Lelaki Misterius

1205 Kata
"Namanya Moza Chika Clarissa. Dia istri dari Vano Febrian. Mereka sudah menikah tiga tahun, tapi belum dikaruniai anak. Perusahaan suaminya bangkrut karena kasus korupsi anak buahnya dan penipuan. Vano dikenal sebagai pimpinan bodoh karena tidak bisa mengatasi masalah. Semua harta kekayaannya disita dan mereka sekarang tinggal di rumah peninggalan orang tua Moza. Mertuanya Hellen—" "Cukup." Seorang lelaki yang duduk di kursi roda segera mengangkat salah satu tangannya, untuk menghentikan ucapan dari lelaki jangkung yang berdiri sembari memegang berkas. Dia terdiam sejenak dan memikirkan kembali informasi yang baru saja didapatkannya. "Wanita itu ... belum hamil? Dia mandul?" "Dari yang saya baca, wanita itu sangat sehat. Tidak ada vonis atau kecacatan apa pun, apalagi mandul. Sepertinya, masalah ini ada pada suaminya," jawabnya dengan tegas. Diberikannya informasi mengenai data kesehatan Moza pada atasannya. Diam-diam, dia melihat tuannya berpikir sembari memandang beberapa foto wanita asing itu. Dia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan tuannya. "Tuan, maaf sebelumnya. Kenapa Anda meminta saya mencari informasi tentang wanita ini?" Si lelaki yang dipanggil Tuan itu mengangkat kepalanya. Dia masih santai duduk di kursi roda. Tak ada senyum sedikit pun di bibirnya. Mata abu-abunya tampak kelam seakan penuh kesedihan dan penderitaan. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan padanya, Gio?" Pertanyaan yang dibalas pertanyaan, membuat lelaki bernama Gio itu tertunduk. "Maaf atas kelancangan saya, Tuan." Lelaki bermata abu-abu kelam tersebut memilih untuk tidak menggubris permintaan maaf orang kepercayaannya. Dia sibuk melihat berkas yang tadi dikirimkan oleh bawahannya tentang perkembangan perusahaan. Lalu melirik sekilas pada foto wanita cantik yang diambil diam-diam. Seorang wanita yang tengah melayani pelanggan dan tampak menguncir rambutnya. Wajah kelelahan terlihat di sana, tapi tidak berhasil melunturkan kecantikan alaminya. "Gio, bagaimana pengantinku? Apakah kau sudah menemukannya?" Gio tersentak kaget dan spontan mengangkat kepalanya kembali. Namun dia menjadi gugup karena pertanyaan tuannya itu yang tiba-tiba. "Tuan, saya minta maaf. Sebenarnya, tidak ada wanita yang mau menjadi pengantin Anda. Saya kesulitan mencari wanita yang cocok. Mereka memilih mundur setelah mendengar rumor tentang Anda." Napas kasar terdengar berhembus dari bibir pria bermata abu-abu itu. Jari tangannya mengetuk pelan meja di depannya. "Sudah kuduga. Mereka pasti akan menghalangiku bagaimana pun caranya." "Anda harusnya membuktikan rumor itu salah, Tuan. Anda terlalu lama membiarkannya. Saya merasa kesal setiap kali mengingat apa yang terjadi pada Anda. Semakin hari, mereka juga semakin semena-mena," ucap Gio dengan gemas. Dia mengepalkan tangannya saat mengingat masa lalu buruk yang menimpa tuannya. Namun lagi-lagi, lelaki yang diajak bicara hanya diam. Dia menatap lama Gio. Sorot matanya seolah dia tengah memikirkan sesuatu yang rumit. Apa yang dikatakan orang kepercayaannya itu benar, rumor buruk mengenainya telah menyebar dan semua itu ulah dua orang asing yang kini tinggal bersama ayahnya. Sementara dia harus tinggal terpisah. Terasingkan sendiri. Semua pernyataan buruk tentangnya, sudah jelas akan membuat semua wanita menghindarinya. "Jika aku melakukannya sekarang, mereka akan berusaha membunuhku lagi. Aku butuh pengantin wanita yang mau melahirkan anakku dan menerima keadaanku." Tatapan yang hanya ada kesedihan, membuat Gio merasa tak enak hati. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa suatu saat, tuannya akan melawan dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi haknya. "Kalau begitu, saya akan berusaha mencarinya lebih keras lagi, Tuan. Saya akan tetap mendukung dan berada di pihak Anda." "Terima kasih, Gio. Kau semakin terlihat sama seperti Paman." Sebuah pujian manis membuat Gio tersenyum tipis. Namun tidak dengan tuannya yang masih terus memperlihatkan ekspresi datar dan dingin. Seolah tuannya lupa bagaimana caranya untuk tersenyum. "Saya sudah berjanji untuk melayani Anda sesuai amanat Ayah saya. Nyonya Dealova sudah terlalu baik pada keluarga kami." "Hmm, kalau begitu, kau boleh pergi." Gio mengangguk dan berbalik meninggalkan tuannya. Sebelum pergi, dia meletakkan berkas tentang wanita yang tadi malam