Chapter 20

2181 Kata
Sudah lebih dari sepuluh menit Petri berdiri dalam kebimbangan, pada akhirnya anak itu mengambil mengambil sepasang sepatu yang telah lama di pandanginya di sebuah rak mall. Petri segera membayarnya dan pergi meninggalkan tempat pusat perbelanjaan itu. Petri sempat bimbang untuk melakukan sesuatu, namun bila mengingat kebaikan Leary yang sudah merawatnya dan sikap Petri yang kasar akhir-akhir ini, Petri merasa bahwa dia sudah bertindak berlebihan. Mungkin dengan sepasang sepatu akan mengurangi rasa bersalah Petri. Begitu Petri sampai ke rumah, anak itu langsung pergi ke tempat Leary, sayangnya Petri bertemu Burka. “Tuan,” Burka tersenyum lembut melihat kedatangan Petri yang tidak seperti biasanya datang ke wilayah rumah Leary. “Di mana anak itu?” Burka terdiam, ada senyuman pahit yang terukir di bibir Burka karena Petri tidak memanggil nama Leary dengan baik. “Maksud Anda, nona Leay?” “Benar, di mana dia? Burka kembali terdiam, memperhatikan kekakuan Petri yang terlihat gugup. “Nona Leary berada di perpustakaan, ada yang bisa saya bantu?” “Tidak perlu. Aku akan ke sana,” jawab Petri singkat. Tanpa bertanya lagi Petri langsung berbalik dan pergi menuju perpustakaan. Ada kebimbangan di mata Petri, beberapa kali anak itu sempat menahan langkahnya karena bingung apa yang harus dia katakan kepada Leary saat nanti memberikan sepatunya. Beberapa kali Petri berhenti melangkah, hingga kepergiannya ke perpustakaan memakan waktu, namun pada akhirnya Petri sampai ke perpustakaan dan membuka pintu. Petri melangkah masuk usai menutup pintu kembali, dengan hati-hati anak itu melangkah mencar-cari sosok Leary yang biasanya mendorong tangga. “Hiks..” Suara isakan samar seseorang terdengar dari salah satu sisi rak buku, Petri mendekat perlahan dan berdiri di balik rak buku lain, dengan hati-hati dia menggeser buku untuk membuat celah dan melihat siapa yang tengah menangis. Leary, anak itu tengah meringkuk menangis dalam kesendirian. Petri bertanya-tanya, apa yang telah membuat anak itu menangis? Apa ada yang mengganggunya? Petri mengitari rak buku dan menunjukan diri, kehadiran Petri yang mendekat membuat Leary mengangkat wajahnya dan menatap sendu, tangisan Leary terhenti karena takut suaranya mengganggu, Leary beringsrut menjauh seakan menjaga jarak agar Petri tidak terganggu dengan keberadaannya. Sikap Leary membuat Petri sempat dibuat diam mematung, ada sebuah rasa sakit yang menusuk hati Petri saat melihatnya. “Diamlah disitu,” pinta Petri bersuara. Dengan cepat Leary menghapus air matanya dan menatupkan bibirnya rapat-rapat, anak itu tidak bersuara apapun, namun ada kekhawatiran di matanya jika Petri akan memarahinya juga seperti apa yang di lakukan Megi padanya. Perlahan Petri duduk di lantai, tepatnya di hadapan Leary. Tindakan Petri tidak lepas dari perhatian Leary yang di penuhi oleh kewaspadaan. Petri membuka tasnya dan mengeluarkan kotak sapatu yang dibelinya, Petri meletakan kotak sepatu itu di hadapan Leary. “Untukmu.” Leary tercekat kaget, anak itu sampai harus mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan jika apa yang dia dengar dan di lihat itu bukan hanya sebatas hayalan. “Anda serius?” “Ambilah” Petri membuang muka. Leary bergeser sedikit mendekat dan mengambil kotak itu, lalu membukanya di atas pangkuannya. Begitu kotak sepatu terbuka, Leary diam terpaku melihat sepasang sepatu cantik di dalam kotak itu, “Tuan” Leary angkat suara setelah beberapa lama diam dan hanya memandang sepatu pemberian Petri. “Ada apa?”