"Darren. Darren!" Moza terus melangkah dengan cepat menuju ruang ICU di mana Darren berada saat ini, setelah sebelumnya mendapat kabar dari polisi. Air mata tak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya. Dadanya terasa sangat sesak. Moza tidak tahu apa yang terjadi. Perasaannya kacau. Dia terus memikirkan Darren sepanjang jalan. Ternyata inilah firasat buruknya. Kenapa? Padahal Darren janji untuk pulang. Suaminya itu akan membelikannya cake. Mereka juga masih sempat mengobrol. Kenapa sekarang Darren harus memberikannya kabar seperti ini? Apa lelaki itu kesal karena terus menerus dia perintah? Moza terisak lirih tanpa menghentikan langkahnya bersama Anna. Mengusap lelehan air mata di kedua pipinya, sampai kemudian di depan sebuah pintu itu, terlihat dua orang pria bersama Gio, tengah ber