diminta, bersama tuannya. Lelaki bermata abu-abu itu hanya melirik sekilas kepergian tangan kanannya dan beralih kembali pada kertas yang berisi latar belakang, dari wanita yang semalam menabraknya. Wanita cantik yang ternyata telah memiliki suami. "Moza Chika Clarissa." *** "Za, Moza? Apa yang kaulakukan? Pelanggan sudah menunggu, cepat antarkan pesanannya sebelum dimarahi bos," tegur salah seorang rekan kerjanya sembari menepuk pundak Moza. Dia berbisik pelan di telinga wanita itu. "Ah, iya. Maafkan aku." Moza terkejut dan segera tersadar. Dia terlalu hanyut dalam masalahnya dengan Vano sampai tidak fokus bekerja. Akan tetapi, kini Moza tidak bisa mengabaikan pekerjaannya begitu saja. Dia takut dipecat. Tanpa menunggu waktu lagi, Moza segera bergegas mengambil nampan di depannya dan terburu-buru keluar. Dia mencari meja nomor empat belas. Sampai matanya terhenti di sebuah titik. Di mana terlihat seorang lelaki yang mengenakan masker, tengah duduk di sana. Di meja paling ujung dan tidak terlalu menarik perhatian. Fokusnya hanya tertuju pada lelaki itu. Meski dalam hati, Moza dilanda rasa khawatir kalau pelanggannya akan marah-marah karena pesanannya diantar terlambat. Sayangnya, saking fokusnya Moza melangkah, dia sampai tidak menyadari ada orang dari arah samping, berjalan sambil memainkan ponsel. Jaraknya semakin dekat, hingga orang itu tidak sengaja menyenggolnya dan membuat Moza kehilangan keseimbangan, sampai akhirnya harus jatuh bersama dengan makanan yang dia bawa. Piring dan gelasnya pun ikut pecah begitu menyentuh lantai dan dirinya menjadi pusat perhatian. Semua pengunjung restoran menatap syok, tapi tak seorang pun membantunya. Mereka hanya diam dan menonton. Moza menelan ludahnya dan melihat penampilannya yang kacau. Dia memecahkan piring dan gelas itu. Tubuhnya gemetar takut, Moza khawatir bosnya akan memarahinya. Sementara orang yang menabraknya sudah menghilang. "Kau tidak apa-apa?" Sebuah suara dingin seorang lelaki masuk ke dalam gendang telinganya. Moza melihat lelaki yang memakai masker dan duduk di meja nomor empat belas itu mengulurkan tangan. Bermaksud membantunya berdiri. Namun hal itu justru membuat Moza berkaca-kaca. "M-maaf, Tuan. Pesanan Anda—" "Tidak apa-apa. Berdirilah." Moza dengan ragu-ragu meraih tangan lelaki itu dan berdiri. Dia melihat lantai dan pakaiannya yang kotor. "Terima kasih, saya akan bereskan semuanya dan ganti yang ba—" "Moza, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membuat kekacauan seperti ini?" Seorang wanita dewasa yang merupakan manajer restoran, tiba-tiba mendatanginya dengan langkah tergesa-gesa. Ekspresi penuh kemarahan terlihat menghiasi wajahnya. Meski nada suaranya berusaha ditekan agar tidak terkesan memarahi atau pun berteriak, tapi Moza tahu, sebentar lagi dia akan dimarahi habis-habisan. "M-maafkan saya, Bu. Saya akan membereskan kekacauan ini." "Tidak, ini bukan salahnya. Seseorang menabraknya. Jangan marahi dia atau memecatnya. Saya akan membayar semua ganti rugi atas insiden ini. Anda bisa mempercayai saya," ujar si lelaki yang memakai masker. Dia melirik ke arah Moza yang terkejut. Sebelum kemudian mengeluarkan sebuah kartu pada si manajer dan beranjak pergi dari sana. Kejadian itu disaksikan oleh seluruh pelanggan. Si manajer yang awalnya hendak marah, kini tertegun ketika melihat kartu nama yang ada digenggamnya. Dia melirik Moza aneh. "Ikut saya, kamu harus mengganti pakaian dan membersihkan tubuhmu." Manajer wanita itu mengajak Moza ke belakang. Namun sebelum benar-benar pergi, dia memanggil seorang pelayan lain untuk membereskan pecahan piring dan makanan yang jatuh. "Dari mana kamu kenal lelaki itu?" tanyanya begitu mereka sampai di ruangan sang manajer. "Maaf?" Moza mengernyitkan dahinya bingung. "Laki-laki yang memakai masker tadi sudah menyelamatkanmu. Kamu tidak perlu mengganti rugi dan saya tidak akan memecatmu, tapi ... lain kali lakukan dengan hati-hati. Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi. Apa pun masalahmu, tolong jangan bawa pada pekerjaan." Mendapatkan perkataan tersebut, Moza hanya menatap bingung. Dia tidak tahu dan bahkan tidak mengenal siapa lelaki tadi. Menyelamatkannya? Benarkah? "Kali ini saya maafkan kesalahanmu. Pergilah dan ganti pakaianmu." Moza tersenyum canggung dan mengangguk. "Baik, Bu. Terima kasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN