"Dia Ares......" Kalimat singkat yang di gunakan oleh Mas Dirga saat memperkenalkan sosok yang tidak kalah tampan darinya membuatku membeku, aku ingin menepis jauh-jauh pemikiran tentang Mas Dirga yang berubah sikapnya kepadaku, seakan ada tembok tinggi yang menghalangi di antara kami, tapi nyatanya sikap dinginnya sekarang ini benar-benar mengusikku. Aku merasa ada kemarahan dan kekecewaan yang terlalu besar dia rasakan kepadaku hingga untuk sekedar menatapku pun enggan. Menepis perasaan yang tidak nyaman aku rasakan atas perlakuan Mas Dirga aku memilih untuk mengulurkan tangan pada pria bernama Ares ini, sosok dengan matanya yang tajam tersebut mengintimidasiku, seakan-akan dia tengah menilik isi kepalaku dan tidak menyukai apa yang dia dapatkan di dalamnya. "Alleyah..." Ucapku semba

