Keinginan Vano

1148 Kata
Sebuah mobil berhenti di depan pintu rumah besar. Kedatangannya disambut khawatir oleh seorang lelaki yang keluar dari dalam rumah. Berjalan tergesa-gesa menghampiri lelaki—berkemeja biru dan celana hitam panjang dengan masker yang menutupi wajah—yang kini baru saja keluar dari dalam mobil. "Tuan, apa yang Anda lakukan? Cepat masuk." Lelaki berkemeja biru dan mengenakan masker itu harus pasrah saat tangannya dibawa cepat masuk ke dalam, oleh bawahannya. Bahkan pintu langsung ditutup rapat-rapat tanpa basa-basi. "Gio, kau terlalu berlebihan. Lepaskan tanganku." Gio yang masih panik mau tak mau akhirnya melepaskan tangan tuannya dan mengambil napas berkali-kali. Namun karena masih cemas, dia tanpa sungkan mengitari tubuh tuannya dan memeriksa jika ada luka atau sesuatu yang berbahaya. "Tuan, Anda tidak terluka 'kan? Anda baik-baik saja? Ke mana Anda sebenarnya pergi? Kenapa tidak memberitahu saya? Bagaimana jika mereka melihat Tuan seperti ini?" Dibukanya masker yang menutupi wajah serta tangannya langsung mengacak-acak rambutnya kembali. Dia menatap orang kepercayaannya itu tanpa ekspresi. "Apa menurutmu, penyamaranku sangat buruk?" Gio spontan menggeleng. "Tidak, maksud saya—" "Kalau ada seorang wanita ke sini atau menghubungimu dan meminta uang, berikan dia berapa pun yang dia minta," ujarnya melanjutkan. Dia kemudian berjalan menuju ruang kerja diikuti oleh Gio dari belakang, yang masih kebingungan. "Maksud Anda? Apa Tuan memberikan kartu nama Anda pada orang lain? Tuan, itu berbahaya! Harusnya Anda tidak—" "Bukan milikku, tapi milikmu. Lakukan saja, berikan berapa pun yang dia minta." Gio lagi-lagi tidak mengerti dengan perkataan tuannya. Dia hanya diam melihat tuannya yang berjalan dan duduk di kursi roda dengan sangat santai. Melihat berkas di atas meja tanpa mengacuhkan keberadaannya. "Tuan Darren! Sebenarnya ke mana Anda pergi? Kenapa saya harus memberikan uang? Anda tidak melakukan sesuatu yang menarik perhatian orang-orang 'kan? Bagaimana jika Anda ketahuan? Katanya, Anda tidak akan melawan sekarang dan orang-orang itu bisa membunuh Anda." "Kau sangat cerewet. Tolong ambilkan aku makanan, aku lapar." "Apa saya tidak salah dengar? Anda 'kan baru pergi ke restoran?" Gio mengernyit bingung. Sayangnya, hal itu membuat Darren memicing curiga. "Kau bertanya aku ke mana, tapi kau sendiri sudah tahu jawabannya." Menyadari dirinya keceplosan, Gio spontan meringis malu dan menutup mulutnya. Dia tidak bermaksud memata-matai tuannya, hanya saja dia terlampau khawatir. "Saya hanya tahu Anda pergi ke restoran. Saya tidak tahu ke mana selanjutnya Anda pergi." "Aku langsung pulang setelah dari restoran." "Anda tidak pergi untuk mengunjungi seseorang, 'kan?" Darren mengernyit. Dia menghembuskan napas kasar dan menatap tajam ke arah Gio. "Sejauh mana kau memata-mataiku?" Gio spontan menundukkan kepalanya gugup. "Tidak, Tuan. Saya tidak melakukannya. Sepertinya saya harus segera menyiapkan makanan untuk Anda. Saya permisi." Lelaki itu akhirnya pergi meninggalkan Darren seorang diri. Hanya gelengan kepala yang terlihat, sebelum Darren kembali fokus pada berkas di depannya. Namun foto seorang wanita yang kemarin dia minta, kembali menarik perhatiannya. Foto itu tidak berubah sedikit pun dari tempatnya. Masih tergeletak di mejanya. Wanita cantik dengan rambut yang dikuncir dan pakaian pelayan yang dikenakannya. Sungguh suatu kebetulan dia bisa bertemu dengan wanita itu di restoran. Wanita lemah yang rapuh dan ceroboh. Wanita yang gampang ditekan serta ditindas. Tatapannya berubah menyipit, bersamaan dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik ke atas. Senyum yang sangat amat tipis tersungging di bibirnya. Meski semua orang yang melihat itu, tidak akan mengira jika saat ini Darren tengah tersenyum. *** Moza mengusap keringat di wajahnya berkali-kali. Udara terasa lebih panas saat dia harus berjalan cukup jauh dari jalan utama menuju rumahnya. Rumah peninggalan orang tuanya memang ada daerah