“Kak, istirahat aja dulu. Biar Mami telpon sekolah untuk ngizinin kamu.” “Arken enggak papa kok. Mi.” Jasmine menghela nafasnya kasar saat mendengar k*******n kepala anak sulungnya. Ingin sekali rasanya Jasmine menarik Arken untuk kembali tidur diatas kasurnya. Bagaimana tidak khawatir? Sekitar jam dua belas malam, perasaannya tiba-tiba tak enak saat mengingat Arken. Dan, benar saja anak sulungnya itu merintih dalam tidurnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya. “Istirahat ya, nak. Mami takut kamu kenapa-kenapa di jalan nanti.” “Arken enggak papa kok, Mi.” Remaja lelaki itu mengelus senyum tipis di bibir keringnya. Wajahnya pucat tak bersemangat. “Apa, sih, yang Kakak kejar di sekolah?” tanya Jasmine gemas melihat kekepala batuan putranya. “Kakak mau minta maaf sama Laras, Mi,” ja

