01. Perempuan Yang Dibuang
Hujan turun deras ketika Isabella Sofia Moretti berdiri di depan gerbang besi rumah keluarga Vescari dengan sebuah koper tua di samping kakinya.
Rambut panjangnya basah, gaun sederhana yang dikenakannya melekat di tubuh, sementara kedua tangannya menggenggam erat ponsel yang sejak tadi bergetar tanpa henti.
Bukan karena ada seseorang yang mencemaskannya.
Melainkan karena mantan suaminya masih mengirimkan pesan untuk memastikan bahwa Isabella benar-benar sudah pergi.
Jangan pernah kembali. Aku tidak mau melihatmu lagi.
Isabella membaca pesan itu sekali lagi, lalu tertawa kecil.
Tawanya terdengar menyedihkan di tengah gemuruh hujan, tetapi ia terlalu lelah untuk menangis lebih lama.
"Tenang, Dario. Aku juga sudah muak melihat wajahmu," gumamnya sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. "Kalau tahu akhirnya begini, seharusnya aku meminta bayaran setiap kali melayanimu dan keluargamu. Setidaknya, aku tidak akan diusir tanpa uang sepeser pun."
Isabella mengusap pipinya yang basah. Entah air hujan atau air mata, Isabella sudah tidak peduli.
Selama dua tahun pernikahan mereka, ia berusaha menjadi istri yang baik. Ia memasak, membersihkan rumah, mengurus berbagai kebutuhan keluarga Vescari, bahkan merawat Daud, kakak iparnya, ketika pria itu membutuhkan bantuan.
Isabella melakukan semuanya dengan harapan bahwa suatu hari keluarga kecilnya akan menjadi tempat yang nyaman untuk pulang.
Namun, ketika tubuhnya berubah setelah melewati masa-masa penuh tekanan dan kebiasaan mengabaikan dirinya sendiri, Dario mulai memperlakukannya seolah-olah ia adalah kesalahan yang memalukan.
Bagi Dario, istrinya tidak lagi pantas dipamerkan dan malam ini, pernikahan mereka berakhir dengan sebuah koper yang dilemparkan ke luar rumah.
Isabella menarik napas panjang, lalu mengangkat kopernya.
Roda koper itu tersangkut di celah trotoar, membuatnya hampir terjatuh.
"Bagus sekali!" serunya kesal. "Suamiku menceraikanku, keluarganya mengusirku, dan sekarang koperku ikut mengkhianatiku!"
Sebuah mobil melintas, memercikkan air ke kakinya.
Isabella menatap jalanan kosong dengan wajah tidak percaya.
"Kalau masih ada yang mau menyiramku malam ini, silakan antre! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi!"
Isabella tahu dirinya terdengar konyol. Namun, jika berhenti berbicara, ia mungkin akan kembali menangis. Dan, Isabella sudah muak memberikan air mata kepada orang-orang yang tidak pernah menghargainya.
Isabella mencoba menghubungi keluarganya, tetapi rumah orang tuanya berada jauh dari kota tempat ia tinggal.
Mereka tidak mungkin tiba dalam waktu singkat, sedangkan malam semakin larut dan baterai ponselnya tinggal delapan persen, ia tidak punya uang untuk menyewa hotel.
Tak punya kendaraan dan yang paling menyakitkan, tidak punya tempat untuk pulang.
Setelah beberapa menit berdiri di bawah halte, Isabella akhirnya mengingat satu nama yang mungkin bisa menyelamatkannya dari malam yang mengerikan ini.
Mirella Conti.
Sahabatnya sejak sebelum ia menikah.
Dengan jari-jari dingin, Isabella mengetik sebuah pesan singkat.
[Rel, kamu masih bangun? Aku butuh bantuan.]
Balasannya datang kurang dari semenit kemudian.
[Isabella? Kamu di mana?]
Isabella mengirimkan lokasinya. Tak lama setelah itu, sebuah mobil kecil berwarna biru berhenti di tepi jalan.