“ Apa saya pantas mendapatkan sepatu indah ini?” lirih Leary terdengar sedih. Hati Petri tertohok begitu keras melihat Leary yang tertunduk sedih menatap sapatunya. Petri sampai mematung tidak mampu menjawab, reaksi Leary jauh dari apa yang Petri bayangkan. Dibandingkan dengan senang, Leary mempertanyakan apakah dia layak mendapatkannya atau tidak. “Saya masih memiliki sepatu lama. Saya takut menghilangkan sepatu ini,” ungkap Leary. “Maka jaga dan gunakan sepatu itu dengan baik,” Petri segera berdiri lagi enggan untuk duduk berlama-lama dan terpengaruh sesuatu yang buruk. “Jika kau tidak suka, buang saja,” kata Petri lagi. Leary mengusap air matanya dengan cepat, anak itu mendongkak dan tersenyum lebar menatap hangat Petri. “Terima kasih, Tuan.” Petri kembali membuang mukanya, tanpa berkata-kata anak itu memilih pergi meski masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Petri pikir, melihat Leary menangis dan memanggilnya tuan, itu akan membuat hatinya puas karena Petri benci Leary. Namun entah mengapa, kini rasanya Petri merasa jika itu adalah tindakan yang salah. *** “Kalian bertemu di mana?” tanya Chaning sambil bersedekap, menatap lurus kedepan. Chaning ingin tahu, di mana Ferez mengenal Leary. Chaning curiga, pasti ada sesuatu yang di antara anaknya dan Leary. Ferez cemberut kesal terlihat mulai terganggu dan bosan, sejak tadi Chaning terus bertanya mengenai pertemanannya dengan Leary. Reaksi Chaning sangat berlebihan. “Kalian bertemu di mana?” Chaning mengulangi pertanyaannya. “Di malam itu, saat Ayah menghabisi seseorang. Dia melihatnya dan kami pulang bersama.” “Kalian sering bertemu?” “Ya.” “Kau belum mengajaknya berpacaran kan?” “Astaga! Berhentilah bertanya hal-hal konyol, aku muak mendengarnya!” teriak Ferez menyelak begitu kesal. Bibir Chaning langsung mengatup rapat-rapat, namun tidak berapa lama pria itu kembali bertanya. “Bagaimana dengan keadaan sekolahmu? Apakah semuanya masih berjalan lancar?” Ferez menengok ke sisi, memperhatikan sekelompok orang tengah berkerumun di depan penyebrangan menunggu lampu merah. “Sejauh ini masih sama, tidak begitu menyenangkan,” jawab Ferez. “Mengenai anak yang kau kalahkan di perlombaan memanah itu. Sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, Liebert tidak suka dengan keluarga mereka.” “Tanpa perlu Ayah minta sekalipun, aku tidak berniat mengenal dekat dia.” Chaning tersenyum puas mendengarnya, terkadang ada larangan yang perlu Chaning katakan kepada Ferez tanpa bisa menjelaskan alasan di baliknya. Termasuk larangan untuk Ferez dekat dengan Petri, keluarag McCwin. *** “Ya Tuhan, saya sangat senang mendengarnya. Tuan Petri sangat baik kepada Anda. Selamat atas hadiahnya, Nona,” Burka tersenyum lebar terlihat begitu bahagia begitu mendengar cerita Leary jika Petri menemuinya dan memberinya sepatu. Sudah Burka duga, mungkin lambat laun hati Petri akan luluh karena mulai melihat kebenaran yang harus diterima. “Burka, apa tuan Petri mulai menyukaiku?” tanya Leary penuh harap. Burka mengangguk tersenyum lebar. “Sepertinya begitu.” “Apa aku boleh memberi tuan Petri hadiah juga?” “Memangnya Anda mau memberinya hadiah apa?” Leary terdiam cukup lama, anak itu menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Nanti aku akan memikirkannya dulu.” Burka tertawa mendegarnya, wanita itu segera merapikan sisir dan perlatan lainnya usai menyisir rambut Leary. “Oh iya Nona, karena sekarang Anda sudah bisa bermain keluar, saya akan memberikan Anda uang saku. Saat nanti bermain di luar rumah, Anda jangan hanya bermain dan berkeliling, makanlah sesuatu yang Anda inginkan.” Leary menggeleng dengan cepat. “Tidak apa-apa Burka, jangan merepotkan Burka.” Burka terdiam menatap sendu, hatinya terasa sakit melihat senyuman lebar Leary yang menolak pemberiannya. Anak itu semakin hari semkin bersikap seperti seseorang yang berusaha untuk selalu tahu diri. Ini sangat menyakitkan untuk Burka, bukan ini yang Burka inginkan. *** Darrel kembali melihat kursi Leary kosong, sudah hampir lima hari lamanya anak itu tetap tidak pernah muncul lagi di ruangan makan. Sebelumnya Darrel tidak peduli, namun setelah tahu kebenarannya dari Petri, Darrel mulai bertanya-tanya. Apakah sikapnya sudah keterlaluan selama Leary tinggal hampir tiga minggu di kediamannya? Darrel tertunduk mulai memperhatikan piring sendiri. “Di mana anak itu?” tanya Darrel pada Andrew yang kini tengah menata piring. “Nona Leary? Sepertinya dia ada di taman.” “Panggil dia untuk makan.” “Baik, Tuan.” Ellis yang sejak tadi diam terlihat tidak suka karena kini Darrel memanggil Leary, padahal Ellis merasa lebih baik jika Leary tidak ikut hadir di meja makan. Ellis selalu terganggu setiap kali melihat Leary makan dengan tidak anggun dan seperti anak yang kelaparan. *** Suara ketukan di pintu terdengar, Andrew kembali setelah pergi beberapa menit. Samar terlihat ada bayangan di belakang kaki Andrew. Leary berdiri di belakang Andrew terlihat gugup untuk masuk dan menunjukan diri. “Nona, masuklah,” Andrew mendorong lembut bahu Leary. Leary mendongkak, menatap Andrew dengn ragu. Pada akhirnya kaki Leary melangkah masuk dan berdiri di samping Darrel. “Tuan, Anda memanggil saya?” Darrel menengok, Leary tidak lagi memangilnya dengan sebutan ayah, bahkan saat berbicarapun suara terdengar begetar. “Duduk dan makanlah,” jawab Darrel kembali melanjutkan makan. Leary melirik kursinya dengan ragu, anak itu menariknya dan perlahan merangkak naik ke atas. Belum sempat Leary mengambil alat makanya, anak itu dibuat diam mematung melihat kilatan tajam Ellis yang tertuju kepadanya. Tatapan itu menunjukan permusuhan dan kebencian. Leary tertunduk, mencoba untuk tetap makan meski perasaan asing dan penuh tekanan terus mengintimidasinya, membuat Leary ingin segera pergi. “Ayah, sebentar lagi aku ulang tahun.” Ellis mulai angkat bicara, “Apa boleh aku merayakannya di rumah, bangunan sebelah baru selesai di renovasi, apa boleh aku merayakan pesta di sana?” “Lakukan saja apa yang kau mau,” jawab Darrel tidak peduli, tidak juga melarang. “Apa boleh aku mengundang banyak orang?” “Lakukan saja.” Ellis tersenyum lebar terlihat senang, sekilas anak itu melihat Petri. “Kakak mau membantuku kan?” Petri mengangguk tanpa suara, dia sudah bisa menduga jika Ellis akan melibatkannya jika itu berurusan dengan hal-hal yang merepotkan. *** “Dia mau ke mana?” Liebert bersedekap, memperhatikan Ferez yang keluar rumah di antar oleh seorang pengawal. “Akhir-akhir dia menemukan teman baru.” “Dia membawa ransel.” “Mungkin untuk bermain.” “Bukankah temannya hanya Noah?” “Bukan, dia gelandangan yang lebih kecil dan lemah. Kau bisa mematahkan lehernya hanya dengan satu puteran.” Liebert menatap serius Chaning, namun tidak berapa lama pria itu tersenyum dan mengedikan bahunya tampak acuh. Lebih bagus jika Ferez memiliki lebih banyak teman daripada menghabiskan waktunya dalam kesendirian seperti masa kecilnya dengan masa kecil Chaning. “Kau mau ke mana?” tanya Chaning, melihat kepergian Liebert. “Aku mendapatkan kabar mengenai keberadaan kakakku,” jawabanya singkat. Tanpa memberikan penjelasan lebih jauh Liebert segera pergi. Chaning tidak pernah menahan ataupun melarang Liebert bepergian dalam mencari keberadaan kakaknya yang sudah cukup lama pergi meninggalkan wilayah inggris. *** Beberapa menit naik mobil kini akhirnya Ferez memutuskan pergi berjalan kaki sendirian, Ferez berjalan kaki menyusuri sebuah gang perumahan. Perjalanan Ferez harus terhenti ketika ada sekelompok anak remaja berdiri di kiri kanan tembok gang, mereka meneliti penampilan Ferez penuh penilaian sampai akhirnya empat orang remaja itu memutuskan mencegat Ferez dan mengurungnya. “Kau punya uang?” tanya anak paling besar dan berambut pirang. Ferez mendongkak, menatap anak itu dengan datar, tidak ada rasa takut sedikitpun di matanya, bahkan Ferez tidak merasa terintimidasi meski kini ada empat orang yang mengerumuninya. “Uang?” Ferez mengambil beberapa lembar uang dari saku jaketnya dan menunjukannya. Uang bukanlah sebuah masalah untuk keluarga Benvolio. Anak berambut pirang itu langsung tersenyum puas dan membuka tangannya. “Berikan kepadaku.” “Kau gelandangan?” tanya Ferez dengan nada tidak menyenangkan. Senyuman anak pirang itu menghilang dan berakhir dengan menatap tajam Ferez menyiratkan peringatan. “Siapapun aku, itu bukan urusanmu. Urusanmu adalah memberikan uang itu kepadaku.” Anak pirang itu hendak mengambil uang di tangan Ferez, namun Ferez bergerak lebih cepat untuk menghindar dan menyimpannya kembali di saku jaket. “Tidak mau, jika kau gelandangan aku baru akan memberikannya.” “Kau!” Anak laki-laki berambut cokelat yang sejak tadi diam langsung mendorong d**a Ferez agar mundur dan mendengarkan permintaan temannya. Kedu tangan Ferez langsung di tangkap oleh dua orang, mereka mengunci pergerakan tangan Ferez. “Berhenti beromong kosong, seharusnya kau serahkan saja uangmu dan urusan kita akan selesai,” peringat anak berambut pirang itu yang kini terlihat marah dan tidak suka melihat ekspresi tenang Ferez. Anak berambut pirang itu mendekat hendak menggeledah jaket Ferez dan mengambil semua uangnya, tanpa anak itu duga, kaki Ferez mengayun di udara dan menendang perut anak berambut pirang itu hingga mundur beberapa langkah. “Aku kan sudah bilang tidak mau. Apa kau tuli?” tanya Ferez dengan dingin. “Sialan, berhenti berlagak!” Anak berambut cokelat mendekat tergesa dan mengayunkan tangannya hendak memukul, sekali lagi kaki Ferez mengayun lebih tinggi, kali ini kaki Ferez menendang sisi leher anak berambut cokelat itu hingga dia tersungkur ke tanah dan merintih kesakitan. Kedua orang yang mengunci tangan Ferez mulai kebingungan, namun mereka enggan melepaskan dan memilih menunggu peminpin mereka beraksi. Anak yang berambut pirang kembali bangun untuk memberi balasan. Ferez yang sejak tadi banyak diam mengalah mulai terlihat bosan dan merasa mulai membuang waktu. Ferez membuang napasnya dengan kasar, dengan kuat Ferez menendang keras kaki salah satu orang yang mengunci tangannya, Ferez membuat orang itu terjatuh ke tanah dan cengkramannya terlepas. Begitu salah satu tangannya terbebas, Ferez mengayunkan tangannya, memukul satu orangnya lagi. Ke empat anak remaja itu tertatih-tatih bangkit, melihat Ferez penuh permusuhan dan tantangan. Mereka berempat sama-sama menyerang Ferez dalam waktu bersamaan, sayangnya mereka yang masih pemula harus takluk di bawah perlawanan Ferez yang sudah sangat terlatih berbagai ilmu bela diri dan pertarungan kasar yang di ajarkan Chaning. Dalam waktu cepat, keempat anak itu terkapar di jalanan dengan wajah babak belur dan salah satu di antara mereka tidak sadarkan diri. Ferez berdiri menatap keempat remaja itu dengan cemoohah karena mereka hanya bermodal omong kosong yang besar dan berlagak. “Memalukan,” ucap Ferez sebelum berbalik dan melanjutkan perjalananya lagi. Dengan begitu tenang dan terlatih Ferez pergi melangkah, bersikap seolah tidak terjadi apapun padanya. To Be Continued..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN