"Apa Moza belum pulang?" Darren berjalan mondar-mandir di dalam kamar, sambil berkacak pinggang sejak setengah jam lalu. Dia baru berhenti setelah melihat Anna yang masuk sambil membawa makan siang dan meletakkan makanan itu di sebuah meja kecil. "Belum, Tuan. Kenapa Anda tidak menghubunginya saja?" usul Anna sambil tersenyum manis. Perkembangan yang bagus. Sepertinya ikatan yang terjalin antara Moza dan Darren, bukan hanya ikatan suami-istri biasa. Meski tidak mengingat istrinya, tapi tuannya itu tetap mengkhawatirkannya. "Tidak mungkin. Dia bisa besar kepala. Aku juga tidak ingin terkena amukannya lagi." Darren mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang sambil memegang keningnya. Masih sakit, tapi sudah lebih baik dari tadi. "Nyonya tidak seperti itu. Anda mungkin yang memancing kem

