Sudah pagi, Sarena terbangun ketika melihat cahaya terlihat jelas mengganggu matanya, Sarena membuka pejaman matanya dan menoleh melihat suaminya yang saat ini duduk di sofa tunggal tak jauh dari teras kamar mereka. Sarena tersenyum dan berkata, “Pagi, Sayang.” Sarena menekan kepalanya karena sakit. “Sepertinya aku pengar.” “Bagaimana tak pengar kalau kamu itu bekerja dengan giat semalam.” “Maksudnya?” “Kamu sampai jatuh ke pelukan Giozan.” “Aku? Dia yang antar aku pulang kemarin? Tapi, aku lihat kamu ada di bar. Jadi, tidak mungkin.” “Iya. Aku memang ke bar, dan aku menarikmu kasar.” “Kenapa?” “Karena aku tidak suka istriku begitu senang menghabiskan waktu sendiri.” “Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu, tapi aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi. Yang aku tahu kamu

