BICARA PART II

1682 Kata
Mikha menunggu kedatangan kakaknya yang sedang pergi bersama Jason ke sebuah acara pemakaman siang tadi. Mikha sengaja beralasan sakit supaya tidak harus pergi ke acara pemakaman kolega Michael, karena dia harus bertemu dengan Lilia dan Karina tadi. Untungnya Annabeth tidak tinggal di apartemen selama kedua orang kesayangannya itu pergi dan untungnya juga Annabeth pulang kembali ke apartemen beberapa waktu setelah Mikha sampai, jadi tidak ada yang tau kalau Mikha tadi pergi keluar selama beberapa jam. Karena merasa kedua orang kesayangannya itu tidak mungkin bisa makan malam sepulang dari pemakaman, maka Mikha membuat camilan sederhana yang cukup mengenyangkan perut mereka. “Mom?” panggil sebuah suara yang sangat familiar di telinga Mikha yang membuat Mikhat tersenyum mendengarnya. “Di dapur!” sahut Mikha. “Sedang memasak malam-malam begini?” tanya Jason begitu masuk ke area dapur dan melihat Mikha sedang sibuk menata makanan di piring. “Mom pikir kalian pasti tidak makan dengan nikmat di acara itu, jadi Mom buatkan kalian camilan malam.” “Mom tau saja kalau sekarang aku lapar.” “Ayo bantu Mom bawakan ini ke meja makan.” Jason menurut dan segera membawa dua buah piring berisi roti gandum yang dipanggang diatas teflon rata kedua sisinya, ditengahnya sebagai isian terdapat daging sapi cincang yang digoreng hingga matang merata, daun selada, timun dan tomat yang dipotong cukup tipis, lalu ditambahkan baluran saus pedas korea dan mustard. Begitu meletakkan dua piring berisi roti panggang itu di meja makan, Jason menundukkan sedikit badannya dan mengendus wangi sedap yang menguar dari roti. “Mommy yang terbaik!” ucap Jason gembira membuat Mikha tersenyum mendengarnya. “Kamu memasak?” tanya Michael yang baru tiba di ruang makan setelah berganti baju. Mikha mengangguk, “Kakak ingin memakannya atau tidak?” “Nanti saja aku makan. Mikha, ayo ke ruang tamu sebentar. Bukankah ada yang ingin kamu bicarakan?” “Ke ruang kerja saja. Aku butuh sedikit privasi.” “Baiklah,” sahut Michael menyanggupi lalu berbalik menatap Annabeth, “kembalilah ke kamar terlebih dahulu.” Annabeth mengangguk lalu segera masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Michael dan Mikha yang sudah berada di ruang kerja, duduk berhadapan. Mikha menggengam kedua tangannya erat-erat, merasa tegang sekaligus bingung harus memulai dari mana. “Bicaralah,” kata Michael. “Aku...“ “Kalau kamu diam begitu, mana aku tau apa yang ingin kamu bicarakan. Aku kan tidak bisa membaca pikiranmu, Mikha.” Mikha mengigit bibirnya, namun dia masih tetap diam. “Mikha, bicaralah!” tegur Michael. “Apa Kak Michael sudah lama tau keberadaan kak Lila?” Michael menatap Mikha selama beberapa detik sebelum mendesah, “Jadi itu yang ingin kamu bicarakan.” “Aku sengaja meminta berbicara di sini supaya Jason tidak bisa mendengarnya. Aku tidak mau dia jadi cemas.” “Apa aku seburuk itu?” gumam Michael sangat pelan. “Apa?” “Bukan apa-apa,” sahut Michael. “Jadi?” “Kamu benar.” “Sejak kapan?” “Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Aku mengetahuinya baru-baru ini, makanya aku kembali ke Jakarta. Tetapi sejujurnya aku sudah lama mencurigai kalian.” “Curiga? Kalian?” “Mencurigai kamu berhubungan dengan Lilia diam-diam dibelakangku.” Perkataan Michael itu membuat Lilia menarik nafas dan sempat lupa menghembuskannya lagi kalau Michael tidak memperingatkannya untuk bernafas. Michael bangkit dari duduknya dan duduk di meja kerjanya supaya bisa berhadapan lebih dekat dengan adiknya itu. “Santai saja, Mikha. Aku tidak akan melakukan apa-apa.” Mikha menatapnya tajam penuh rasa curiga. “Tidak untuk saat ini.” “Kak