Jadilah mereka aka Gemma dan juga Venya berangkat pada seminggu setelah telepon yang Venya angkat waktu itu. Venya memastikan bahwa Gemma tidak ada kuliah. Benar - benar tidak ada mata kuliah. Bukan hanya bolos. Venya tidak ingin Gemma bolos untuk dirinya. Sampai - sampai Gemma dan Venya datang ke kampus tempat Gemma berkuliah hanya untuk memastikan bahwa kuliah di fakultas yang sedang Gemma tekuni itu benar - benar di liburkan.
Masalahnya, Gemma biasanya menggunakan alasan itu untuk meliburkan dirinya sendiri. Gemma juga sering sekali bolos untuk keperluannya sendiri. Bahkan Venya yang tadinya tidsk perduli kini menjadi perduli karena dia mungkin harus menebusnya di kemudian hari.
Memang baru tahun awal. Tapi jika kuliah membolos di awal tahun. Kemungkinannya besar jika tahun - tahun berikutnya akan menjadi kebiasaan dan tentu saja akan merugikan Gemma sendiri. Biaya kuliah tidak murah dan kuliah tidak mudah. Jadinjangan menyia - nyiakan kuliah yang mahal dengan kenakalan remaja yang masih tersisa ketika masih di sekolah menengah atas.
.
"Gue udah bilang, kelas gue di batalin gara - gara dosennya mau layat orang meninggal." Kata Gemma di balik stir nya.
Sedari tadi dia mencak - mencak karena Venya keukeuh ingin memastikan bahwa Gemma tidak bohong untuk membolos karena ingin mengantar dirinya ke penerbit. Venya sendiri tidak bisa memunfkiri jika dirinya menjadi Gemma akan kesal juga jika di perlakukan seprti ini. Tapi setidaknya, Gemma memang tidak mengada - ngada dan itu membuat kepercayaan terbentuk lagi di diri Venya setelah kepercayaannya sedikit di renggut karena Venya srring sekali emndapati Gemma yangang berbohong kepadanya. Setidaknya satu kebohongan tentang kuliahnya kini sudah hilang walaupun hanya 30 persen dari 100 persen.
Venya terkekeh pelan di samping Gemma, "ya maafin. Gue kan memastikan doang, Gem. Gue ga mau lo bolos cuman gara - gara gue." Kata Venya lagi.
"Dih pd banget lo gue bakalan bolos buat lo." Kata Gemma kemudian dia terkekeh, "gue mah ga pernah bolos kecuali kalo ngantuk banget." Kata Gemma meneruskan kalimatnya setelah kekehan yang dibuatnya tadi.
Venya memukul lengan Gemma, "lo itu ga ada perjuangannya sama sekali ya sama gue." Kata Venya bercanda, "kudunya ada satu kali kek lo bolos cuman gara - gara gue atau nemenin gue." Kata Venya lagi.
"Males banget. Ngapa juga gue kudu bolos demi lo. Emang lo siapa? Presiden?" Kata Gemma pelan.
Nada yang datar dsri Gemma membuat Venya semakin gemas akan tingkah laku Gemma yang sekarang sudah berani untuk mengerjai dirinya. Dia benar - benar memunculkan karakter baru dsri seorang Gemma. Venya juga sama. Setelah keluar dari panti, dia benar - benar merasa jadi orang yang berbeda. Dirinya lebih terbuka dan bisa berbicara layaknyabseorang anak sekolah menangah atas yang baru lulus. Setidaknya, itu yang Venya rasakan.
"Iya. Presiden hati lo 'kan?" Tanya Venya lagi - lagi dengan nada bercanda.
"Yeh. Pd banget lo ah." Kata Gemma lagi.
Venya memukul pelan lemgan Gemma. "Lo sih ah." Kata Venya, "akuin aja udah." Sahutnya lagi.
"Akuin apaan sih?" Tanya Gemma lagi.
Venya cemberut, "ga ajdi deh." Kata Venya memberenghut. Dia memalingkan wajahnya ke arah ejndela dan tidak mau menatap Gemma di samping kanannya.
Gemma terekekh melihat hal itu.
