"Tolong jangan sekarang. Pak tua itu sedang sakit," ucap Darren pada Dewangga yang ingin mengatakan soal wasiat mamanya. Pria dewasa itu kembali mendatanginya untuk membicarakan apa yang kemarin mereka bahas. Namun sekarang, Darren berubah pikiran. "Anda yakin? Ini waktu yang bagus untuk menjelaskan semuanya." Darren mengetuk-ngetuk meja kerja di depannya penuh perhitungan. "Kurasa, tidak sekarang." "Baiklah, saya mengerti. Anda anak yang berbakti ternyata. Saya kagum Anda masih memikirkan orang yang telah membuang Anda," puji Dewangga. Dia melipat kembali berkas yang ada di meja dan merapikannya ke dalam tas. Namun Dewangga tertahan saat mendengar tawa Darren yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah didengarnya. "Berbakti? Tidak, kau salah. Aku tidak melakukan ini karena baktiku se