Michael!” seru Mikha seraya menatap kakaknya tajam. “Aku janji Mikha, aku tidak akan menyakiti Lilia atau keluarganya lagi.” “Lalu mengapa kakak mengatakan ini padaku?” “Karena kamu bertanya padaku.” “Aku serius!” sahut Mikha kesal. “Aku juga serius, Mikha. Pokoknya kamu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Aku butuh waktu untuk menemui Lilia. Kalau tebakanku benar, Lilia juga butuh waktu. Dia pasti sangat membenciku hingga tidak ingin berurusan denganku lagi bukan?” “Kak Michael memata-mataiku ya?” Michael mengacak-ngacak rambut Mikha gemas, “Untuk apa aku melakukan itu?” “Kak Michael, jangan mengacak rambutku! Aku bukan anak kecil lagi, sekarang ini aku ini seorang ibu!” “Bagiku kamu tetap adik kecil kesayanganku.” Mikha berdecih, “Sudahlah, aku kembali ke kamar duluan.” “Mikha!” panggil Michael. “Ya?” “Apa menurutmu saat ini Lilia membenciku?” Mikha tertegun mendengar pertanyaan itu. Melihat adiknya tidak menjawab, Michael tersenyum miris. Dia sudah tau jawabannya tanpa Mikha menjawabnya. Michael berbalik dan menatap jendela seraya berkata, “Lupakanlah.” Mikha menuju kamarnya dengan pandangan kosong karena terlalu kaget dengan pertanyaan Michael tadi. Apa maksudnya kakaknya bertanya begitu padanya? Apa sebenarnya yang Michael rencanakan? Memasuki kamarnya, hal pertama yang Mikha cari adalah ponselnya. Dia langsung meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas dan mengirimkan pesan pada Lilia. Menceritakan secara lengkap pembicaraannya dengan Michael barusan. Hal itu sekaligus untuk memperingatkan Lilia kalau Michael memang memang sudah tau keberadaan Lilia dan juga memberitahu kecurigaan Mikha pada Lilia kalau kakak laki-lakinya sudah tau apa yang terjadi diantara dirinya, Ray, Karina, dan juga Albert. Tidak lupa Mikha menuliskan pertanyaan terakhir kakaknya yang membuatnya kaget itu. Pesan balasan Lilia singkat sekali. Mikha gemas dibuatnya. Lilia sama sekali tidak membahas soal pertanyaan terakhir itu. Aku mengerti. Akan kusampaikan pada Karina mengenai hal ini. Terima kasih, Mikha. Kemudian mendadak terpikirkan oleh MIkha kalau Michael mungkin berencana untuk membuat Lilia kembali ke sisinya. Dan kalau itu benar, kalau memang kakaknya berencana membuat Lilia kembali padanya, itu akan jadi hal tersulit yang pernah kakaknya lakukan. Karena Mikha tau seberapa besar ketakutan dan kebencian Lilia pada Michael yang telah memanfaatkan perasaan cinta Lilia pada kakaknya itu hanya untuk sebuah pembalasan dendam yang tidak pada tempatnya. *** Karina menatap suaminya begitu menerima pesan dari Lilia, “Mikha hanya bertanya soal Lilia pada Michael.” “Apa katanya?” tanya Albert. “Katanya Michael sudah tau tentang Lilia tapi baru-baru ini saja taunya.” “Mikha yakin itu benar? Dia percaya itu?” “Entahlah, Albert. Menurutmu kata-kata kedua bersaudara itu bisa dipercaya?” “Aku tidak tau.” “Lalu menurutmu, apakah kalau dia tau tentang kak Lila berarti dia sudah tau mengenai semuanya?” “Aku pikir begitu. Dari sifatnya, aku pikir dia bukan tipe orang yang mencari tau tentang satu hal secara setengah-setengah.” Pembicaraan mereka terhenti karena Daniel memasuki ruang kerja Albert. Segera mereka duduk tegak dan memasang sikap serius karena apa yang akan mereka bicarakan ini termasuk hal yang penting. Dengan perlahan, Karina menceritakan masa lalunya. Mulai dari awal pertemuannya dengan Ray hingga masa-masa setelah dia menikah dengan Albert. Itu termasuk berbagai masalah yang keluarga besar mereka hadapi karena Michael. Karina juga menceritakan rencana mereka yang ingin bertemu Michael dan membicarakan semuanya, serta kecurigan mereka bahwa sebenarnya Michael sudah tau semua hal ini cukup lama. Daniel menatap kedua orangtuanya dengan tajam, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari kedua orangtuanya, “Mama dan papa bercanda bukan?” “Mana mungkin mama membicarakan hal ini sebagai bahan candaan,” jawab Karina sedih. "Jadi, itu benar?" Karina mengangguk, “Kamu dan Daniella benar memiliki papa yang berbeda. Maafkan mama baru memberitahu kamu sekarang.” Daniel meneguk ludahnya keras, “Lalu siapa papa kandung aku?” “Kamu mendengarkan dengan baik cerita mama tadi bukan? Teman kuliah mama itulah papa kandungmu.” Daniel menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling menggengam erat sampai-sampai terlihat urat nadinya. “Daniel,” panggil Karina lembut. “Ray?” lirih Daniel bertanya. “Benar.” Melepaskan genggaman kedua tangannya, Daniel menghela nafas lalu duduk bersandar, “Pasti dia juga yang menyebabkan masalah-masalah datang menghampiri keluarga kita beberapa tahun lalu bukan?” “Daniel!” tegur Karina lembut. “Di mana dia sekarang?” Daniel kembali bertanya, mengabaikan teguran mamanya. “Kamu mau bertemu dengannya?” “Aku hanya ingin tau siapa pria b******k yang membuat mama menderita karena hamil aku di usia semuda itu,” sinis Daniel. “Daniel, Mama tidak pernah berkata mama menderita saat hamil kamu!” “Aku tau, Mama! Aku tau Mama berkata kalau mama tidak menderita saat itu! Tetapi tetap saja, orang bodoh pun pasti paham kalau hamil tanpa menikah di usia semuda itu pasti merasa menderita walau Mama berkata tidak pada kami!” teriak Daniel marah. “Hentikan, Daniel!” hardik Albert keras pada putra sulungnya itu. Karina mengusap lengan Albert, agar suaminya itu tidak bersikap terlalu keras pada putra mereka. Albert mendesah berat, “Papa tidak tau perasaan mama kamu saat itu, tetapi melihat kamu menyembunyikan kehamilan sampai harus cuti kuliah lalu ketika kamu lahir pun tidak bisa memberitahukan dengan pasti keberadaan kamu bahkan kepada rekan kerjanya saat itu, pastilah mama kamu merasa berat.” Dengan pandangan ‘sudah ku bilang kan’ Daniel menatap Albert. “Tapi Papa yakin Mama kamu tidak merasa menderita, karena baginya kamu juga adalah salah satu sumber kebahagiaan Mama kamu,” kata Albert melanjutkan. Daniel mendengus mendengarnya. Pikirnya, siapa yang percaya itu? “Papa tidak menyangkal kalau mama kamu sempat tidak percaya diri waktu papa ajak menemui orangtua papa. Karena kita di Indonesia yang orang-orangnya berpandangan buruk terhadap orang-orang yang hamil di luar pernikahan seperti mamamu. Tapi papa berhasil meyakinkan mama kamu, kalau perasaan minder-nya itu tidak perlu, karena orangtua papa cukup terbuka dan paham kalau mama kamu juga tidak menginginkan menjadi seperti waktu itu. Sekali lagi papa yakinkan kamu, mama kamu tidak menderita dan juga tidak menyesal memilih mempertahankan kamu!” Karina hanya mengangguk karena sudah menangis sesengukkan hingga hampir tidak sanggup bicara sejak Daniel berkata bahwa dirinya menderita sendirian karena memiliki anak di luar pernikahan di usia yang semuda itu. Albert mengusap punggung Karina perlahan, menenangkannya. Melihat itu, Daniel merasa bersalah karena sudah berkata sekeras itu. “Daniel minta maaf, Mama,” ucap Daniel dengan lirih. Albert mengangguk puas melihat puteranya itu meminta maaf pada istrinya. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Jarinya menari lincah diatas ponsel. Beberapa detik kemudian terdengar suara pesan masuk di ponsel Daniel. Daniel pun segera melihat ponselnya, menatap papanya bingung saat melihat nama papanya muncul sebagai pengirim pesan. “Alamat tempat tinggal ayah kandungmu sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN