Moza jatuh terduduk di ranjang setelah menerima panggilan dari orang yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Dia tidak dapat mencegah air matanya yang kembali mengalir. Rasa sakit itu kembali mengganggunya. Kenapa Vano menghubunginya lagi? Tanpa rasa bersalah, bahkan kata maaf sedikit pun. Lelaki itu memanggilnya sayang setelah menceraikannya tanpa ragu. Apa Vano gila? Moza tidak mau menemui mantan suaminya itu. Dia tidak mau kembali luluh dan bodoh seperti dulu. Meski sekarang, hatinya memang merindukan Vano. Tangannya terulur mencengkeram kuat dadanya yang terasa sakit. Moza memejamkan mata dan menahan tangis. Dia berusaha melupakan semuanya tentang Vano dan setiap kenangan mereka selama ini. Jika Vano ingin menemuinya untuk memperbaiki hubungan, Moza rasa itu sudah terlambat.

