“Kamu diluar aja. Biar Papi aja yang masuk.” “Tapi aku ikut kesini kan buat nemenin Papi ketemu sama kolega.” “Kamu enggak tahu apa-apa. Ini udah belanja aja sana,” ujar Ridwan sambil memberikan sesuatu dari dompetnya untuk Arken. Laki-laki itu meneguk ludahnya pelan saat sebuah black card keluar dari kantong Papinya. “Boleh sepuasnya, Pi?” “Boleh, tapi belikan juga oleh-oleh untuk Adel... juga Mami kamu.” Setelah mengatakan itu Ridwan masuk kedalam ruangan sebuah hotel bintang lima yang menjadi tempat pertemuan mereka. Arken mematung ditempatnya ketika mendengar ucapan Sang Papi. Ia tahu bahwa lelaki itu masih memiliki rasa peduli pada Maminya. Tentu, hampir dua puluh tahun mereka bersama setidaknya pasti ada sesuatu membuat meraka merasakan cinta. Sebenarnya ia juga kesal dengan A

