“Mari kita b******a ....” Apa Inul tak salah mendengar? Dia harus memastikannya. Lagipula ucapan orang mabuk paling tak bisa dipercaya. Hari ini tempe besok keledai ... eh, kedelai. Iya toh? “Coba, tolong ulangi sekali lagi, Paman Apokat,” pinta Inul lirih. “Inuuul ....” “Iya, Pamaaan.” Inul mengiyakan tanpa berani menatap tubuh kotak-kotak bak roti sobek itu. Dia khawatir bakal mimisan lagi. “Mari kita bercintaaa ....” BUUUK! Tak sadar Inul meninju wajah Alfonzo sangat keras. Pria itu pingsan seketika, atau tertidur saking mabuknya? Entahlah. “Mateng Inul! Mateng Inul! Paman Apokat, jangan dut!” Inul jadi panik. Dia menggoyang tubuh Alfonzo, sesaat dia lupa akan ketelanjangan pria itu. Hingga tak sengaja dia tugu monas lelaki itu. Inul berjengkit kaget. CROOOT! Inul kembali mim

