Albert datang dua puluh menit kemudian. Mikha tanpa basa-basi kembali menceritakan tentang masa lalu mereka seperti yang tadi diceritakannya pada Karina. Karina yang tidak ingin mendengarkan hal itu lagi, memilih berbincang dengan Lilia.
“Jadi begitu rencanamu,” ujar Albert setelah Mikha membeberkan rencananya untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya terjadi masa lalu pada Michael.
“Benar.”
“Tapi apa kamu pernah berpikir bahwa mungkin saja Michael sudah tau?”
“Apa?” tanya Mikha terkejut dan tidak mengerti.
“Mendengarkan kamu membuatku berpikir walau Michael adalah orang yang sangat keras kepala, tetapi dia juga tidak bodoh. Michael bisa menyelidiki siapa yang membuat kamu mengandung waktu itu, walau dia tidak menyelidiki secara dalam, dia tetap menemukan kami terlibat bukan? Kamu berpikir, setelah bercerai dengan kak Lila dan merasa balas dendamnya sebagian kecil telah berakhir, dan memilih fokus membalaskan dendam pada keluarga kami berdua seperti yang kamu katakan barusan. Tapi apa kamu tidak memikirkan kemungkinan kalau kakakmu itu pernah menyelidiki tentang semua ini secara menyeluruh tanpa sepengetahuan kamu, Jason, dan Aaron?”
Mikha dan Lilia ternganga sangking terkejutnya mendengarkan perkataan Albert yang mungkin saja benar.
“Mungkinkah?” Karina memiringkan kepalanya ke arah Albert sambil menatap suaminya itu penuh tanya.
“Itu mungkin saja. Michael itu cerdas, kalau tidak mana mungkin dia bisa mengambil alih memimpin perusahaan keluarga kalian?”
“Kata-katamu masuk akal, aku hanya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu,” ujar Mikha yang sudah pulih dari keterkejutannya.
“Sebaiknya kamu cari tau tentang ini, baru setelahnya kita bicarakan lagi mau berbuat apa.”
Mikha mengangguk, “Aku mengerti.”
“Kalau begitu sebaiknya kami pulang,” ucap Karina seraya merapikan tasnya, “aku rasa tidak baik membiarkan anak-anak kami terlalu lama di rumah tanpa kami.”
“Tunggu sebentar, sebelum aku lupa lagi, ada yang ingin aku tanyakan!” Mikha mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Lilia sepenuhnya, “apa kak Michael ada pernah terlihat di sekitar kakak beberapa hari ini apa dia pernah menemui kak Lila?”
Wajah Lilia pias seketika, “Apa Michael sedang berada di Jakarta?”
Mikha mengangguk, “Dari pembicaraan kami berapa hari lalu, sepertinya kak Michael sudah tau keberadaan kak Lila.”
Karina memelototi Mikha, “Dan kamu baru mengatakan ini sekarang?”
“Aku berniat menanyakan keesokan harinya, setelah aku tau ini dari kak Michael sendiri malam itu. Tetapi karena kesibukan di tempat kerjaku, aku jadi melupakannya. Maaf,” lirih Mikha.
Lilia berusaha tersenyum untuk menenangkan Mikha. Menepuk-nepuk pelan lengan mantan adik iparnya itu dan berkata, “Aku tau kalau aku tidak bisa bersembunyi selamanya dari Michael.”
“Kak Michael belum menemui kakak?”
Lilia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tau itu berita baik atau berita buruk,” desah Mikha.
“Aku akan berhati-hati. Tenangkan sedikit dirimu, Mikha.”
“Menginap di rumah kami saja, kak Lila. Lebih aman bersama kami bukan?” usul Karina segera, karena dia merasa sangat khawatir.
Lilia mengangguk setuju, “Aku akan minta seseorang mengirimkan pakaianku ke rumah kalian dan aku akan ikut ke rumah kalian langsung.”
“Itu bagus!” ucap Karina puas. Mikha pun mengangguk karena merasa itulah keputusan yang paling tepat.
“Kalau begitu, sebaiknya kita semua pulang sekarang,” kata Albert.
Ketiga orang lainnya mengangguk setuju. Mereka semua memang sudah terlalu lama di restoran ini dan malam sudah hampir tiba, jadi sudah saatnya mereka untuk pulang. Mikha pamit dan berjalan cepat keluar dari restoran. Lilia menjelaskan alasannya kepada sepupu dan sepupu iparnya itu dan mereka paham. Walau dalam hati Karina, dia sedikit merasa cemas karena berada satu kota dengan Michael saat ini. Tapi karena Lilia bersikeras bahwa Mikha sudah bersikap ekstra hati-hati agar bisa bertemu mereka, maka Karina pun melepaskan keresahan hatinya.
“Papa? Mama?”
Terdengar suara Daniella menyapa ketika mereka bertiga sedang berjalan menuju pintu keluar mall.
“Daniella, sedang apa kamu di sini?” tanya Albert, matanya memindai seorang pria muda yang terlihat dekat dengan putrinya itu.
“Keliling-keliliing mall aja sama Christine dan teman-teman kami.”
“Teman?”
Daniella berdehem, “Pa, kenalin ini—“
“Nama saya Jonathan Adam,” Jonathan memotong perkataan Daniella seraya mengulurkan tangannya pada Albert. Leandro yang berdiri di samping Christine pun mengagguk dan ikut memperkenalkan dirinya.
“Albert Danuar,” Albert menyambut Jonathan uluran tangan Jonathan, menggengam keras tangan pria muda itu sebagai peringatan kecil dia agar tidak berani macam-macam dengan putri kesayangannya. Hal yang sama juga Albert lakukan pada Leandro, karena Christine sudah begitu dekat dengan keluarganya, maka menurut Albert tidak ada salahnya kalau dia juga memperingatkan pria muda yang berdiri di sisi Christine.
“Daniella, ikut pulang bersama kami. Nanti mobil kamu akan Papa minta seseorang membawanya pulang,” kata Albert pada Daniella kemudian.
“Tapi Christine?” protes Daniella.
“Tentu saja Christine ikut pulang dengan kita.”
“Ah, tidak perlu repot, om Albert. Aku bisa pulang sendiri kok,” Christine segera menyahut karena merasa tidak enak jika harus diantarkan pulang oleh Albert.
Melihat kedua anak gadis di hadapannya bersikeras menolak pulang, akhirnya Karina maju menengahi, “Daniella untuk kali ini saja turuti permintaan Papa kamu ya? Christine juga ikut saja pulang bersama kami, karena tidak mungkin kami meninggalkan kamu di sini padahal kamu pergi bersama Daniella.”
Christine mengangguk pasrah.
Melihat reaksi sahabatnya, Daniella pun terpasksa menyetujuinya, “Kalau mama tidak keberatan, tunggu kami di pintu keluar sana, nanti kami menyusul?”
Karina mengangguk, Jangan terlalu lama!”
“Okay, Mama!”
Sepeninggal mama dan papanya, juga kedua orang lainnya, Daniella langsung menggandeng Christine dan meminta maaf pada kedua orang itu karena mereka harus pulang duluan.
“Tidak apa-apa, santai saja. Cepat pergi sebelum kedua orangtua kamu memarahi kami nanti karena kami terlalu lama menahan kalian,” kata Leandro.
“Pergilah, tidak apa-apa!” Jonathan juga menyetujui perkataan Leandro.
“Sampai bertemu lain waktu, gadis kecil,” kata Leandro kemudian sebelum mereka berpisah jalan.
Daniella dan Christine melambaikan tangan mereka pada kedua pria muda tampan itu sekali lagi sebelum berbalik pergi menuju pintu keluar mall. Yang cukup mengejutkan dan membuat Daniella senang setelahnya adalah Lilia ikut bersama mereka pulang ke rumah. Ternyata Lilia setuju untuk ikut pulang ke rumah mereka adalah karena Lilia butuh berbicara lagi dengan Karina dan memutuskan untuk menginap sehari di rumah mereka. Kata Lilia, besok Lilia baru akan kembali ke apartemennya.
Sesampainya di rumah, Karina langsung mengajak Lilia untuk berbicara berdua saja, “kak Lila, kita tidak akan bertemu Michael dalam waktu dekat bukan?”
Lilia menggelengkan kepalanya.
“Syukurlah, karena jujur saja aku benar-benar tidak bisa membayangkan pertemuan itu berakhir baik. Walau selama pernikahan kalian aku sudah bertemu dengan mantan suami kakak beberapa kali, tetapi kami benar-benar tidak pernah berbicara bukan? Dari jauh saja sudah terlihat kalau orang itu dingin dan mengerikan.”
“Huss, bagaimana pun dia mantan suami kakak.”
“Lah kok jadi belain sih? Masih suka ya?” goda Karina.
“Bukan begitu. Lagi pula tidak baik membicarakan kejelekkan orang lain seperti ini.”
“Maaf, Kak Lila. Aduh, aku jadi lupa apa yang ingin aku bicarakan,” keluh Karina yang membuat Lilia tertawa, “kamu belum setengah abad saja udah mulai pikun, Karina.”
Lilia akhirnya mengajak Karina mengobrol ringan dengan maksud membiarkan Karina perlahan-lahan mengingat apa yang ingin dibicarakan setelah membicarakan Michael tadi. Syukurlah, beberapa saat kemudian Karina ingat apa yang ingin dibicarakannya.
"Maafkan aku, Kak Lila. Semua masalah ini terjadi karena kami," kata Karina memulai. Karina tiba-tiba teringat pembicaraan mereka berempat di restoran tadi.
"Tidak, Karina! Kamu tau kalau Itu bukan salah kalian. Aku yang salah karena terlalu mempercayai Michael padahal papa sudah memperingatkanku bahwa dia tidak suka karena tidak bisa membaca Michael. Kamu paling tau karena pekerjaannya, papa adalah orang yang paling pintar membaca orang lain bukan?”
Karina mengangguk, “Tidak ada hal yang bisa kita sembunyikan dari om Martin.”
“Kalau begitu, apa kamu tau kalau papa tidak pernah menyukai Michael?"
Karina menggeleng pelan.
“Nah, kalau begitu kamu tau sekarang," uja Lilia sedikit bercanda.
"Semua karena hubunganku dengan Ray dulu, sehingga akhirnya semua menjadi rumit seperti sekarang."
"Jangan bicara begitu. Kalau saja aku tau, aku pasti akan melepaskan Michael jauh sebelumnya. Bahkan Michael tidak pernah membicarakan tentang adiknya, kalau bukan karena aku melihat foto keluarga lengkap mereka, aku tidak akan pernah tau Michael memiliki seorang adik perempuan. Mantan mertua kakak pun tidak pernah berbicara sepatah kata pun mengenai Mikha, maka dari itu kakak tidak pernah tau.”
“Aku mengerti, Kak Lila.”
“Lagi pula setelah mendengar ceritanya, kamu pasti paham alasan mengapa mantan mertua kakak tidak mengetahui kondisi Mikha.”
“Aku bisa menduganya. Mantan ibu mertua kakak juga orang Indonesia kan? Mungkin itu sebabnya keluarga mantan suami kakak, jadi pembicaraan mengenai kehamilan diluar pernikahan itu pasti masih tabu."
Lilia mengangguk, "Ya, kamu benar, Karin. Mantan ibu mertua kakak, tante Ellen, berasal dari Surabaya."
"Apa menurut kakak, om Martin tau siapa kak Michael itu sebenarnya sehingga beliau menjadi bersikap seperti itu pada kak Michael?"
"Mungkin saja. Aku tidak pernah tau kenapa papa tidak menyukai Michael, papa hanya pernah berkata kalau Michael tidak baik untukku. Mungkin aku akan bertanya pada papa nanti kalau mampir ke rumah nanti."
"Ngomong-ngomong soal itu, kapan kakak berniat pulang ke rumah?" Karina bertanya ingin tau, karena walaupun baru beberapa waktu Lilia berada di rumahnya, tetapi kakak sepupunya itu sudah cukup lama berada di Jakarta.
"Nanti juga aku akan pulang ke rumah, tapi tidak dalam waktu dekat," jawab Lilia lesu.
Karina mengusap punggung Lilia perlahan. "Aku mengerti, kak. Jangan memaksakan diri kalau kakak belum siap. Kalau kakak mau, aku bersedia menemani kakak pulang."
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Tapi terima kasih, Karina."
“Karena sudah malam, bagaimana kalau kita beristirahat terlebih dahulu? Kalau ada yang ingin dibicarakan lagi, kita bicara setelah makan malam saja.”
Lilia mengangguk setuju, “Baiklah.”
***
Keesokan harinya, Karina dan Albert menghentikan Daniella yang hendak masuk ke kamarnya sehabis dari kampus.
“Ada apa mama?” tanya Daniella setelah duduk di kursi ruang tamu.
Karina menjawab bahwa mereka harus membicarakan perihal Jason dan beberapa hal penting lainnya. Daniella menatap mama dan papanya dengan pandangan tidak mengerti, “Mengapa hanya aku yang mendengarkan ini?”
“Bagaimana pun kami tidak mungkin membawa kamu ke pembicaraan kami dengan Daniel nanti, jadi kami ingin membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan kamu, sayang,” jawab Karina yang mengerti maksud yang sebenarnya dari pertanyaan Daniella.
Albert mendesah lalu bangkit berdiri, “Sebaiknya kalian bicarakan ini berdua saja dan jangan membicarakannya di sini.”
“Ah, Papa benar! Kalau tiba-tiba Bang Daniel pulang, kita bisa kebingungan mencari-cari alasan kenapa kita berbicara begitu serius,” sahut Karina. Daniella yang paham maksud papanya pun menganggukkan kepalanya.
“Mungkin saja Daniel mencuri dengar tanpa kita tau saat kita sedang berbicara.”
Daniella yang teringat kejadian Daniel menguping pembicaraan kedua orangtuanya di kamar pun mengangguk setuju, “Baiklah, mama.”
Daniella membawa Karina ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Tindakan Daniella itu membuat Karina menatapnya bingung, “Kalau pintunya terbuka bisa saja Daniel mencuri dengar dari balik pintu, mama, seperti waktu itu.”
“Waktu itu?”
“Apa mama dan papa tidak menyadarinya keberadaan bang Daniel di balik pintu? Beberapa hari lalu, di malam hari, ketika mama dan papa membicarakan tentang Jason di kamar, bang Daniel mendengarkan pembicaraan kalian dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Well, aku juga sedikit mendengarkan sih,” kata Daniella malu-malu seraya menggaruk tengkuknya.
“Jadi kamu bilang, saat itu kakakmu mendengarkan pembicaraan kami?”
“Tapi aku tidak tau dari mana dan sampai mana bang Daniel mendengarkan pembicaraan kalian.”
“Astaga!” Karina menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kalian tidak membicarakannya dengan terlalu jelas kan?”
Karina melepaskan kedua tangannya yang menutupi wajahnya lalu menatap Daniella dengan muram, “Kami membicarakan masa lalu, tentang papa kandung Daniel dan mama sewaktu kuliah.”
“Menurut Mama apa Bang Daniel ada menduga sesuatu?”
“Entahlah, sayang.”
Daniella menghela nafas panjang, “Kalau begitu tidak ada jalan lain, selain kalian harus cepat membicarakan ini dengan bang Daniel, sebelum dia tau dari sumber lain.”
“Meminta tolong pada Yuri lagi ya,” erang Karina.
“Mungkin saja, Mama.”
“Astaga!” Karina kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedetik kemudian Karina menurunkan tangannya, mendongak menatap Daniella.
“Sebaiknya kita ke sampingkan dulu masalah itu. Sekarang dengarkan dengan seksama apa yang akan mama katakan!” lanjut Karina.