“Kamu enggak papa, Ken?” Arken mengangguk. Tidak, ia tidak baik-baik saja. Namun ia juga bingung ingin mengatakan apa. Rasanya hampa. Lelaki itu tak bisa merasakan apapun lagi. Seolah nadinya tak berdenyut lagi, seolah jantungnya tak berdetak lagi. Rasanya, Arken hanya boneka yang digerakan tanpa perasaan. Semuanya benar-benar kosong. “Gue pulang dulu, Sha.” Gadis itu menatap kepergian Arken dengan penuh kekhawatiran. Jelas sekali lelaki itu tengah kaget. Karena sepanjang perjalanan lelaki itu hanya diam meski Alesha terus bertanya apakah dia baik-baik saja. Ia hanya bisa berdoa bahwa lelaki itu akan baik-baik saja. Arken melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Berharap debar jantung ketakutan akan kematian menghampirinya. Namun yang ia rasakan adalah rasa sesak yang memenuhi relu