Pernah sekali, Gemma menlihat Venya yang seperti itu. Dulu sekali. Dia mgambek gara - gara katanya dia dikatain pacar bohongannya Gemma. Padahal saat itu Gemma dan Venya lagi mesra - mesranya. Masih awal - awal pacaran. Dimana Gemma yang sering kali di tanggapi oleh anak - anak perempuan lain. Masih di goda - godain sama perempuan dan cewek - cewek gatel di sekolahnya.
Dan hal itu membuat Venya menjadi insecure. Dimana cewek - cewek lain yang menggodda seorsng Gemma adalah cewek - cewek cantik di luar. Pake make up. Stelan baju modis dsn fashionable. Tidak seperti Venya yang memakai baju saja kadang asal - asalan. Di panti mana ada baju yang stelannya seperti cewek - cewek lainnya. Yang ada hanya kaos sama celana kolor yang bahkan sudah belel.
Untunh saja kadang - kadang Venya membeli baju yang layak di pakai ke luar rumah apalagi bersama Gemma di situs online. Walaupun kadang - kadang juga Venya membelimya di toko offline. Tapi sangat jarang. Venya tidak ada wkatu ke toko baju. Dsn dulu, dia lebih memilih membeli buku daripada baju.
Setidaknya buku bisa menambah ilmu sedangkan baju hanya menambah koleksi. Dsn jaranh di pakai juga. Itulah yanh menjadi pertimbangan Venya.
Kadang - kadang baju yang di beli Venya di dunia online itu tidak sesuai dengan ekspetasinya. Tapi kadang - kadang ada yang bagus juga. Semuanya berdasarkan keberuntungan. Untung - untungan. jika beruntung, Venya bisa mendapatkan baju yang bagus atau melebihi ekspetasinya. Jika tidak beruntung, Venya akan mendapatkan baju kekevilan atau bahkan potongannya tidak jelas. Parah memang.
Maka dari itu, Venya tidak ingin ber - ekspetasi terlalu tinggi untuk pembelian bajunya. Setidaknya agar Venya tidak terlalu sakit hati jika barangnya tidak sesuai dengan ekspetasi.
"Iya deh gue akuin." Kata Gemma kemudian mencoba berbicara lagi pada Venya.
"Apaan?" Tanya Venya masih tidak mau menatap Gemma.
Gemma terkekeh. "Lo adalah presiden hati gue." Kata Gemma kemudian.
Venya terkekeh, "sejak kapan lo begitu?" Tanya Venya.
"Lah kan, salah lagi kan." Kata Gemma dengan nada cukup kesal.
Venya semakin tertawa. "Ya udah. Jalan deh sana. Gue mau tidur. Luamayan jauh kan ya?" Tanya Venya lagi sebelum dia menurunkan sandaran kursi miliknya untuk posisi dia tidur nantinya.
Gemma mengangguk, "cukup jauh. Sok tidur aja. nanti gue bangunin kalo udah deket." Kata Gemma.
"Kok kalo udah deket?" Tanya Venya kemudian, "bangunin udah sampe aja sih." Kata Venya lahi.
Gemma berdecak, "takutnya lo mau dandan dulu gitu." Kata Gemma.
Venya mengerutkan keningnya, "sejak kapan gue dandan? Dalam mobil? Mau kemana elah?" Tanya Venya pelan.
"Ya kan cewek - cewek biasnaya begitu." Kata Gemma.
"Ceweknya yang pasti bukan gue." Kata Venya, "gue mah ga dandan juga tetep cakep." Kata Venya, "yang penting udah mandi." Katanya lagi.
Gemma terkekeh, "ia deh yang cakep daei lahir." Kata Gemma menenangkan Venya.
Ribut mulu dari tafi.
"Soni tidur." Kata Gemma.
"Iya nih, ga jadi - jadi gue tidurnya." Kata Venya.
"Iya sana tidur." Kata Gemma.
Venya mengangguk, "hati - hati lo bawa mobil. Gue ga mau pas gue bangun, gue ada di surga."
Gemma berdecak, "pd banget lo masuk surga."