MICHAEL

1104 Kata
Michael yang sedang menatap Mikha yang berlari pergi menuju kamar Jason hanya bisa menghela nafas panjang karena kebodohannya sendiri. Seharusnya Michael tidak secepat ini mengungkapkan kalau dirinya sudah tau keberadaan mantan istrinya, Lilia. Sebenarnya sudah sejak lama Michael menduga kalau Mikha berhubungan dengan Lilia tanpa sepengetahuannya. Ketika Mikha berada di luar negeri Michael tidak bisa mengkonfirmasi dugaannya karena laporan dari bawahannya yang menyebutkan kalau Mikha sama sekali tidak berhubungan dengan orang-orang keluarga Winata, keluarga Danuar, maupun keluarga Handoko. Namun entah mengapa, hati kecilnya berkata bahwa Mikha sudah lama menjalin kontak dengan Lilia. Melihat sikap Aaron yang mendadak tidak lagi menjengkelkan setelah masuk sekolah menengah pertama pun membuat dugaannya semakin kuat kalau Mikha berhubungan dengan Lilia dan karena itulah Aaron juga jadi mengetahui kabar ibunya dan sebaliknya. Kalau Michael masih orang yang sama seperti beberapa tahun setelah perceraiannya dengan Lilia, mungkin dia akan marah sekali mengetahui fakta itu. Tetapi saat menduga-duga tentang hal itu waktu Aaron berusia remaja hingga saat ini, tidak ada perasaan marah atau pun yang lainnya saat membicarakan Lilia. Entah sejak kapan hatinya berubah seperti ini. Satu hal yang jelas dan pasti adalah saat ini Michael merindukan Lilia dan sangat ingin melihatnya dari dekat. Karena itulah Michael mulai memerintahkan pada bahawannya untuk menemukan dengan pasti lokasi keberadaan Lilia dan diketahui bahwa mantan istrinya itu sedang ada di Jakarta. Ingin sekali Michael nekat langsung terbang ke Jakarta ketika mengetahui kabar itu, tetapi dia tidak melakukannya, karea Michael tidak ingin membuat Lilia berlari kembali karena mengetahui bahwa dirinya tau keberadaan Lilia. Dulu saat menyadari puteranya terluka secara mental akibat dirinya yang bersikeras membesarkannya seorang diri, Michael mulai memutuskan untuk tidak membiarkan emosi membuatnya salah mengambil keputusan kembali. Jadi, karena itu lah hal pertama yang dia lakukan adalah mengunjungi psikiatris untuk membantunya lepas dari semuanya. Annabeth pun memberi saran-saran yang membangun sehingga Michael akhirnya pelan-pelan mulai menyelidiki kejadian yang sebenarnya, mengapa sampai Mikha bisa mengandung anak dari Albert Danuar. Hasil penyelidikannya membuat Michael tau semua itu berawal dari obsesi Ray untuk membuat kekasihnya-yang sudah berpaling hati-dan anaknya kembali ke sisinya. Ray meminta bantuan Mikha untuk melaksanakan rencanannya. Semua tau hasil akhirnya, Mikha mengandung anak Albert karena sedikit kesalahan pada malam dilaksanakannya rencana tersebut. Emosi Michael tersulut saat mengetahui hal itu. Michael merasa memang sedikit merasa bersalah karena memasukkan Ray ke rumah sakit jiwa pada saat itu, namun tidak dapat dipungkiri ternyata hal itu juga membantu sepupu Michael yang termuda itu untuk pulih dari kondisi mentalnya yang sedikit terganggu. Michael juga mengetahui bahwa setelah pulih Ray tinggal di villa keluarganya yang berada di Bandung. Ray kembali ke bangku kuliah, lulus, dan kemudian bekerja. “Michael, anda tidak tidur?” tanya Annabeth dengan bahasa indonesia yang terbata dan kaku. “Tidurlah duluan. Aku akan menelpon terlebih dahulu sebelum pergi tidur.” “Baiklah. Selamat malam.” “Selamat malam.” Walau terlihat seperti sepasang kekasih tanpa ikatan, tapi Michael tidak pernah menyentuh Annabeth. Mereka berdua bahkan tidak tidur di satu tempat tidur. Saat menginap di apartemen Mikha, Michael selalu tidur di sofa dan membiarkan Annabeth menginvansi kasur di kamar tamu. Menghela nafas, Michael mengambil ponselnya tergeletak di meja lalu memencet angka delapan cukup lama, “ikut denganku pergi ke tempat Lilia besok.” “Baik, Tuan! *** Michael keluar dari pintu mobil, merapikan setelan jas hitamnya dan mengenakan kacamata hitam. Mengamati dari kejauhan, tampak Lilia sedang duduk di taman sambil menikmati pemandangan anak-anak kecil yang bermain. Sesekali Lilia tampak mengobrol dengan ibu-ibu yang menghampirinya. Melihat pemandangan itu, membuat Michael dilanda rasa bersalah. Pasalnya Lilia bahkan hanya berada bersama putera mereka selama beberapa bulan yang singkat dan setelah Michael sama sekali tidak memberi akses bagi Lilia untuk bahkan sekedar mengetahui kabar Aaron. Michael melangkah cepat menuju pintu taman dan sekarang dia sudah berdiri sedikit lebih dekat dengan Lilia yang duduk membelakanginya. Lilia masih sibuk mengobrol dengan seorang wanita muda yang tampak senang memberitahunya tentang puteranya yang berumur satu tahun. Wanita muda itu menunjuk bayi laki-laki yang kira-kira berumur satu tahun yang berkulit putih dan tidak memiliki banyak rambut, sedang dipegangi kedua tangannya oleh seorang pria berkulit sawo matang dan berambut cepak yang tampaknya adalah ayah dari anak itu. Michael memperhatikan ekspresi lembut Lilia yang sedang menatap bayi laki-laki itu. Kalau aku tidak menceraikan Lilia, apakah aku akan melihat ekspresi Lilia yang seperti itu saat menatap Aaron yang masih kecil? Lilia tiba-tiba bangkit berdiri dan kembali berbicara dengan wanita muda itu, sepertinya mau berpamitan. Michael yang merasakan keberaniannya terkuras waktu melihat Lilia berdiri, segera berjalan menjauh dari taman karena tidak ingin Lilia mengetahui keberadaannya. Sesampainya di depan mobilnya, Michael memegang gagang pintu mobil dan membukanya, kemudian Michael masuk ke dalam mobil. Setelah supir pribadinya masuk, Michael berkata, “Kita kembali ke apartemen Mikha.” “Baik, Tuan.” Di sampingnya, Damian menatap Michael dengan seksama sebelum berkata, “kenapa Tuan tidak menghampiri Nyonya Lilia?” Michael menatap Damian dan terdiam. Salah satu orang kepercayaannya ini-selain sekertaris pribadinya, Andre-yang saat ini sedang berada di Surabaya-sedikit banyak tau kisahnya dengan Lilia, sama seperti Andre, “Tidak, kalau aku melakukan itu, aku hanya akan membuat Lilia takut.” Damian mengangguk paham, “Lalu apa yang anda lakukan setelah ini, tuan?” “Karena perusahaan cabang di Surabaya baik-baik saja selama ini, jadi aku akan kembali ke kantor pusat.” “Anda akan kembali ke Jakarta? Apa tuan muda Aaron juga ikut?” “Ya, Damian, uruslah segera keperluan penting untuk kepindahannya ke Jakarta.” “Tapi bukankah sebentar lagi tuan muda akan lulus sekolah? Kenapa anda tidak menunda kepindahan tuan muda hingga lulus nanti?” “Memang masih ada setengah tahun lagi, tapi kurasa tidak akan ada masalah. Lagipula Aaron akan senang kalau dia tau kita akan kembali ke Jakarta.” “Karena nyonya Lilia?” “Benar, Aaron pasti sudah tau Lilia tinggal di Jakarta sekarang.” Damian yang terkejut hanya bisa terdiam. “Tidak perlu heran, Damian. Dugaanku benar, selama ini adikku sendiri lah yang menjadi penghubung mereka. Aku tidak kesal atau marah, malah aku bersyukur karena Aaron berubah jadi lebih manis dan penurut setelah mengetahui kabar ibunya. Tapi kurasa komunikasi itu tidak sempurna, karena aku masih sering melihat Aaron memandangi foto Lilia diam-diam.” “Anda sudah tau kalau tuan muda Aaron memiliki foto nyonya Lilia?” “Walau pun anak muda nakal itu berusaha keras menyembunyikannya, aku akan tetap tau,” Michael tersenyum tipis. “Pokoknya, Damian, aku ingin kami bisa pindah ke Jakarta dalam waktu satu minggu," lanjut Michael lalu menatap ke arah luar jendela, pertanda ia tidak ingin diganggu lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya kesal nantinya. “Baik, saya mengerti. Saya akan menghubungi Andre untuk memintanya membantu menyiapkan keperluan kepindahan anda berdua ke Jakarta.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN