Venya dan Gemma sudah sampai di tempat yang mbak Rusdiana arahkan. Ternyata banyak kantor cabang di Jakarta, salah satunya di sini, ditempat yang Venya sedang datangi bersama Gemma. Kebetulan sekali Venya memang ingin langsung berbicara dengan mbak Rusdiana yang mana dia punya segudang cerita tentang kenapa dia tidak ingin mengekspos nama aslinya. Dan Mbak Rusdiana akan bertanggung jawab akan hal dsn perihal nama Venya yang tidak ingin ia ekspos ke manapun.
Venya sendiri punya alasan khusus dan mbak rusdiana siap mendengarkan.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini karena cabang kami cukup banyak, sayab kira mbak Flora tidak akan langsung datang ke sini." Kata mbak rusdiana ketika melihat Flora dan pria di sampingnya. "Duduk dulu, mbak Flora." Lanjut mbak rusdiana yang mempersilahkan duduk kemudian dia beeanjak dsri tempatnya. Mengobrol dengan seseorang lalu ia mengangguk dan kembali lagi ke hadapan Venya dan juga Gemma.
"Iya mbak, saya pengennya sama mbak rusdiana. Saya kan di telponnya langsung sama mbak. Jadi inginya langsung aja sama yang sudah nelpon. Kebetulan ga jauh - jauh banget dari tempat saya tinggak." Kata Venya sambil tersenyum ramah.
Mbak rusdiana ikut tersenyum, "jadi ini manager mbak?" Tanya mbak rusdiana yang sedari tadi penasaran dengan orang yang di sebelah Venya.
Venya mengangguk, "dia wali saya untuk sekarang. Dia juga tinggal deket sama saya. Jadi mungkin kalo ada aap - apa dan saya ga bisa jawab telepon mbak ke depannya, bisa langsung sama wali saya." Kata Venya kemudian menepuk Gemma untuk memperkenalkan dirinya.
.
"Gemma, mbak Rusdiana." Kata Gemma kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan mbak rusdiana.
Mbak rusdiana tersenyum, "selamat siang mas Gemma." Kata mbak rusdiana, "jika mbak Flora sudah menandatangani kontraknua dsn menyatakan dia benar - benar ingin bekerja sama dnegan kami tanpa menolak apapun di surat kontrak itu, mohon kerja samanys." Kata mbak rusdiana lagi kemudian melepaskan jabatan tangannya yang tadi ia sambut ramah.
Gemma mengangguk, "mohon kerja samanyabjuga. Saya baru di bidang ini mbak." Kata Gemma lalu mengangguk kecil.
"Tennag saja. Tidak akan semerepotkan itu jika penulisnya sendiri baik dan ramah seperti ini." Kata mbak rusdiana melihat ke arah Venya.
"Saya ga mungkin nolak mbak." Kata Venya, "ini penerbit yang saya idam - idamkan dari dulu. Masa sekarang ada kesemoatan saya tolak. Mbak ini ada -, ada saja.", Kata Venya malu - malu.
Mbak rusdiana terkekeh, "tapi ada loh yang menolak setelah membaca kontraknya." Kata Mbak ruddiana, "jadi mbak Flora santai dulu aja di sini, baca dulu pelan - pelan kontraknya dan setelah itu bisa panggil saya di ruangan sana ya." Kata Mbak rusdiana pelan menjelaskan dengan baik kepada kliennya.
Venya mengangguk kecil kemudian dia berucap terima kasih kepads orang yang membawa minuman untuknya dan untuk Gemma tentu saja. Lalu dia juga menerima lembaran -, lembaran yang juduknya adalah 'kontrak kerjasama'.
Tangan Venya beegetar ketika kontrak itu sudah ada di tangannya kemudian dia melihat mbak rudiana, "kalo boleh tau mbak." Kata Venya, "maaf, orang yang menolak kerja sama setelah melihat kontraknya, kenapa ya mbak?" Tanta Venya.