terpinggirkan. Meski begitu, ini tetaplah tempatnya dibesarkan. Walau sudah banyak dari daerahnya yang berubah. Sekali lagi, Moza menyeka keringat di tubuhnya. Dia ingin cepat pulang dan mandi. Membersihkan diri dari bau makanan yang tadi sempat tumpah di pakaiannya. Itu membuatnya sangat tidak nyaman. Bekerja sepanjang hari dengan bau makanan. Meski di sisi lain, Moza merasa sangat beruntung karena dia tidak jadi dipecat atau dimarah-marahi. Untunglah ada seorang malaikat penolong yang mau membantunya. Moza tidak tahu bagaimana dia harus mengucapkan terima kasih. Lelaki itu, lelaki yang mengenakan masker dan bermata abu-abu, tidak bisa hilang begitu saja dalam benaknya. Moza tanpa sadar terus memikirkannya. Terutama identitas dan alasan kenapa lelaki itu menolongnya yang bukan siapa-siapa. Tidak menuntut ganti rugi atas makanan yang dia jatuhkan. Semua itu membuat Moza bingung. Dia hanya bisa berharap, mereka akan bertemu lagi dan jika kesempatan itu datang kembali, Moza akan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. Moza tersenyum tipis dan kembali fokus ke depan, hingga dia yang sejak tadi sibuk berpikir, tidak sadar jika dirinya sudah tiba di depan rumah. Moza melihat pintu rumahnya terbuka, lalu suaminya muncul dari dalam. Sayangnya, bukan untuk menyambutnya, melainkan mengambil beberapa barang yang ada di depan pintu. Vano hanya meliriknya sekilas dan kembali masuk. Melihat hal tersebut, Moza segera mendekat dan masuk ke dalam penuh rasa penasaran. Hal yang mengejutkan pun harus dia lihat saat ruang tengah kini diisi oleh beberapa barang. Pakaian, tas dan makanan. Suami dan ibu mertuanya tampak begitu senang dan mencoba memamerkan pakaian mereka. Membuat Moza mau tak mau mendekat. "Van, apa semua ini?" Vano yang mendapat pertanyaan istrinya segera menoleh. Dia tersenyum lebar. "Aku membeli pakaian. Ambillah, ini untukmu." Moza kebingungan saat menatap suaminya menyodorkan sebuah paper bag padanya. Sepertinya, lelaki itu sudah tidak lagi marah. Itu membuat Moza menjadi lega dan senyum tidak bisa dia tahan dari bibirnya. Tangannya tanpa ragu mengambil benda yang disodorkan oleh Vano dan duduk di samping suaminya. Moza membuka isi di dalam paper bag itu dengan penasaran. Sayangnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Moza melihat sebuah pakaian di sana, tapi itu bukan pakaian biasa dan dia ragu apa itu memang pakaian. Benda di tangannya terlihat seperti saringan. Sangat tipis dan begitu menerawang, ditambah ukurannya pendek. Moza tidak tahu benda macam apa itu. Dia rasa, dia tidak bisa menggunakannya. "Ini apa?" "Itu pakaian untukmu. Nanti malam, kamu harus ikut denganku mencari uang." Moza kembali menatap benda yang dikatakan pakaian oleh suaminya, sembari terdiam dan berpikir keras. Sampai kemudian dia teringat dengan perkataan Vano semalam. Sontak saja, matanya melotot dan seketika, Moza melempar pakaian aneh itu ke atas meja. "Tidak, Vano. Aku tidak mau. Aku tidak mau ke sana." Moza beringsut menjauh dan bangkit dengan perlahan. Dia memeluk dirinya ketakutan. Klub malam, suaminya pasti berniat mengajaknya pergi ke sana. Moza tidak mau melakukan apa yang dilakukan suaminya. Dia takut, dia tidak mau menjual diri. Vano benar-benar gila jika melakukan itu padanya. "Moza! Kau harus ikut denganku!" "Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau." Moza memekik dan seketika berlari ke kamar. Meninggalkan Vano serta Hellen yang marah melihat kepergiannya. Vano nyaris membalik meja di depannya. "Wanita itu, dia membuatku sakit kepala." "Itu karena dulu kamu selalu memanjakan istrimu. Dia jadi seperti itu gara-gara kamu. Sudah Mama bilang, kamu harusnya sedikit tegas pada istrimu, jangan lembek," ujar Hellen sembari mendelik ke arah pintu di mana Moza mengurung diri. Lalu pandangannya kembali beralih pada sang anak dengan tatapan penuh rencana. "Mama rasa, dia tidak akan menurut. Karena itu, tidak ada cara lain selain memaksanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN