Kegelapan yang sebelumnya begitu familiar perlahan meninggalkanku, rasa nyaman yang mendekapku dalam kesendirian pun perlahan memudar berganti dengan rasa sakit yang lambat tapi pasti menyebar di seluruh tubuhku hingga rasanya aku ingin berteriak karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Sayangnya sekeras apapun aku mencoba berteriak, suaraku serasa berhenti di tenggorokan, aku merasa aku seperti lumpuh tidak bisa berbuat apapun. Lidahku terasa kelu, bibirku seakan mati rasa. Perlahan-lahan mataku terbuka seiring dengan cahaya yang menyilaukan tapi cahaya ini justru semakin menegaskan rasa sakit di sekujur tubuhku yang semakin menjadi di setiap sendinya. Aku yang sebelumnya terjebak di dalam ruangan tempatku melihat semua trauma kini terbangun dalam ranjang rumah sakit, saat aku melihat