Sebenarnya, Venya bisa sjaa membaca dengan teliti kontaknya. Takut - takut ads yang memberatkan sebelah pihak. Teeutama si penulis. Venya sendiri suka membaca tapi setidaknya dia lebih suka mendengarkan dulu kemudian membaca point penting yang nantinya akan disebutkan oleh mbak rusdiana.
Mbak rusdiana menahan nafasnya kenudian menghembsukannya pelan, "ada beberapa alasan tapi kebanyakan ysng menolak adalah orang yang bekerja selain penulis. Dia kuliah atau bahkan dia mengurus bisnis yang lain." Kata mbak rusdiana, "kontak kami sudah menjelaskan detailnya tapi saya akan menyebutkan hak - hal yang sering kali di sebut memberatkan pihak penulis agar tidak bingung dan tidak bertanya - tanya." Lanjut mbak rusdiana.
Venya mengangguk. Dia tidak mengatakan apa - apa lagi setelah kalimat mbak rusdiana. Dia memilih untuk lanjut mendengarkan apa yang akan mbak rusdiana jelaskan kepadanya.
"Jadi, ada beberapa penulis yang emmbaca kontraknya dan ingin menghapuskan beberapa point. Diantaranya adalah mengejar waktu tayang." Kata mbak rusdiana, "pihak penerbit meminta penulis untuk mengirimkan setidaknya satu bab perhari untuk cerita baru dengan target terbit yang masuk akal." Lanjut mbak rusdiana.
Mbak rusdiana menatap Venya sekilas kemudian mellanjutkannya, "masuk akal di sini ialah ketika target terbit satu bulan, maka satu bulan itu penulis harus menyelesaikan tulisannya. Mengirim bab setiap hari dan tentu saja menerima revisi yang tim editor kami berikan ulang." Kata mbak rusdiana, "anda tahu sendiri kan penerbit kami menerbitkan buku hampir setiap bulan dengan penukis yang berbeda - beda?"
Venya mengangguk menanggapi pernyataan itu, "saya tahu. Dan menurut saya point dimana penulis mebgirimkan satu bab contoh dengan minimal berapa kata di dalamnya itu masih ringan di saya. Penerbit sebelumnya oun begitu." Kata Venya menerangkan jika dirinha masih sangguo dengan point itu.
Anggukan dsri mbak rusdiana membuat Venya ikut mengangguk lagi, "saya mengerti karena mbak flora ini diam di rumah. Tapi penulis lain keberatan karena dirinya sedang kuliah atau bekerja selain menjadi penulis." Kata mbak rusdiana.
Tentu saja Venya sangguo karena dirinya emmang hanya menukis. Tidak memikirkan hal lain. Apalagi kuliah dan bekerja yang lain. Venya mungkin tidak akan sanggup seperti yang lainnya. Namun, entahlah. Venya mungkin masih bisa mneyempatkan menulis jika sudah berkuliah.
"Penerbit kamu juga punya editor yang cukup bisa di andalkan. Jika penulis mendapat revisi dsri editor kami, mungkin penulis itu menulis kalinat secara asal - asalan atau bahkan banyak plot hole yang ada di cerita itu.
Jika tidak tau plot hole, plot hole Adalah sebuah lubang atau tidak konsistennya suatu alur cerita ataupun film yang biasanya melawan arus dari logika, tidak relevan. Dan termasuk perilaku dan aksi dari karakter yang berlawanan dari kejadian awal dari cerita atau plot utama cerita tersebut.
Jadi, plot hole sendiri bisa terjadi kepada siapapun penulisnya. Dimana dia sering lupa alur atau bahkan memasukkan alur yang tidak konsisten. Berubah - rubah dan tentu saja tidak masuk kepada cerita sebelumnya. Venya sering sekali merasakannya. Dan tentu saja itu tidak enak untuk dirinya.
