"jadi pada intinya, lo butuh manager gitu?" Tanya Gemma kepada Venya.
Sekarang sudah malam hari, tadi sore Venya setelah menutup gelepon dengan penerbit besar yang di mimpi - mimpikan oleh Venya dia langsung beranjak dari kasurnya dan mengetuk kamar Gemma heboh. Venya sudah tahu pasti Gemma juga ikut tertidur. Dia segera masuk ke dalam kamar Gemma setelah Gemma membuka pintu tanpa permisi.
Dia memeluk Gemma erat dan juga melompat - lompat kegirangan. Itu membuat Gemma yang baru saja membuka pintu dan bangun dari tidurnya kebingungan. Tapi, tangannya tetap emnahan Venya. Pelukan Venya yang lebih pendek dari pada dirinya, membuat Venya menggantung di leher Gemma. bertahan di sana beberapa lama dan kemudian emnxcium Gemma di pipinya.
Gemma maskin bingung dengan keadaan ini. Dia tidak tahu harus berbuat apa - apa. Dia hanya menahan tubuh Venya agarbtetap menggantung dan membungkukkan badannya untuk membuat Venya tidak terlalu menganggantung. Selanjutnya, Gemma juga kebingungan karena Venya tidak pernah mau mencium dirinya selain di kening. Biasnaya dan lebih banyak yang melakukan itu adalah Gemma kepada Venya. Jika sebaliknua, avenya yang diminta mencium Gemma, akan sulit. Bahkan untuk kecupaaan di biibirr saja sulit. Walau terkadang Gemma yang suka mencuri - curi kecupaaan yang membuat Venya marah.
"Gemmmmm gue seneng banget." Kata Venya laku melepaskan pelukannya, "gue ga mimpi 'kan?" Tanya Venya heboh, "coba cubit gue, Gem." Kata Venya mengarahkan tangan Gemma ke tangannya sendiri. "Jangan di sini deh," kata Venya setelah tangan Gemma sudah ada di lengannya, "di sini coba." Kata Venya lalu mengarahkan tangan Gemma ke pipinya yang putih sedikit pucat tanpa make upa.
Lagi - lagi Gemma bingung. Mencubitnya? Jarang sekali Gemma melakukan itu pada Venya.
Venya yang sebenarnya snagat sulit untuk melakukan skin ship itu. Jarang sekali Venya dan Gemma melakukan skin ship selama berpacaran. Saking jarangnya, Gemma kebingungan seperti ini.
Lalu tangan Gemma yang ada di pipi Venya kini mencubitnya pelan dan membuat Venya mengomel.
"Seriusan dikit, Gem." Kata Venya.
"Ya nanti sakit, Ven . " Balas Gemma.
Venya berdecak kesal, "ya emang itu tujuannya, Gem." Kata Venya kemudian terkekeh. "Ayolah, Gem." Ucap Venya lagi.
Wajah Venya yang ada di dekat Gemma membuat Gemma gemas sendiri. Dia ingin sekali mengeecup biibir munyil milik Venya. Namun, mungkin Venya akan marah setelahnya. Jadi, yang Gemma lakukan adalah mencubit pipi Venya dengan gemasnya.
"Aw." Seru Venya saat itu, "sakit tau, Gem." Kata Venya setelah Gamma melepaskan tangannya di pipi Venya.
"Loh, bukannya itu tujuannya?" Tanya Gemma kini sambil terkekej melihat Venya mengusap - ngusal pipinya yanh sudah di cubit tadi. Gemma kini ikut mengusap - ngusap pipi Venya ketika melihat Venya yang seprrti kesakitan dan pipinya sedikit memerah. "Sori deh, kekerasan ya?" Tanya Gemma pada Venya.
Venya terkekeh sekarang, "engga kok." Katanya, "berarti sakit ini menandakan gue ga mimpi kan, Gem?" Kata Venya pelan.
Gemma mengangguk, "kenapa emangnya? Keliatan seneng banget?" Tanya Gemma pelan ketika melihat Venya yang tidak bisa di sembunyikan. Venya berbinar dan begitu merona. Dia benar - benar sesenang itu saat datang ke kamar Gemma.
Sekarang Venya mengangguk, "gue cerita nanti deh, laper nih gue." Kata Venya mendadak.
"Ven, lo serius?" Tanya Gemma.
Sebenernya Gemma mungkin akan mati penasaran akrena Venya bersikap aneh. Walaupun Gemma menyukainya tapi penasaean juga kenapa sikap Venya mendadak seperti itu. Dan sekarang ketika perasaan penasaran yang di miliki Gemma menggebu - gebu, Venya malah mementingkan pperutnya sendiri tanpa bisa membaca situasi yangbsedang Gemma alami saat ini.
** *** ***
Venya sudah menceritakan semuanya sambil menunggu nasi goreng pesanannya di bikinkan. Venya heboh sekali saat bercerita. Berkali - kali ia menggebrak meja tukang nasi goreng di depannya dan berulang kali juga ia meminta maaf kepada abang nasi goreng yang kaget ketika memasakkan pesanan yang di pesan olej Venya dan Gemma.
Untung saja pengunjung masih sepi. Hanya si abang nasi goreng saja yang menahan emosi yang di akibatkan oleh Venya. Lantas abang nasi goreng juga di uji Venya karena terrus menerus menggebrak meja walaupun tidak keras. Setidaknya, itu berhasil membuat si abang nasi goreng melontarkan kata, 'maaf mbak, nanti mejanya rusak.'.
Gemma sendiri bukan malu mendapat teguran itu malah dia senang rasanya melihat Venya yanh berbeda. Venya yang sekarnag ada di hadapannya tidak seperti Venya pada biasanya. Venya yang sekarang adalah Venya yang baru. Dia menceritakan segela sesuatunya dengan baik untuk di dengar dengan baik juga oleh Gemma yang serius mendengarkan ocehan Venya walaupun dia tidak mengerti beberapa bagian dari cerita Venya.
Setidaknya, dia berusaha untuk mendengarkan apa yang ingin sekali Venya ceritakan sedari tadi.
Intinya, Venya membutuhkan manager.
"Iya." Kata Venya menjawab pertanyaan Gemma tentang dia yang membutuhkan manager. "Sebenernya sih mbak Rusdiana tidak menyebutkan harus manager ya. Tapi yang penting ada wali gitu." Kata Venya kemudian menyuapkan suapan terakhir nasi goreng di piringnya.
Gemma mengangguk, "apa rencana lo abis ini?" Tanya Gemma lagi.
Venya diam kemudian minum air teh hangat di mejanya. "Gue ga mungkin minta bunda Kori buat jadi magaer atau wali gue kan ha?" Tanya Venya membalikkan pertanyaan Gemma.
Lagi, Gemma mengangguk, "menurut gue lo perlu cari wali yang ngerti bisnis deh." Kata Gemma memberikan saran.
.
Sekarnag giliran Venya yang mengangguk, "kayak lo?" Tanya Venya kemudian.
"Kalo lo ga keberatan gue bisa jadi wali lo." Kata Gemma, kemudian dia menggeleng, "manager." Ralatnya.
Venya tersenyum lebar kemudian menggebrak meja abang nasi goreng itu lagi kalo ini cukup keras, "serisuan lo mau?" Tanya Venya.
Srkarang bukan hanya abang nasi goreng yang kaget. Tapi pelanggan yang ada ikut kaget juga. Mana sudah banyak orang yang mengantri untuk membeli nasi goreng Si abang. Di mata orang - orang yang melihat Venya dan Gemma mungkin akan menganggap Venya yang sedang melamar Gemma di tukang nasi goreng. How sweet ?
Permintaan maaf Venya kini berlaku untuk semua pelanggan dan terkhusus untuk abang hasi goreng di sana.
"Malu ga lo sama kelakuan gue?" Tanya Venya saat mereka di jalan pulang ke kosan mereka dengan motor yang sudah biasa Gemma pinjam dari temannya.
Gemma menggeleng pelan, "ngapain harus malu?" Tanya Gemma balik.
Venya diam, "ya avis tadi gue gebrak - gebrak meja. Mana ga pake masker lagi. Malu gue." Kata Venya elan.
"Itumah jadi elu yang malu, Ven. Guenya mah biasa aja tuh."