“Oh, ini jadi alasan lo enggak angkat telpon gue, Ras?” “Arken?” “Cih, udah bikin susah. Sekarang dia malah nyalahin lo, Ras. Bener-bener enggak guna.” “Lo enggak usah ikut campur.” Arken menatap tajam ke arah Dimas yang kini terkekeh sambil menggelengkan kepalanya menatap Arken. Pria yang berdiri kembali memusatkan perhatiannya pada gadis itu yang nampak tenanh-tenang saja. Wajahnya sama sekali tak menampakan emosi apapun. Tenang, bak ombak pasang namun sewaku-waktu bisa berubah ganas dan mematikan. “Lo kenapa enggak angkat telpon gue?” Laras mendongak menatap lelaki itu. Dalam hatinya, Laras bersyukur lelaki itu baik-baik saja dan tak kurang satu pun walau kini emosinya sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, Laras sedikit kesal lelaki itu mendatanginya seperti memergoki ia sedang be