Dia mengalami yang dinamakan oloy jole ketika dia menulis banyak cerita. Yang satu dikirimkan ke penerbit, yang satu di platform A. Dan yang satu di platform B. Dan itu membuat Venya bingung. Karakter dan tokoh dalam cerita menjadi cukup kacau karena banyak sekali tokoh yang dia sedang tulis. Maka dari itu, Venya sekarang hanya memegang diua cerita dalam satu bulan. Dimana dua cerita itu adalah satu di penerbit dan yang satu di platform yang sedsng ia pegang.
Jika Venya akan melintasi alur platform lainnya, mungkin Venya akan membuka cerita yang sama dengan platform lainnya. Karena tentu saja, Venya tidak ingin menulis banyak cerita ketika dirinya sering mengalami plot hole dalam menulis. Setidaknya, dia aman dari cercaan sang pembaca yang agung dan membayarnya dengan membeli koin. Aman dari kritikan pedas dan juga aman dsri editor yang galak di oenerbit sebelumnya.
"Editor kami hanya menangani satu penuli di setiap bulannya. Maka dari itu penerbit menjadwalkan kapan penulis ini meluncurkan bukunya dan kapan penulis lain meluncurkan buku lainnya." Kata mbak Rusdisnsagi.
"Apa lagi yang membuat penulis menolak bergabung?" Tanya Venya setelah mereka sama - sama diam dengan anggukan bisu yang dilakukan oleh mereka bertiga. Termasuk Gemma.
Mbak rusdiana menarik nafasnya lagi, "point berikutnya adalah dimana penulis menolak kerjaan dengan tekanan." Katanya, "tekanan yang di maksud di sini adalah tekanan yang mengharuskan penulis menerbitkan bukunya dalam rentang waktu sebulan. Dan penulis harus menyelesaikannya." Kata mbak Rusdiana.
"Tapi mbak." Kata Venya, "bukankah penerbit tidak memberitahukan kabar itu secara mendadak?" Tanya Venya, "maksudnha, penerbit kan menjadwalkan jadwal untuk penulis siapa di bulan ini yang terbit, dan bulan berikutnya siapa. Itu berarti ada waktu untuk penulis lainnya yang tidak terbit bulan ini?" Tanya Venya.
Singkatnya, jika Venya di jadwalkan tayang atau terbit bulan Juni, maka ada penulis lain yang lain di jadwalkan terbit di bulan Juli, nah, dibulan Juni yang terbitnya adalah buku Venya, maka penulis lain di bulan Juni kosong. Dia masih punya waktu sebelum ceritanya tayang.
Mbak Rusdiana tampaknya mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Venya, "tentu saja. Kami menjadwalkannya dengan manager mereka dan juga penulisnya secara langsung. Salah satu alasan kami memilih penulis dsn menyrusuh mereka memiliki manager adalah itu. Untun memanage waktu mereka menulis." Kata Mbak rusdiana. "Manager tentu saja akan mengingatkan bulan ala penukis itu harus menulis. Bulan apa mereka akan menerbitkan bukunya." Kata mbak rusdiana menatap Gemma, "tugas manager adalah mengingatkan penulisnya." Ucapnya lagi.
Venya menatap Gemma yang mengangguj mengerti. Setidaknya, Venya akan menggaji Gemma dengan kerjaannya yang mengingatkan dsn memberi motivasi tentu saja untuk menulis.
"Jadi, mbak Flora. Baca dulu aja kontraknya. Jika deal atau bahkan menolak, saya ada di ruangan saya." Kata Mbak rusdiana, "untuk urusan nama asli dna nama pena, itu urusan nanti setelah mbak setuju maka mbak boleh bercerita dengan saya. Karena saya tidak mau emndengar cerita oenulis yang belum meneken kintrak. Takutnya saya jadi gibah." Kata mbak rusdiana terkekeh, "saya tinggal ya, mbak Flora, mas Gemma."
..