Begu Panjang tengah patroli di peternakan hantu Malam Satu Suro. Seperti biasa pada saat ini, Menik memilih pergi. Rohnya berkelana, kemana saja dia ingin melayang. Hingga dia sampai ke pusat kota. Inul berhenti, menikmati keramaian kota. “Enak sekali jadi manusia, bisa pacaran sepuasnya,” gumam Inul ketika melihat kemesraan beberapa pasangan muda-mudi yang berkencan di tengah alun-alun kota. Mata Inul membulat saat memergoki sepasang muda-mudi yang diam-diam berciuman di bawah pohon rindang. Mendadak dia terbayang akan seorang lelaki tampan yang dulu sering mencium bibirnya. Hatinya berdesir mengingatnya. “Duh, Inul. Buat apa kamu baper toh. Paman Alfonzo melakukannya karena ingin mengeluarkan rohmu dari raga Menik toh. Dia ndak punya perasaan apa-apa

