kebun teh. Suasana yang begitu sejuk. Aku melihat Careline merentangkan kedua tangannya, menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam. Aku segera menghampirinya. Memeluknya dari belakang. Careline membuka mata. Kaget ketika berbalik dan melihatku. “Apa yang kau lakukan Andi. Siapa yang mengajarkanmu seperti ini,” Careline memukul bahuku. Kemudian tersenyum. Pipinya nampak memerah. “Bukankah adegan di film Titanic seperti ini,” jawabku menggoda Careline. Careline tertawa kecil. “Tetapi, ngomong-ngomong terima kasih Andi. Ini tempat terindah yang pernah kukunjungi. Lebih indah dari Venice, London, Paris. Kamu tahu. Hijaunya tempat ini juga kesejukannya, membuatku tahu kalau negara kita memang indah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN