MENGHINDAR

1419 Kata
Daniella dan teman-teman kuliahnya saat ini sedang disibukkan dengan belajar. Ya tentu saja yang namanya seorang mahasiswa pasti tidak akan pernah lepas dari belajar, tetapi karena minggu ini adalah minggu khusus di mana para mahasiswa di Universitas T sedang melaksanakan ujian tengah semester. “Bagaimana kalau kita refreshing sebentar sebelum pulang?” tanya Maria. “Aku tidak ikut. Kalau keluargaku tau aku pergi bersenang-senang di minggu ujian, bisa dipotong uang saku bulananku,” jawab Daniella sambil membereskan alat tulis yang digunakannya saat ujian tadi. “Bagaimana kalau aku bilang kita refreshing di kampus?” “Hah?” Daniella dan Christine berseru berbarengan dengan nada terkejut. “Asuka bilang pertandingan basket antara universtas swasta di Jakarta, semifinalnya diadakan di kampus kita. Kalian tertarik menonton?’ “Aku tidak tau, aku tidak pernah menonton pertandingan basket,” Daniella mengangkat bahu. “Aku juga sama.” Christine menggelengkan kepalanya. “Ah, ayolah! Kalian temani aku menonton pertandingan basket. Aku tidak mau pergi sendirian, tapi kalau aku tidak datang, aku juga tidak enak dengan Asuka yang sudah mengajakku kemarin.” Daniella yang sudah selesai membereskan barangnya, menggenakkan tas ranselnya seraya berkata, “Baiklah aku ikut, tapi tidak bisa lama-lama.” Christine sendiri tetap bersikukuh tidak ingin ikut menonton. Akhirnya hanya Daniella dan Maria lah yang pergi menonton pertandingan basket. Mereka berdua segera pergi menuju lapangan olahraga indoor kampus yang terletak di gedung lain, yang tepatnya berada di gedung paling depan dekat pintu gerbang masuk utama kampus. “Asuka pasti mengajak kamu menonton pertandingan basket karena dia terpilih menjadi pemain inti kali ini ya?” tanya Daniella saat mereka sedang naik lift untuk naik ke lantai delapan, tempat di mana lapangan olahraga indoor kampus berada. Maria hanya nyengir lebar sebagai jawaban. “Kalau begini aku pun jadi curiga dengan hubungan kalian berdua. Kamu yakin kamu tidak ada perasaan apa-apa terhadap Asuka?” “Tentu saja tidak ada!” “Cepat banget jawabnya. Seyakin itu?” “Ih, Daniella! Aku kan sudah pernah menjawab pertanyaan itu.” “Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.” “Sudahlah! Ayo cepat, nanti kita tidak kebagian tempat duduk di tengah. Itu tempat yang paling pas, kamu tau?” Daniella menuruti Maria dan mengikuti Maria ke tempat duduk yang diinginkan sahabatnya itu. Pertandingan di mulai tepat sepuluh menit setelah mereka duduk di bangku penonton barisan tengah. Asuka melambaikan tangan kepada mereka ketika melihat keduanya duduk dibangku penonton. Berbeda dengan Maria yang melambaikan tangannya dengan antusias, Daniella hanya melambaikan tangan sekedarnya agar tidak terlihat seperti ogah-ogahan menonton pertandingan temannya itu. Walau pun sejujurnya Daniella memang tidak terlalu berminat menonton pertandingan basket. "Kamu menghindari aku?" Daniella terkejut ketika mendengar suara Jason dan berpikir, dari siapa dia bisa tau kalau aku ada di sini? “Daniella, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Jason bertanya seraya melangkah tepat ke samping tempat duduk Daniella. "Tentu saja tidak. Mengapa aku harus menghindari Kak Jason?" dehem Daniella. "Sibuk? Ini yang kamu sebut sibuk? Duduk di lapangan basket menonton anak-anak bermain basket?" Jason mendengus. "Ini pertandingan penting bagi Asuka tau!" sambar Daniella dengan ketus. Tanpa memperdulikan jawaban ketus Daniella dan tatapan tidak suka plus bingung dari mahasiswa lain yang turut menonton pertandingan basket, Jason menarik tangan Daniella, "Kita perlu bicara tapi di sini." Tanpa menjawab, Daniella menepis tangan Jason yang menarik tangannya. "Daniella, please! Aku hanya ingin bicara sama kamu sebentar!" "Aku enggak merasa perlu bicara dengan Kak Jason." "Daniella!" Jason meninggikan suaranya karena ia juga sudah mulai merasa kesal. "Please gak usah teriak-teriak, Kak Jason! Aku benci jadi tontonan gratis." "Makanya ikut aku sekarang!" "Berapa kali sih aku harus bilang 'aku gak mau' supaya kak Jason ngerti? Dengar baik-baik ya, I don't want to talk to you! " Daniella mendengus. Setelah merapikan barang bawannya, Daniella berpaling ke arah Maria, "Maria, aku pulang duluan ya?" Tanpa memperdulikan jawaban Maria, Daniella bangkit berdiri dan turun dari bangku penonton. "Daniella!" teriak Jason memanggilnya, tetapi tidak Daniella memperdulikannya. Sejak pertemuan terakhir mereka di kantin itu, Daniella memang sengaja menghindari Jason karena tau itulah yang harus dilakukannya. Di satu sisi, kalau Daniella tidak menghindari, Daniella tidak tau apa yang akan dia katakan pada Jason. Daniel belum tau apa-apa tentang masalah ini, karena itu Daniella tidak ingin Daniel tau dari orang lain sebelum orangtuanya mengatakannya sendiri pada kakak laki-lakinya itu. Di sisi lain, untuk saat ini Daniella memang tidak ingin terlibat dengan Jason sebelum Daniella tau yang sejelas-jelasnya tentang masalah ini. Daniella tidak ingin mengatakan hal-hal yang keterlaluan pada Jason yang mungkin saja bisa menyakiti hati saudara tirinya itu. "Daniella, please!" Jason menghadang jalannya. "Kak Jason, Jangan ganggu aku sekarang!" Daniella segera berlari pergi meninggalkan lapangan olahraga indoor tanpa mengecek apakah Jason mengikutinya atau tidak. “Mau sampai kapan kami seperti ini? Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Daniella,” gumam Jason pelan dengan sedih. "Kak Jason." "Ya?" Jason berbalik. Ah, ternyata yang memanggilnya adalah Maria, sahabat Daniella yang sepertinya ikut menonton pertandingan basket bersama gadis itu. "Sebaiknya kak Jason tenangin diri dulu, oke? Sekalian kasih waktu ke Daniella. Kalau di kejar terus begini, Daniella bakal terus-terusan kabur dari kamu, Kak!" saran Maria. Jason menghembuskan napas dengan keras, "Fine. Kebetulan juga seminggu ke depan aku ada urusan. Titip Daniella ya? Kalau terjadi sesuatu, tolong segera hubungin aku” “Okay, Kak Jason!” Maria menyetujui. "Thanks ya!" balas Jason tulus. *** Daniella menatap kosong tumbler-nya yang berisikan matcha coffee kesukaannya. Daniella memikirkan kejadian dengan Jason tadi di lapangan basket kampusnya. Daniella paham seharusnya dia tidak bersikap sekasar itu pada Jason, tetapi mengingat cerita mamanya waktu itu, entah mengapa emosinya menjadi tidak terkendali. Kalau mau menyalahkan seseorang, Daniella pasti segera menunjuk Ray Simone yang tidak lain adalah paman dari Jason, yang sudah membuat kehidupan mereka menjadi kacau seperti itu. Tetapi menyalahkan Ray juga tidak ada gunanya, karena semua ini sudah terlanjur terjadi. Lilia sudah terlanjur menjadi korban kebencian Michael terhadap Ray dan orang-orang yang terlibat dalam rencananya waktu itu. Mikha sudah terlanjur menjadi korban karena menjadi bagian dari rencana Ray, sehingga lahirlah Jason ke dunia ini. Keluarga Daniella dan keluarga Lilia sudah menjadi korban karena rencana balas dendam Michael yang ingin orang-orang yang terlibat menjadi sama menderitanya dengan adiknya, Mikha. Merasakan pundaknya di tepuk pelan, Daniella mendongak menatap tangan yang menepuk pundaknya, “Kak Leandro?” Leandro tersenyum manis lalu mengangguk. “Sedang apa di sini? Bukankah sekarang masih jam kerja?” “Boleh aku duduk?” "Tentu saja boleh, Kak Leandro. Silahkan duduk!” Leandro duduk di sebelah Daniella dan menatap gadis itu, “Kami sehabis bertemu klien sekaligus makan siang. Aku sedang menunggu Jonathan yang sedang memesan minuman, lalu aku melihat kamu duduk melamun sendirian di sini. Apa aku boleh tau apa yang terjadi?” Daniella tersenyum lalu menggeleng. “Baiklah kalau aku tidak boleh tau. Tapi apa kamu baik-baik saja?” “Aku...“ belum sempat Daniella menjawab, Leandro sudah kembali berkata, “Ah, tentu saja tidak, seharusnya aku tidak bertanya.” Daniella terkikik geli, “Kak Leandro yang tanya eh malah dijawab sendiri.” Leandro menggaruk tengkuknya. “Dia memang aneh, abaikan saja!” Jonathan menimpali sembari duduk di hadapan Daniella, “sedang apa kamu di sini sendirian?” ‘Itu yang tadi aku tanyakan padanya,” gerutu Leandro. “Tadi itu pernyataan bukan pertanyaan,” balas Jonathan pedas yang membuat Leandro berdecih. Daniella tersenyum mendengar kedua orang ini bertengkar mulut, "Hanya ingin bersantai sejenak sehabis ujian. Minggu ini aku sibuk karena ada ujian tengah semester." "Ternyata sudah waktunya ya." "Apa?" tanya Daniella tidak mengerti. “Lupakan saja pria kutub ini. Bagaimana kalau kita pergi ke arena bermain?” usul Leandro. “Arena bermain? Di mana, kak?” tanya Daniella. “Rakuzone.” “Ah, Rakuzone. Boleh saja. Mall yang di sana itu kalau begitu?” Leandro mengangguk. “Aku ikut!” Jonathan menatap Leandro tajam. Leandro pun balas menatap Jonathan tajam. Aksi tatap menatap itu berlangsung selama semenit penuh. Leandro mendesah karena kalah adu tatap dengan Jonathan, “Baiklah, aku kalah.” “Ayo kita pergi,” ajak Jonathan, “kamu bawa mobil?” Daniella mengangguk. “Mana kunci mobil kamu?” Walau bingung, Daniella tetap mengambil kunci mobilnya dari dalam tas dan mengeluarkannya. Jonathan tanpa aba-aba mengambil kunci mobil Daniella dari tangannya dan menyerahkannya kepada Leandro. “Leandro, kamu bawa mobilnya. Daniella akan ikut bersamaku.” “What?” Leandro hanya bisa terbengong karena terkejut saat menerima kunci mobil Daniella. “Bawa mobilnya!” perintah Jonathan seraya menarik tangan Daniella supaya mau ikut bersamanya. “Seenaknya saja dia!” gerutu Leandro namun tetap mengikuti Jonathan dan Daniella ke parkiran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN