Gemma juga ikut membaca kontrak yang di sediakan. Venya sudah selesai membaca dan sekarang giliran Gemma. Venya sendiri memintaa Gemma untuk membacanya juga untuk meminta pendapatnya. Sebagai manager tentu saja. Gemma sendiri serinh bertanya pada Venya masalah point - point yang ada di dalam kontrak. Pasalnya, di dalam kontrak itu banyak sekali bahasa yang mungkin hanya fi mengertinoleh orang - orang dari kepenulisan. Dimana bahasa yang konkrit berasal dari PUIBE.
Jika sebelumnya penulis - penulis yang ada di dunia kepenulisan bergantung pada tata krama ejaan yang disempurnakan sekarang menjadi PUIBE, dimana PUEBI merupakan kependekan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Ia merupakan pedoman terbaru ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak 2015, menggantikan pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
Walaupun terkadang Venya menulis tidak bergantung pada PUIBE, tapi seiring berjalannya waktu dan sering menulis, Venya menjadi mengerri apa itu PUIBE dan tentu saja memahami dan mengganti kata yang kurang tepat. Walau akdang - kadang Venya malas ubtuk melihat kamus PUIBE walaupun sekarang bisa dianggap kamus dan riset lainnya hanya dalam satu genggaman, tetap saja rasa malas muncul ketika Venya mulai menulis.
Kadang - kadang, Venya merasa dirinya cukup lancar dalam menulis dan itu menjadikan dirinyabtidak melihat kamus. Setidaknya, Jika Venya membaca buku satu penulis yang cukup teekenal di dunia kepenulisan dan juga terkenal karena tulisannya bagus, Venya jadi mengerti apa yang bagus dan apa yang tidak. Apa yang sesuai dengan tulisannya dan apa yang tidak.
Setidaknya, Venya punya buku saku walapun kecil dan kadang saja tidak terlihat.
"Kalo gue sih oke - oke aja." Kata Gemma setelah membaca seluruh bacaannya, "lo sendiri gimana?" Tanya Gemma kelada Venya uang sedang menyeruput teh hangat yang sudah sedikit dingin itu di atas mejanya.
Venya menagngguk, "gue sih ga keberatan sama sekali dengan point -point di dalam kontrak." Kata Venya, "gue juga sering sekali vekerja di bawah tekanan. Dimana gue harus kirim bab sementara gue harus update juga bab di dunia maya secara online." Kata Venya lagi menambahkan, dia menarik nafasnya sesaat kemudian menghembuskan nafasnya, "gue ga bisa nolak ini, Gem." Ucap Venya pelan.
Gemma sekarang yang mengangguk, "gue tau. Di jalan tadi lo cerita kalo penerbit ini adalah penerbit yang lo cita - citakan. Yang lo idam - idamkan. Dan sekarang giliran asa kesempatan, masa di tolak gitu aja." Kata Gemma, "itu yang lo bilang tadi." Ucapnya lagi.
"Iya." Kata Venya dengan raut sedih. "Kalo gue tolak, kemungkinan gue bakal di blacklist dan ga bisa ngirim naskah lagi ke sini walaupun emang naskah gue udah di tolak beberapa kali buat masuk ke sini." Kata Venya pelan.
"Jadi apa lagi yang masih lo pertimbangkan?" Tanya Gemma masih melihat keraguan di mata Venya.
Venya diam kemudian dia melihat Gemma, "gue sanggup ga ya nongkrong di pasaran? Gue sanggup ga ya buat nabung bab setiap hari? Gue sanggup ga ya buat nulis dengan skill kurang gini." Tanya Venya untuk dirinya sendiri.
Gemma memegang pundak Venya, "gue yakin lo bisa." Katanya meyakinkan, "lo udah duduk di kantor ini. Kantor penerbit impian. Itu tandanya lo mampu bersaing. Lo di nilai pantas untuk bersaing dan nongkrong di toko buku." Kata Gemma menyemangati Venya lagi, "lo pantas di sini karena tulisan lo udah di nilai baik sama mereka yang ada di sini. Jadi apa lagi yang lo raguin?" tanya Gemma.
Kali ini Venya mengangguk ragu kemudian mengangguk yakin.
"Gue pasti bisa, ya Gem? Lo bantuin gue nanti ya." Pinta Venya pada Gemma.
Gemma mengangguk, "pasti gue bantuin lo. Kan gue di gaji buat gitu." Kata Gemma kemudian terkekeh saat Venya membanting jari - jemarinya ke lengan Gemma yang sedikit dengan tambahan tenaga.
"Apaan sih lo."
*** ***
"Jadi, bisa langsung di sampaikan?" Kata Mbak Rusdiana yang mana sudah ada duduk di depan Venya lagi.
Gemma meminta ijin untuk keluar karena setelah ini, ada obrolan pribadi antara Venya dan mbak rusdiana. Bahkan Gemma sendiri tidak tahu obrolan apa yang akan Venya obrolkan dengan mbak rusdiana mengenai nama aslinya yang tidak akan di ekspos oleh Venya dan orang - orang dari penerbit.
