04. Dikejar Hantu Begu Panjang

1222 Kata
Setengah jam kemudian, Inul sudah bisa bernafas lega. Ternyata orang yang diberinya amanat melalui mimpinya adalah paman bocah itu. Dia terbangun dan segera menyelamatkan bocah itu. “Terima kasih.” Sesaat Inul kebingungan, ada suara tanpa wujud. Hantu kah? Haish, mengapa dia jadi bergidik ngeri toh? Padahal dia sendiri juga hantu! “Kamu siapa toh? Tunjukan dirimu!” perintah Inul. “Nanti Kakak ngeri lihat aku.” “Endak! Hantu paling ngeri sudah pernah kulihat dan mereka takut padaku,” sesumbar Inul pongah. Yang muncul adalah hantu bocah dengan penampilan aneh. Sekujur tubuh dan wajahnya dipenuhi butiran garam. Kalau begini mah enggak ngeri, tapi mengenaskan. “Hantu garam,” gumam Inul. Kemudian dia menyadari sesuatu. “Jangan-jangan kamu bocah yang meninggal karena tersedak garam berkilo-kilo toh?” Hantu garam itu mengangguk sedih. “Yang baru Kakak selamatkan adalah adikku. Sebelumnya mereka membunuhku untuk tumbal kekayaan.” “Yang mereka lakukan itu ... jahat!” rungut Inul dengan airmata bercucuran. Dia memang cengeng, padahal yang mengalami saja tak berani menangis. “Mengapa kamu ndak menangis?” tanya Inul heran. “Ndak berani. Kalau saya nangis nanti garamnya larut terus ... saya menghilang sampai terbentuk garam baru.” Sontak Inul melongo mendengar penjelasan itu. Dia baru tahu ada hantu model aneh begini. Seharusnya dia tak heran, karena dunia hantu memang selalu up to date. Ada saja hantu model baru yang tercipta. “Kamu ... nama yang cocok untukmu adalah ... Salty!” cetus Inul antusias. Salty, nama hantu bocah itu. Dia suka sekali. Salty mengangguk senang. “Salty, Salty ... Salty. Indah, Kak! Daripada Sol sepatu,” puji Salty polos. “Atau Garamku. Atau Garamisasi.” Inul terkekeh, namun dia sontak membekap mulutnya ketika merasakan kehadiran makhluk lain yang akan datang. Hawa dingin menyeramkan yang terlalu dini dirasakannya berkali-kali menyelamatkannya dari kejaran hantu Begu Panjang yang menjadi pengawas hantu di peternakan hantu Malam Satu Suro. Semua hantu di peternakan itu harus terdaftar supaya bisa diperintah dengan semena-mena untuk tujuan tak baik. Inul adalah perkecualian. Dia hantu yang tak terdaftar di komunitas hantu Peternakan hantu Malam Satu Suro. Padahal Begu Panjang terobsesi mencari dan menemukan Inul, karena hantu ghibah itu adalah satu-satunya hantu yang tak dapat ditangkapnya. “Sialan, si b**o datang!” ceplos Inul sebal. “Siapa yang b**o, Kak?” sahut Salty polos. Inul tersenyum masam. “Dia hantu jahat, Dek. Kakak pergi dulu ya, jangan bilang kalau bertemu Kak Inul jika si b**o bertanya padamu,” pesan Inul. Inul segera melesat pergi, namun sebelum melenyapkan diri telinganya mendengar jeritan Salty. “Jangan bawa saya, Paman b**o!” Hah? Ternyata hantu Begu Panjang bukan mencarinya, tapi malah menangkap Salty! Inul jadi tak tega, dia terpaksa kembali ke tempat tadi. Inul bersiul sehingga perhatian si b**o teralih padanya. “Kamu Hantu ilang itu!” geram b**o. Inul meleletkan lidahnya, lalu segera melarikan diri untuk memancing hantu Begu Panjang mengejarnya. Benar saja, si b**o langsung mengejarnya. Inul yang mungil dengan kekuatan minim tentu bukan tandingan Begu Panjang si hantu veteran kampiun dan memiliki kemampuan tinggi. Dia tertangkap basah. “Akhirnya saya berhasil menangkapmu, Hantu ilang! Kamu adalah noda hitam dalam catatan emas karier saya sebagai komandan hantu!” cetus Begu Panjang senang. “Ampuni saya, Paman b**o ... eh, Paman Begu. Biarkan Inul menjadi hantu tak terdaftar, ya. Rugi memelihara Inul. Makan Inul buanyaaak loh. Bisa mengurangi jatah bunga menyan teman-teman hantu dan Paman b**o ... eh, Begu.” Inul memohon dengan terbata-bata. Dia memang ndak jago memohon dan memancing belas kasihan. Alhasil bukannya iba, Begu Panjang justru semakin pitam padanya. Tubuh hantu itu semakin memanjang ... siap membelit Inul. Inul memejamkan mata, ngeri melihat tubuh semolohainya remuk dibelit hantu jahat. Cup! Inul terperanjat, syok. Bukannya belitan mencekam yang dirasakan namun kecupan hangat di bibirnya. Sontak dia membuka matanya dan bertemu pandang dengan sepasang manik abu milik seorang pria yang sangat tampan. Inul ternganga lebar. Amboi, amboi ... belum pernah dia bertemu dengan pria cetar membahana seperti ini. Masa toh aslinya si b**o seganteng ini? Inul spontan mengucak-ngucak matanya. “Bagaimana kamu bisa bangun?” Pria itu bertanya dengan takjub. Dia melakukan hal yang sama, menggosok-gosok matanya yang indah. “Paman b**o?” sapa Inul tak sadar. Wajah takjub pria itu berubah sedatar tembok. “Siapa lelaki yang kamu sebut itu?” “Begu Panjang ... itu bukan nama Paman?” tanya Inul memastikan. “Saya Alfonzo de Aquera. Bukan si b**o yang panjang-panjang itu,” sinis Alfonzo. Astaga! Apa dia terdampar ke tempat lain? Inul beranjak bangun dan menatap sekitarnya. Kamar yang mewah dan sangat feminim, tapi mengapa banyak peralatan medis di dalam kamar ini? Ada banyak macamnya, dengan selang-selang yang terhubung pada ... dirinya! Inul tersentak kaget dengan mata membeliak. “Sakit apa toh Inul?” pekik Inul syok. “Inul? Siapa dia?” Alfonzo langsung menginterograsinya. “Inul itu ....” Inul menunjuk dirinya, namun ketika menyadari pria itu menatap lekat melon kembarnya ... dia segera mengalihkan jarinya lebih keatas. “Itu namaku, bukan istilah untuk dadaku,” cengir Inul. “Kamu Menik! Bukan Inul,” tandas pria itu. Inul menggeleng tegas, namun ketika tak sengaja dia menangkap bayangan dirinya yang terpantul di cermin Inul langsung terpana. Siapa gadis itu? Cantik sekali dan elegan. Bukan seperti dirinya, hantu ndeso yang bulukan! Kulit gadis itu putih mulus, wajahnya bersih dan berkilau, dengan rambut panjang yang halus tertata rapi. Walau mereka agak mirip, namun penampilannya jelas berbeda. Inul berambut agak gimbal, berkulit agak coklat, dengan wajah lusuh. “Siapa dia?” Inul menunjuk bayangannya di cermin. Alfonzo menatapnya lekat dengan pandangan misterius kemudian menghela nafas panjang. “Sepertinya kamu lupa ingatan. Menik, kamu membutuhkan bantuan psikiater untuk memulihkan kejiwaanmu.” “Inul ndak gila, Paman!” bantah Inul gemas. “Mungkin Inul ndak sengaja masuk ke tubuh ini sehingga Paman mengira Inul adalah gadis itu ... Menik!” Bukannya mengerti, Alfonzo justru kesal karena merasa dipermainkan. “Jangan membual! Bagaimana bisa kamu tertarik masuk ke tubuh ini?” sembur Alfonzo gusar. “Bisa, Paman. Percayalah, itu kenyataan,” cicit Inul yang nyalinya menciut melihat kemarahan di mata Alfonzo. “Ohya, Inul tahu!” Inul menjentikkan jarinya antusia. “Pasti karena ciuman itu!” “Ciuman?” ulang Alfonzo sembari mengerutkan dahi dalam. “Iya!” sahut Inul dengan mata berbinar. “Paman mencium Inul toh?” Alfonzo hanya diam, tak mau mengakui. Inul jadi gemas. Dia mendekatkan wajahnya pada pria tampan itu lalu ... Cup. Inul mencium bibir kokoh pria itu untuk mempraktekan apa yang dimaksudnya. Seringai nakalnya muncul seiring lesung pipit di wajah manis Inul. “Begitu, Paman. Setelah ciuman kita, Inul terussssss ....” Terus roh Inul kembali pada tubuh absurd hantunya. Tubuh yang ditinggalkannya terkulai jatuh kembali rebah di ranjang. “Menik!” panggil Alfonzo was-was. Alfonzo memeriksa keadaan Menik dan menemukan kenyataan gadis itu kembali koma. Apa dia baru saja bermimpi? Tak mungkin, dia tak sedang tidur. Lagipula ... Alfonzo menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa hangatnya kecupan gadis itu di bibirnya. Menik adalah gadis yang diselamatkannya saat Alfonzo menagih hutang ke rumah korbannya dua tahun lalu. Dia langsung jatuh kasihan begitu melihat gadis yang telah dikorbankan keluarganya dengan menjadi tumbal pesugihan. Tanpa berpikir panjang Alfonzo menyelamatkan gadis itu dan membawanya pulang. Meski Menik koma selama dua tahun, Alfonzo terus merawatnya dan berharap suatu saat kesadaran gadis itu pulih. Saat Menik tersadar, hal yang akan dilakukan Alfonzo adalah ... menikahinya! Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN