Romeo mendengar suara bantingan pintu dan juga deru mobil yang mulai melaju. Dia pun keluar dan melihat kondisi di ruang tamu. Saphira masih menangis sambil terduduk di lantai. Sementara pintu terbuka, dari sana dia bisa melihat mobil yang tadi mereka tumpangi sudah melaju keluar dari halaman rumah. “Ada apa?” Romeo mendekat ke arah Saphira. Tapi, dia mengangkat satu tangannya. dia menolak untuk didekati oleh Romeo. Sudah cukup baginya merasa kalut dan takut. Dia ingin sendirian sekarang. “Cukup, keluarlah!” ucapnya dengan lirih. Masih terdengar isakan dan juga sesenggukan dari bibirnya. “Baiklah, baiklah, aku akan pergi. Jangan segan untuk menghubungiku, jika kamu membutuhkan sesuatu.” Romeo tidak melanjutkan niatnya mendekati Saphira. dia memilih untuk pergi saja dari sana. Sebab,