Venya mengangguk menanggapi awal mula ceritanya. Dia meyakinkan diri untuk bercerita. Jantungnya selalu berdegup setiap kali memikirkan dan emnceritakan hal ini. Hal yang xukup sensittif untuk seorang Venya.
"Begini, mbak rusdiana." Kata Venya mengawali.
Padahak, Venya sudah pernah menceritakan hal ini kepada penerbit sebelumnya. Dimaana Venya meminta nama aslinya sendiri untuk idrahasiakan karena satu dan lain hal.
"Saya belum menandatangani kontraknya agar mbak bisa mempertimbangkan saya lagi." Kata Venya yang menyimpanh kontrak yang di ajukan oleh mbak rusdiana. "Sebenarnya, saya tidak ada masalah dengan kontraknya. Saya menyetujui kesleuruhan isi kontrak. Dimana kontraknya menyebutkan saya akan menjalani masa percobaan selama satu tahun. Dan jika tidak menunjukkan efektifitas penerbit, saya akan di putuskan kontraknya dan tetap menerima uang penjualan buku yang sudah pernah terjual." Kata Venya, "saya takutnya, mbak rusdiana dan penerbit keberatan dengan ceeita saya ini." Kata Venya lagi.
Mbak rusdiana mengangguk, "apa ada penerbit yang pernah menolak anda, mbak Flora?" Tanya mbak rusdiana kemudian.
Venya menggeleng, "hanya saja saya takut." Kata Venya.
"Baik. Dilanjutkan, mbak Flora."
Venya mengangguk. "Nama saya Venya. Hanya Venya yang bisa saya katakan. Saya tidak tidak tahu pasti kapan saya lahir, namun bunda Kori mengatakan ulang tahun yang setiap kali diadakan untuk saya itu bukanlah tanggal lahir yang sebenarnya. Saya dan bunda kori memakai tanggal kapan pertama kali saya di temukan dan di rawat di panti asuhan." Kata venya lalu dia menatap mbak rusdiana yang sedikit kaget dengan ucapan dari Venya. "Benar, mbak. Saya besar di panti asuhan dan dibesarkan bukan oleh keluarga yanh sempurna dan tidaklah hidup saya sesempurna itu." Kata Venya lagi.
Mbak rusdiana mengangguk. Dia tidak terlihat ingin mengatakan sesuatu. Dia teelihat menunggu kelanjutan cerita dsri seorang Venya yang sekarang dikenal dengan nama Flora.
"Saya tinggal di panti asuhan sudah lama dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Dan rizki itu datang setelah saya pindah di rumah sendiri." Kata Venya, "rizki dimana saya yang mengidam - idamkan mennerbitkan buku dari sini dan juga memimpikannya setiap saat." Kata Venya lagi.
Venya menarik nafasnya lagi, "saya hanya dilindungi dengan kain tipis dan juga secarik kertas di dalam genggaman saya sewaktu saya masih bayi dan ditemukan di depan pintu oanti asuhan yang sampai sekarang itu adalah tempat saya pulang." Kata Venya, "jika mbak bertanya kenapa saya tidak ingin nama asli saya yaitu Venya di publish, salah satunya adalah karena saya tidak mau bertemu dnegan orang tua saya." Ucap Venya pelan.
Mbak rusdiana kaget, "tapi kenapa?" Tanya mbak rusdiana untuk Venya.
Venya diam menunduk, menatap sepatunyabuang cukup lusuh, "saya hanya tidak ingin mereka hanya tahu saya sudah sukses dan bisa menerbitkan buku. Sedangkan mereka tidak tahu bagaimana saya memulainya, bagaimana saya menjalaninya dan saya tidak inhin emreka tahu jika saya bisa sukses tanpa mereka." Kata Venya.
"Loh, bukannya bagus jika mbaknya membuktikan bahwa anda bisa tanpa mereka? Anda bisa sesukses ini tanpa emreka? Bukankah ini satu hal baik untuk menyombongkan diri anda sendrii?" Tanya mbak Rusdiana.
Venya mengangguk, "penerbit lama saya pun beranggapan seperti itu." Kata Venya, "tapi tidak. Saya tidak ingin mereka tahu dan tidka ingin bertemu mereka yang bahkan seperti sengaja membuang saya dan tidak menginginkan saya." Kata Venya.
Mbak rusdiana mengangguk, "baik, mbak Flo- Ven." Kata mbak rusdiana kebingungan, "saya jadi kesulitan memanggil anda, mbak." Katanya setelah terkekeh kecil.
"Flora saja, mbak." Kata Venya.
Lagi, mbak rusdiana mengulang anggukannya, '"baik mbak Flora. Saya akan bertanggung jawab akan nama asli anda dan mulais ekarang," kata - kata mbak eusdiana terpotong karena dia bangkit berdiri dari duduknya, "selamat bekerja sama dnegan kami, mbak Flora."