Pintu pengemudi terbuka dan Mirella berlari menghampirinya sambil membawa payung.
"Isabella!"
Mirella membelalak melihat keadaan sahabatnya, ia segera memeluk Isabella tanpa memedulikan gaunnya sendiri yang ikut terkena hujan.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?" tanyanya panik. "Kenapa kamu basah kuyup seperti ini? Dan, kenapa membawa koper?"
Isabella mencoba tersenyum, tetapi bibirnya bergetar.."Aku resmi menjadi perempuan bebas malam ini."
Mirella melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Isabella, lalu melirik koper di samping mereka.
"Jangan bilang Dario menceraikanmu."
"Dia menceraikanku karena katanya aku sudah tidak menarik lagi." Isabella mengangkat bahu, berusaha bersikap santai meskipun matanya memerah. "Ternyata dua tahun pernikahan bisa kalah hanya karena ukuran tubuhku berubah."
Wajah Mirella langsung mengeras. "Laki-laki brengsek."
"Setuju. Tapi, tolong jangan pukul dia sekarang. Aku tidak punya uang untuk menjengukmu di penjara."
"Isabella!"
"Apa? Aku sedang berusaha menghibur diriku sendiri."
Mirella menghela napas, lalu mengambil koper Isabella. "Masuk ke mobil. Kamu ikut denganku malam ini. Besok kita pikirkan semuanya."
***
Apartemen Mirella tidak besar, tetapi terasa hangat.
Begitu tiba, Isabella langsung diminta mandi air hangat dan mengenakan pakaian kering.
Mirella bahkan menyiapkan semangkuk sup panas sebelum duduk di hadapannya.
Isabella menatap makanan itu lama sekali.
"Kamu kenapa?" tanya Mirella sambil menyodorkan sendok.
"Aku baru sadar betapa menyedihkannya hidupku." Isabella mengambil sendok tersebut. "Aku bahkan hampir menangis hanya karena melihat sup."
"Kalau begitu, menangislah sambil makan."
Isabella tertawa kecil. Kali ini, tawanya terdengar lebih tulus.
Setelah makan, ia menceritakan apa yang terjadi.
Mirella mendengarkan tanpa menyela, meskipun beberapa kali rahangnya mengeras ketika Isabella menceritakan perlakuan Dario dan keluarganya.
Ketika cerita itu selesai, Mirella bersandar di kursinya.
"Kamu tidak akan kembali ke rumah itu, kan?"
"Tidak akan." Isabella menggeleng tegas. "Aku memang kehilangan suami, tetapi aku tidak kehilangan akal sehatku. Aku tidak akan memohon kepada pria yang menganggap tubuhku lebih penting daripada dua tahun kehidupanku bersamanya."
"Bagus. Sekarang kita harus mencari pekerjaan."
"Aku bisa bekerja apa saja." Isabella menatap mangkuk kosongnya. "Asalkan tidak perlu menikahi pria lain untuk mendapatkan tempat tinggal."
Mirella terdiam sejenak, lalu tiba-tiba meraih ponselnya. "Tunggu. Aku punya sesuatu."
"Apa? Lowongan menjadi penjaga kandang singa?"
"Kenapa pikiranmu selalu aneh?"
"Karena hidupku juga aneh."
Mirella memutar layar ponselnya ke arah Isabella.
Sebuah pengumuman lowongan pekerjaan terpampang di sana, lengkap dengan lambang keluarga De Luca dan alamat sebuah mansion mewah di kawasan eksklusif.
DIBUTUHKAN PENGASUH EKSKLUSIF UNTUK ANAK LAKI-LAKI BERUSIA EMPAT TAHUN.
Gaji yang ditawarkan membuat Isabella berkedip beberapa kali.
"Ini gaji bulanan atau jumlah uang yang akan kuterima jika berhasil menyelamatkan presiden?" tanyanya tidak percaya.
Mirella mendengus. "Aku serius. Keluarga De Luca sedang mencari pengasuh baru. Katanya, mereka sudah berkali-kali mengganti pengasuh karena putra mereka menolak semua orang."
"Kenapa?"
"Informasinya terbatas. Anak itu tinggal bersama ayahnya. Ibu kandungnya sudah meninggal."
Isabella membaca persyaratan pekerjaan itu dengan saksama.
Pengalaman mengasuh anak menjadi nilai tambah, tempat tinggal disediakan, dan pelamar harus melewati beberapa tahap seleksi ketat.
Namun, ada satu nama yang membuat perutnya mendadak terasa tidak nyaman.
Alessandro Vittorio De Luca.
Ia pernah mendengar nama itu. Hampir semua orang di kota ini pernah mendengarnya, meskipun tidak semua berani membicarakannya secara terbuka.
Alessandro De Luca bukan sekedar pengusaha kaya. Ia adalah kepala keluarga mafia yang pengaruhnya menjangkau jauh melampaui bisnis-bisnis legal yang dimilikinya.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu terkenal dingin, kejam, dan tidak memberikan ampun kepada orang yang mengkhianatinya.
Isabella menatap Mirella dengan wajah serius.
"Kamu ingin aku bekerja di rumah seorang mafia?"
"Aku ingin kamu punya pekerjaan, uang, dan tempat tinggal."
"Kalau aku membuatnya marah?"
"Jangan membuatnya marah."
"Kalau dia yang membuatku marah?"
Mirella memijat pelipisnya. "Demi Tuhan, Isabella, bisakah kamu tidak berdebat dengan seorang Don mafia sebelum bahkan melamar pekerjaan?"
Isabella terdiam, lalu kembali menatap pengumuman tersebut.
Ia membutuhkan uang. Ia membutuhkan tempat tinggal. Dan, ia membutuhkan kesempatan untuk membuktikan bahwa hidupnya belum berakhir hanya karena seorang pria memutuskan bahwa dirinya tidak lagi layak dicintai.
"Baiklah," katanya akhirnya, mengangkat dagu. "Aku akan melamar."
Mirella tersenyum lega. "Bagus!"
"Tapi, kalau aku diterima, kamu harus mendoakanku setiap hari."
"Kenapa?"
"Karena kalau majikanku benar-benar sekejam yang orang-orang katakan, mungkin aku membutuhkan perlindungan dari surga."
Mirella tertawa, sedangkan Isabella mulai mengisi formulir lamaran dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, di balik dinding mansion yang dijaga ketat, seorang anak laki-laki sedang menghancurkan sebuah bingkai foto karena menolak menerima pengasuh baru dan ia sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang namanya baru saja ia tulis di formulir itu akan menjadi bagian paling rumit dalam hidupnya.
***
Sementara itu, di ruang kerja yang remang-remang, Alessandro Vittorio De Luca berdiri di depan jendela dengan segelas wiski di tangan.
Matteo Ferrante, tangan kanannya, baru saja meletakkan tumpukan berkas pelamar di atas meja.
"Sudah berapa orang yang melamar?" tanya Alessandro tanpa menoleh.
"Delapan belas orang sejak pengumuman dibuka, Don."
"Singkirkan yang tidak memenuhi syarat."
"Dan, jika tidak ada yang berhasil?"
Alessandro berbalik perlahan. Tatapan gelapnya membuat Matteo menghentikan kalimat berikutnya.
"Kalau tidak ada yang mampu mengurus putraku dengan benar," ucap Alessandro dingin, "kita cari lagi sampai ketemu."
Ia meletakkan gelasnya.
"Aku tidak peduli harus mengganti berapa banyak pengasuh. Tetapi siapa pun yang bekerja di rumah ini harus memahami satu hal."
Matteo menegakkan tubuh. "Apa itu, Don?"
Alessandro menatap foto kecil putranya di atas meja. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya berubah sesaat.
"Leolin adalah satu-satunya orang yang tidak boleh mereka sakiti."
Di luar mansion, hujan masih mengguyur kota dan tanpa disadari keduanya, jalan hidup Alessandro dan Isabella baru saja mulai bergerak menuju satu sama lain.