Secarik kertas terbuka di tangan Chaning, pria itu menopang dagunya melihat gambar yang penuh warna melukiskan crayon yang berantakan dan tercorat coret, samar dari gambar itu memperlihatkan gambaran seseorang berjubah dan memegang sebuah pedang. Dalam tulisannya yang jelek dan tidak rapi itu merangkai kata singkat, namun Chaning harus membacanya dengan mengeja karena tulisannya berantakan dan bertumpuk. Paman Chaning, bulan ini saya ulang tahun.. Paman Chaning, saya sangat bahagia karena uang yang Anda berikan bisa membeli buku dan pensil. Saya senang karena Tuhan langsung mendengarkan do’a saya. Saya senang bisa bertemu paman terbaik sedunia dan juga teman tebaik sedunia. Chaning dan Ferez yang terbaik. Teman Anda, Leary. Chaning mendengus geli membacanya, dengan kurang ajarnya

