“Alamat tempat tinggal ayah kandungmu sekarang."
Daniel menatap Albert lalu menatap kembali alamat yang tertera pada layar ponselnya beberapa kali sebelum bertanya padanya, “Papa yakin aku boleh bertemu dengannya?”
“Dia pasti ingin bertemu denganmu. Sebenarnya sejak kamu lahir, dia sudah meminta bertemu denganmu, hanya saja mama kamu tidak mengizinkannya. Mama kamu pasti takut orang itu membawa kamu kabur...“ Albert mengaduh karena cubitan bersarang ke pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan ulah Karina, “oke, aku salah, sudah dong nyubitnya.”
“Tidak seperti itu juga. Aku hanya khawatir Ray melakukan sesuatu pada Daniel waktu,” ucap Karina suara serak khas orang habis menangis.
“Itu sama saja kan?” Albert menggelengkan kepalanya.
“Beda!” sanggah Karina.
Albert menatap Karina dengan mata menyipit.
“Aku bilang beda, Albert. Enggak percayaan sih kamu.”
“Baiklah, aku salah. Itu memang berbeda,” ucap Albert mengalah.
Daniel tersenyum tipis melihat pertengkaran kecil nan manis kedua orangtuanya.
“Beritahu Papa kapan kamu ingin menemuinya dan kami akan mengantar kamu.”
“Tapi aku bisa pergi sendiri,” kata Daniel.
“Papa tau. Tapi papa merasa lebih baik kamu tidak menyetir sendirian saat pulangnya, jadi papa pikir sebaiknya sekalian saja papa menjadi supirmu untuk hari itu. Dan tentu saja, papa butuh mama kamu untuk menemani papa.”
Daniel memutar matanya dengan kalimat papanya yang berbelit itu. Bilang saja sejak awal kalau papanya juga ingin membawa mamanya ikut serta. Tapi Daniel merasa kekhawatiran orangtua adalah hal wajar, mengingat masa lalu diantara mereka bukanlah masa lalu yang baik.
Daniel mengangguk setuju, “Baiklah, Papa.”
“Ada satu lagi yang ingin kami bicarakan denganmu.”
“Apa yang ingin kalian bicarakan lagi? Tentang hal yang lain atau masih dalam lingkup yang sebelumnya?”
“Masalah lain,” jawab Karina cepat.
“Papa baru-baru ini bicara dengan Yuri,” kata Albert memulai.
Daniel menegang begitu papanya menyebut nama Yuri. Dia menduga papanya pasti mau membicarakan masalah Irene, “Aku tau apa yang ingin papa bicarakan.”
“Benarkah?”
“Irene.”
Albert memperhatikan dengan seksama saat puteranya itu menyebutkan nama Irene. Tidak terlihat rasa bersalah di sana karena sudah menelantarkan sahabat dekat puteri bungsunya dan malah matanya terlihat berbinar ketika menyebut nama Irene. Jelas sekali terlihat kalau Daniel menikmati kebersamaannya dengan wanita muda yang pernah menyakiti hatinya itu.
“Papa yakin kamu tau apa yang kamu lakukan dan kamu siap dengan konsekuensinya kalau pilihanmu malah berbalik menyakiti dirimu sendiri.”
Daniel mengangguk yakin.
“Baiklah, karena kamu sudah bisa menjawab seyakin itu, maka papa rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan tentang itu.”
“Albert!” protes Karina.
Albert menepuk pelan tangan Karina dan mengenggamnya. Seolah menyakinkannya kalau dia tau apa yang dilakukannya, “Kembalilah ke kamarmu.”
Daniel mengangguk dan berlalu pergi. Begitu Daniel tidak terlihat lagi, Karina langsung menyerang Albert dengan kata-kata pedasnya. Albert harus bersusah payah menjelaskan sekaligus membuat hati Karina tenang dengan keputusan yang dibuatnya.
“Bagaimana kalau Daniel menyesal?” tanya Karina sedih.
“Itu urusannya, aku tidak akan ikut campur. Lagi pula kamu sudah lihat sendiri tadi bukan? Dia begitu yakin dengan pilihannya.”
“Daniel sama sekali tidak menyesal karena sudah meninggalkan Christine dan memilih Irene kembali,” dengus Karina kemudian, mendadak merasa sebal ketika teringat hal itu.
“Tidak ada yang bisa lakukan dengan itu. Kalau pun kita memaksakan kehendak kita padanya dan menyuruhnya kembali pada Christine, itu akan tetap menyakiti Christine. Karena Daniel tidak tulus memilihnya.”
“Walau begitu, tetap saja aku berpikir kalau lebih baik kita memaksa Daniel untuk berpisah dari Irene.“
Albert menggelengkan kepalanya,”jangan keras kepala, istriku.”
Karina mendesah dengan begitu sedih.
“Aku tau kamu khawatir. karena aku sendiri juga khawatir. Tapi yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengawasi anak itu agar tidak terjebak dalam masalah yang sama.”
“Baiklah. Lalu bagaimana dengan Christine?”
“Sepertinya kamu yang harus melakukannya. Carilah waktu berbicara dengannya berdua dan katakan permintaan maaf kita padanya karena perlakuan Daniel padanya. Kamu tau, sesuatu seperti itu.”
“Baiklah, aku tau,” gumam Karina cemberut. Dia sedikit merasa sebal karena Albert meminta tolong hal yang cukup sulit kepadanya. Bagaimana pun pembicaraan dari hati ke hati antara perempuan, apalagi topiknya adalah anak laki-lakinya sendiri. Membuat perasaan Karina tidak enak, lebih dari biasanya.
Albert sendiri tersenyum tipis melihat reaksi istrinya itu. Dia mengelus lembut puncak kepala Karina, “Terima kasih atas bantuannya, nyonya Danuar,” gumamnya lembut.
***
Daniella lagi-lagi tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya. Saat ini Daniella hendak keluar rumah dan mau tidak mau melewati ruang keluarga sebelum menuju ruang tamu. Rupanya kakaknya yang bodoh itu tetap bersikeras bersama Irene dan bersikap tidak perduli pada Christine yang dia telantarkan. Bahkan orangtuanya sampai harus turun tangan membereskan kekacauan yang dibuat oleh kakak laki-lakinya itu.
Daniella pun sebenarnya lupa kalau Christine memiliki masalah yang belum tuntas dengan Daniel. Itu karena belakangan ini mereka disibukkan dengan perkuliahan, karena ujian tengah semester dan sebagainya. Bagaimana sebaiknya Daniella harus bersikap? Berpura-pura tidak tau? Daniella menghela nafas panjang. Daniel memang pintar membuatnya sakit kepala.
Ponsel Daniella tiba-tiba berbunyi nyaring hingga Daniella terlonjak kaget. Segera Daniella berlari untuk menghindari tatapan kedua orangtuanya yang tau Daniella sedang berdiri dibalik pot tanaman yang berada di depan ruang tamu. Daniel memang tadi tidak melihatnya karena Daniella tidak bersuara sedikit pun. Tapi bunyi ponsel ini jelas mungkin menyadarkan semua orang tentang keberadaannya dibalik pot.
Daniella mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo?"
"Kamu sudah siap?"
Daniella mengerutkan dahinya. Dia menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat siapa yang menelponnya. Ber’oh’ ria ketika melihat nama Jonathan tertera di layar ponselnya. Segera, Daniella menaruh kembali ponselnya di telinganya.
"Aku tinggal memakai melepas sendal rumah lalu memakai sepatu. Kak Jonathan sudah sampai?
Sudah di depan rumahmu."
"Baiklah, sebentar lagi aku keluar."
Suara gumaman terdengar lalu telepon diputus oleh Jonathan. Daniella mendesah. Bahkan menelpon seperti ini pun singkat dan dingin sekali. Untung saja Daniella bukan tipe orang yang mudah marah.
Daniella segera melepas sendalnya lalu memakai sepatu sandal berwarna peach dan segera keluar dari rumahnya. Berlari sepanjang halaman rumahnya supaya cepat sampai di depan pagar rumahnya. Mobil berwarna hitam terlihat berdiam di depan pagar rumahnya. Daniella membuka pintu pagar, keluar, dan kembali mengunci pagar rumahnya. Mengantongi kunci rumahnya, Daniella berbalik dan berlari kecil menuju pintu penumpang mobil hitam tersebut. Daniella mengetuk jendela dua kali sebagai sapaan pada si empunya mobil lalu membuka pintu mobil tersebut. Begitu duduk dengan nyaman di kursi penumpang, Daniella segera menutup pintu mobil.
“Hai!”
Suara berat seorang pria yang mendadak terdengar di telinganya membuat Daniella terlonjak. Daniella berbalik dan melihat Leandro duduk di kursi penumpang di belakang.
“Kak Leandro?”
Leandro nyengir sebagai jawaban.
“Kak Leandro ikut?”
Jonathan menghela nafas lelah, “iya dia ikut.”
Daniella mengerjapkan matanya, merasa bingung. Bukankah Jonathan hanya memesan dua tiket film?
“Dia juga punya tiket film.”
Daniella mengangguk paham.
“Tapi aku tidak akan jadi obat nyamuk bagi kalian kok,” ucap Leandro riang.
“Maksudnya?”
“Aku mengajak sahabatmu untuk ikut bersama kita.”
“Christine?”
“Bingo!” sahut Leandro, masih dengan wajah ceria dan suara yang riang. Persis seperti anak-anak yang senang karena diberi permen loli.
“Tunggu dulu! Bagaimana kak Leandro bisa punya kontak Christine?”
Leandro tersenyum lebar hingga giginya yang putih cermelang terlihat jelas, “tentu saja aku memintanya sendiri dari Christine waktu itu.”
“Di mall waktu itu?”
“Benar.”
“Ternyata kak Leandro gerak cepat ya,” kata Daniella tidak habis pikir. Daniella benar-benar tidak menyadari kalau diantara masuk satu toko ke satu toko lainnya, mereka berdua sempat bertukar nomor telepon.
“Tentu saja. Guru Jonathan kan aku, bagaimana mungkin aku kalah dari murid sendiri.”
“Hah?”
“Kamu!" Leandro langsung berhenti berbicara begitu melihat lirik tajam yang seolah menyuruhnya berhenti bicara yang dilayangkan Jonathan padanya dari kaca depan.
“Ah, bukan apa-apa,” kata Leandro cepat.
Daniella mengerutkan dahinya. Ini aneh sekali. Jelas-jelas Leandro tadi ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendadak dia berhenti. Yang Daniella tidak tau adalah bahwa tatapan Jonathan lah yang menghentikan mulut Leandro berbicara, mengungkapkan yang sebenarnya tentang Jonathan pada Daniella. Sesungguhnya Leandro tidak berniat begitu, dia hanya tanpa sadar mengucapkan itu karena ingin menyombongkan diri karena sudah mendapatkan nomor ponsel Christine tanpa Daniella ketahui. Leandro tau gadis kecil yang duduk di sebelah Jonathan ini pasti sangat ingin tau kapan dirinya dan Christine bertukar nomor ponsel.
“Lupakan saja bocah itu. Sebentar lagi kita sampai di rumah teman kamu itu, Daniella. Kita semua harus turun untuk meminta izin kepada orang rumahnya kalau kita mau membawanya pergi menonton pertunjukkan.”
Daniella cepat-cepat menggelengkan kepalanya, “Sebaiknya aku saja.”
“Kenapa?” tanya Jonathan bingung.
“Percayalah, akan lebih mudah dan lebih aman begitu,” jawab Daniella. Jonathan tidak menjawab, alisnya mengerut tanda dia tidak mengerti maksud perkataan Daniella.
“Nanti aku jelaskan,” lanjut Daniella.
Dengan saran Daniella, Jonathan menghentikan mobilnya dua rumah dari rumah Christine. Daniella mengetuk pintu pagar rumah Christine dan disambut oleh seorang perempuan paruh baya yang Daniella kenal sebagai bi Asih. Perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Christine dan membantu mama Christine dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan lainnya.
Walau sedikit terkejut melihat kedatangan Daniella ke rumahnya, Christine yang ternyata sudah siap pun menyapa Daniella dan segera mengajaknya pergi. Daniella mengatakan ada teman kuliah mereka yang mengantarkan mereka pergi, yang ditanggapi mama Christine dengan salah, mengira mereka pergi dengan Erland seperti yang biasa mereka lakukan sesekali di akhir pekan. Daniella pun hanya tersenyum menanggapi perkataan mama Daniella. Daniella tau mama Christine sedikit protektif pada puterinya dan pastinya berpergian dengan orang yang baru mereka kenal pasti akan membuat kedua pria muda tampan itu diintrograsi oleh mama Christine. Pastinya itu akan membuat mereka terlambat. Karena itulah Daniella tidak berkata apa-apa dan memilih tersenyum saja menanggapinya.
Begitu keluar dari rumahnya, Christine segera bertanya pada Daniella, “kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Kak Jonathan menjemputku lalu kami pergi ke rumahmu. Kamu tau? Kami sudah janji mau menonton pertunjukkan beberapa hari lalu.”
“Kenapa kamu harus pergi ke rumahku? Maksudku, kenapa kamu datang?”
“Menjemputmu atas permintaan kak Leandro. Nah, Christine, bukankah seharusnya aku yang bertanya. Kapan kamu dan kak Leandro bertukar nomor ponsel?”
“Eh?”