Fiona memegang perutnya yang masih datar itu dengan tatapan yang kosong. Dia tenggelam dalam pemikirannya saat perkataan Rafael tergiang-giang. Pria itu mengatakan bahwa nyawanya akan melayang jika dia tetap mempertahankan anak ini. Ini adalah anaknya dan dia tidak ingin menyingkirkan anak ini. Fiona berkata dengan lirih saat dia meraih tangan suaminya, “Rafael! Dia adalah anak kita juga. Kau belum pernah merasakan getarannya. Hanya aku yang bisa merasakan gerakannya.” Rafael memandangi istrinya dengan perasaan yang sakit tetapi dia menekan perasaan itu dengan menenangkannya, “Fiona! Itu hanya ilusimu. Lagi pula, bayi kita masih belum membentuk dengan sempurna.” “Omong kosong apa yang kau bicarakan! Ini bukan ilusi tapi faktanya! Kau tidak tahu tentang ini! Aku akan mempertahankanny

