Chapter 19

2003 Kata
“Ferez lihatlah” Leary menunjuk jendela toko alat tulis di hadapannya. “Apa Ferez bisa membantuku membeli pensil dan alat tulis?” Sejenak Ferez terdiam merasakan genggaman kuat tangan Leary. Ferez tidak tahu harus menjawab apa karena selama ini semua keperluan belajarnya selalu di tangani orang lain. Genggaman tangan Leary terlepas, dengan terburu-buru anak itu mengeluarkan selembar uang yang pernah di berikan Chaning padanya. “Apa uang ini cukup untuk membelinya?” “Masuk saja,” putus Ferez pergi membuka pintu. Leary menggeleng dengan senyuman lebar. “Ferez saja, aku malu,” jawab Leary dengan kaki kaki bergerak canggung. Leary takut jika nanti dia masuk ke dalam, Leary ingin membeli yang lain dan bertindak merepotkan. “Kau takut di usir?” Leary tersenyum malu, namun matanya jelas memperlihatkan banyak ketidak percayaan diri. Tidak untuk Leary bisa percaya diri setelah cukup banyak mendapatkan penolakan dari orang-orang di sekitarnya. “Masuklah, jika mereka mengusirmu, aku akan membeli seluruh isi tokonya.” “Tapi Ferez.” “Masuk atau kita tidak membelinya sama sekali,” ancam Ferez. Leary langsung berlari dengan cepat, gadis kecil itu masuk ke dalam toko begitu Ferez membukakan pintu untuknya. Keduanya melangkah masuk, tidak ada siapapun di dalam, hanya ada seorang wanita muda yang berdiri di depan meja kasir tengah menghitung sesuatu di buku catatannya. Leary dan Ferez pergi mengitari rak dan melihat-lihat. Kepala Leary bergerak ke sana-kemari dengan mulut terbuka, anak itu begitu takjub dan sangat senang luar biasa melihat semua alat tulis yang tersedia. “Ferez, ini untuk pertama kalinya aku lihat alat tulis sebanyak ini,” ungkap Leary penuh semangat. Ferez mendengus dengan senyuman miringnya, Ferez tidak habis pikir karena Leary selalu sangat bahagia dengan hal-hal yang sederhana. “Kemarilah” Ferez menarik tangan Leary, mereka berhenti di depan rak pensil. “Ini yang kau butuhkan?” Leary menganggguk tidak bisa berkata-kata karena terlalu kagum dengan alat tulis di hadapannya. Ferez segera mengambil sebuah buku hitam yang tebal dan satu kotak pena, juga satu set alat gambar. “Ini cukup?” Leary menerimanya dengan ragu. “Ta-tapi Ferez, aku takut uangnya tidak cukup,” ucap Leary terbata. “Kau lupa jika aku ini kaya?” Tanya Ferez terdengar menyombongkan diri. “Ayo pergi.” Leary berlari dengan cepat mengejar langkah Ferez yang ada di hadapannya, beberapa kali Leary harus berjinjit dan menengok sang kasir ketika sang kasir itu tengah menghitung harga barang yang dibelinya. Leary terlihat takut jika uangnya akan kurang dan merepotkan Ferez. Sang kasir mendorong tas kecil berisi peralatan menulis itu, lalu berkata. “Dua puluh tiga pousterling.” Ferez memberikan uang yang sudah Leary berikan kepadanya. Betapa terkejutnya Leary begitu uang yang dia berikan, kini memiliki kembalian. Leary mendongkak menapat Ferez dengan mata berbinar, “Ferez, apa ini benar? Aku masih memiliki uang setelah mendapatkan alat tulis?” bisik Leary terlalu senang. “Jangan bersikap berlebihan. Kau terlalu menunjukan diri jika kau miskin. Ayo pergi.” “Baik!” Leary melompat mengambil tas alat tulisnya dan memeluknya dengan erat. Sesaat Leary melihat sang kasir dan mengucapkan kata terima kasih sebelum menyusul Ferez pergi keluar dari toko. Senyuman lebar Leary yang membuat pipinya merah merona, Ferez tidak bisa berhenti untuk terus menerus memperhatikan anak itu, sikap Leary begitu jauh berbeda dengan waktu saat pertama kali mereka bertemu. Kini Leary menjadi banyak bicara, banyak tersenyum, betapa sederhananya cara membuat Leary bahagia, gadis kecil itu selalu memikirkan hal-hal baik tanpa peduli dengan siapa orang yang ada di sekitarnya. “Dua hari ini kenapa kau tidak keluar malam?” tanya Ferez. Kepala Leary mendongkak. “Tuan Petri sakit, aku menemaninya.” “Bagaimana dengan hari ini? Mengapa kau bisa keluar sendirian di siang hari?” “Kepala pelayan mengizinkan aku bermain di luar.” Pandangan Leary mengedar, anak itu menarik Ferez pergi ke taman dan duduk di atas rerumputan, Leary ingin bertanya kepada Ferez bagaimana cara memulai belajar menulis. Beruntung Ferez membantu meski beberapa kali Ferez sempat menggerutu karena Leary merepotkannya. *** Ellis menopang dagunya tampak kesal, dia merasa malas pulang kerumah karena sempat bertengkar dengan Petri tadi pagi. Ellis pikir Petri akan meminta maaf kepadanya saat di sekolah karena sudah membela Leary, Ellis menunggu begitu lama di kelasnya, namun Petri yang dia tunggu tidak kunjung datang apalagi meminta maaf. Ellis kecewa, Petri tidak lagi begitu memanjakannya. Sepanjang perjalanan yang di lewati, tanpa sengaja Ellis melihat sosok Leary yang duduk di bawah pohon tengah menelungkup, di sisinya ada Ferez yang duduk berselonjoran. “Berhenti di sini, menepi dulu!” teriak Ellis pada sang sopir. Sang sopir segera menepikan mobilnya mengikuti perintah Ellis. Kaca jendela menurun, Ellis semakin jelas melihat Leary dan Ferez. Mereka terlihat terlibat percakapan yang akrab, Ferez yang dingin dan minim ekspresi terlihat lebih hangat. Cemberutan kesal terlihat di bibir Ellis, gadis itu kecil itu mengepalkan tangannya terlihat kesal. Beberapa hari setelah kompetisi berakhir, Ellis masih menantikan Ferez menyapanya karena dia bertaruh dengan Petri. Selama Ellis menunggu, Ferez tidak pernah sekalipun menyapa, bahkan ketika Ellis mencoba menyapanya lebih dulu dikala Petri tidak masuk sekolah. Alih-alih menjawab, Ferez bersikap acuh dan tidak menjawab. Bahkan dinginnya sikap Ferez yang seperti itu membuat Ellis tetap tidak berhenti menantikan Ferez yang ingin mengenalnya lebih dekat. Rupanya apa yang Ellis nantikan sia-sia semata karena Ferez bertaruh dengan Petri bukan untuk bisa dekat dengan Ellis, namun Leary. “Jalan!” titah Ellis kepada sang sopir. *** Ellis membanting pintu mobilnya dengan keras, anak itu terlihat menangis dan berlari pergi memasuki rumah, beberapa orang yang bekerja sempat dibuat diam melihat Ellis. “Di mana Burka?” teriak Ellis menjerit. Burka yang di panggil segera berlari menghampiri Ellis. “Nona, ada yang bisa saya bantu?” “Kenapa kau membiarkan Leary berkeliaran bermain di luar?” “Andrew yang mengizinkan. Bukan saya.” “Itu benar, Nona. Saya yang mengizinkan nona Leary pergi bermain keluar,” jawab Andrew ikut angkat suara begitu dia datang. “Saya mengizinkankannya pergi keluar karena nona Leary kesepian bermain sendirian di sini.” Air mata Ellis kian berjatuhan, gadis itu terlihat semakin dibuat kesal begitu mendengar jawaban Burka dan Andrew. “Seharusnya kalian tetap membiarkan dia berada di dalam!” tuntut Ellis. “Tapi mengapa Nona?” tanya Andrew. “Kenapa kau menanyakan alasannya padaku? Apa kau mau membelanya juga?” teriak Ellis dengan hentakan kakinya di lantai. “Mengapa semua orang terus menerus membela Leary? Dia orang asing di sini!” Tangan Burka terkepal kuat, Burka terlihat begitu kesal mendengarkan ucapan tidak terduga dari anak seusia Ellis yang begitu jahat. “Nona, saya tidak bermaksud bicara lancang kepada Anda. Perlu saya ingatkan. Nona Leary bukan orang asing di rumah ini, dia adalah pueri nyonya Olivia dan tuan Darrel, anak kandung mereka, darah daging mereka. Nona Leary adalah keturunan keluarga McCwin yang sah beradasarkan darah dan undang-undang.” “Tutup mulutmu Burka!” Ellis semakin berteriak kencang menangis, anak itu berlari pergi meninggalkan semua orang yang kini mematung tidak memahami situasi yang terjadi meski mereka sudah terbiasa dengan sikap rewel Ellis. “Anda tidak seharusnya bicara tidak sopan pada nona Ellis,” geram Megi, pelayan Ellis. Burka menatap tajam Megi tanpa ketakutan. “Seharusnya Anda yang tidak hanya diam saja ketika nona Ellis bicara sembarang kepada darah daging keluarga McCwin. Suka atau tidak Anda pada nona Leary, tidak ada yang bisa mengubah statusnya sebagai anak kandung tuan Darrel.” Rahang Megi mengetat, wanita itu berbalik dan segera pergi menyusul kepergian Ellis untuk menenangkan suasana hatinya. *** Leary kembali pulang dengan cepat, anak itu diam-diam langsung masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan alat tulisnya di bawah ranjang agar tidak ada yang melihatnya. Leary bingung untuk menjelaskan kepada Burka darimana dia mendapatkan uang untuk membeli alat tulis, Leary takut Burka tidak percaya. Akan lebih baik Leary menyimpannya lebih dulu. Leary merangkak naik ke atas ranjang, suara tawa bahagia terdengar dari mulutnya. Hari ini sangat membahagiakan untuk Leary, hari ini dia merasakan minuman baru dari Chaning, hari ini pula dia mendapatkan alat tulis. Setelah menghabiskan waktunya bersenang-senang di atas ranjang, Leary kembali melompat turun membawa buku yang dia pinjam dari perpustakaan, Leary ingin mengembalikannya dan mencari buku baru untuk bisa dijadikan tempat belajar. Leary berlari keluar dari kamarnya. “Nona,” sapa Burka dengan senyuman lebar. “Burka.” “Kapan Anda pulang?” “Tadi.” “Sekarang Anda mau ke mana?” “Perpustakaan,” jawabnya penuh semangat. Burka melihat ke sekitar dan mengusap bahu Leary. “Berhati-hatilah, jika terjadi sesuatu panggilah saya di belakang. Maaf, saya tidak bisa menemani Anda karena harus membantu James.” Leary mengangguk mengerti, anak itu segera berlari melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan. Namun langkah Leary kembali harus terhenti begitu dia berada di depan pintu perpustakaan dan berpas-pasan dengan Ellis yang di damping Megi. Ellis yang hendak masuk ke dalam perpustakaan langsung berbalik, senyuman cantik yang sering Ellis tunjukan kepad Leary kini tidak ada, anak itu menatap Leary dengan penuh kebencian. “Kau mau ke mana?” tanya Ellis. Leary menelan salivanya perlahan, anak itu tertunduk memeluk bukunya dengan kuat. “Saya akan ke dalam untuk mengembalikan buku,” jawab Leary. “Tunggu saja, kau boleh masuk setelah aku selesai di dalam.” Leary mengangguk patuh. Ellis masuk ke dalam perpustakaan sendirian, kini menyisakan Megi dengan Leary yang berdiri menunggu saling berhadapan. Leary sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya karena tahu Megi terus menatapnya dengan tajam penuh kebencian dan peringatan. Lama Leary menunggu, akhirnya anak itu berbalik hendak pergi. “Anda mau ke mana?” tanya Megi dengan dingin dan mengintimidasi. Leary berbalik dan masih tertunduk. “Saya akan kembali, sepertinya nona Ellis lama berada di dalam,” jawab Leary dengan suara bergetar. “Memangnya siapa yang mengizinkan Anda pergi?” Tanya Megi lagi dengan penuh tekanan. Tubuh Leary menegang, wajahnya terangkat perlahan melihat tatapan sinis Megi yang kini bersedekap di hadapannya. “Anda tidak dengar perintah nona Ellis tadi? Jika dia bilang tunggu, ya Anda harus menunggu.” Leary mengangguk patuh di bawaha intimidasi Megi. “Anda itu ya, meski Anda anaknya tuan Darrel dan nyonya Olivia, tidak ada yang menyukai Anda dan mengharapkan Anda di sini. Anda itu perebut kebahagiaan keluarga McCwin, dan penghancur kebahagiaan nona Ellis. Sejak Anda datang ke rumah ini, nona Ellis semakin banyak menangis karena Anda.” Tubuh Leary gemetar hebat di landa ketakutan, sudah cukup banyak orang di rumah ini yang mengatakan hal yang sama seperti Megi, namun meski sudah sering, rasanya masih tetap sama. Membuat Leary takut dan begitu sedih. “Saya, tidak pernah mengganggu nona Ellis,” bela Leary terbata-bata. “Kehadiran Anda di rumah ini sudah sangat mengganggu. Harusnya Anda tidak berada disini.” Pupil mata Leary gemetar hebat, bibirnya menekan kuat. Kaki Leary bergetar ingin segera pergi dan berlari, namun dia takut jika berlari pergi, Megi akan semakin membencinya. Di balik pintu, Ellis yang sejak tadi diam dan mendengarkan akhirnya keluar. “Aku sudah selesai, ayo Megi.” Ellis dan Megi pergi, dengan cepat Leary masuk ke dalam perpustakaan dan berlari melewati deretan rak buku. Kaki kecilnya lemas tidak bertenaga dan luruh ke lantai, perlahan Leary duduk memeluk lututnya, melihat lorong kosong dan sepi di hadapannya. Air mata luruh membasahi pipi Leary, anak itu mulai terisak menangis tidak dapat membendung kesedihannya lagi. *** “Kalian sangat dekat?” tanya Chaning dengan serius. “Apa?” tanya balik Ferez yang kini sibuk memotong daging di piring. “Kau dan Leary, sangat dekat kan?” “Lumayan,” jawab Ferez singkat. “Kalian tidak pacaran kan?” tanya Chaning terdengar khawatir. “Anak kecil tidak boleh pacaran. Kau harus dewasa dulu.” Ferez mengangkat wajahnya yang kini berubah pucat karena kaget, Ferez menatap Chaning dengan ekspresi herannya. “Apa yang sebenarnya Ayah pikirkan? Kenapa berpikir hal-hal aneh, berhentilah mengurus urusan orang lain.” “Kau kan puteraku,” bela Chaning tidak terima. Chaning menggeleng pelan dan membuang napasnya dengan berat. “Lanjutkan makanmu.” Pikiran Chaning menjadi ngelantur seharian ini karena untuk pertama kalinya melihat Ferez dekat dengan anak perempuan. Chaning cukup tidak mengerti bagaimana bisa Leary bisa mendekatinya dengan Ferez secara tidak bersamaan, dan anehya lagi mereka bersikap seolah-olah keberadaan Leary tidak begitu mengganggu. To Be Continued..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN