Entah pukul berapa Sean terbangun dari tidurnya. Mungkin sekarang hari sudah malam. Dan benar saja, ketika Seina menatap ke arah jam yang berada di dindingnya, ternyata ini sudah pukul setengah tujuh malam. Dengan kantuk yang masih tertahan. Sean berjalan gontai keluar kamarnya. Dia ingin mengecek keadaan April. Apakah dia baik-baik saja. Apakah mienya sudah dihabiskan? Sean meringis ketika melihat mi yang berada di atas nakas tidak disentuh April sama sekali. Mi itu sekarang sudah dingin dan mengembang parah. April terlihat tidur miring meringkuk seperti bayi dalam kandungan, mungkin dia kelelahan karena menangis. “Pril….” Sean menggusap pelan lengan April. Namun dahi Sean seketika mengerut ketika merasakan kulit April terasa hangat. Punggung tangan Sean menyentuh dahi April dengan p

