Bab 30 : GUGUP

1116 Kata
Venya yang kini perannya sebagai Flora semakin di buat gugup ketika mendengar balasan yang tidak terduga darinorangnyang meneleponnya. Venya sendiri memang akan mengakhiri kontrak sampai dua bulan ke depan karena bukunya yang sekarang sedang di garapnya sudah mulai ads di tingkat konflik yang berkepanjangan. Dia juga sudah berencana memutuskan kontraknya karena ingin fokus menulis di beberapa platform menulis lainnya selain di platform menulis yang sekarang sedang di tekuninya. Flora adalah salah satu orang yang di ciptakan Venya untuk tidak ada di dalam zona nyamannya saja. Sudah setahun dan masih belum berkembang dengan baik. Oleh karena itu, Venya yang membuat Flora ingin membuat Flora lebih darinini. Dan awal muasalnya adalah meningkatkan dirinya untuk menulis di berbagai macam platform berbayar. Dimana pada akhirnya, Venya dan Flora ini harus memutuskan salah satu kenyamanan yang sudah di buat cukup lama. Venya mungkin masih menerima uang dari hasil penjualan buku jika kontrak itu di putuskan. Karena dari awal, kontraknya mengatakan jika Flora bebasn untuk memutuskan untuk memutus kontrak atau melanjutkan kontrak di waktu yang sudah di tentukan di dalam kontraknya. Venya sendiri merasa di dalam kontrak yang ia tanda tangani itu tidaj ada mengatakan jika Venya tidaka akan lagi menerima hasil penjualan buku milik Flora ketika kontrak di putuskan. Yang sudah di perjelas juga oleh Veenya waktu itu jika pmutusan kontrak tidak dan bukan berarti pemutusan silaturahmi dan oemutusan biaya material yang sudsh di tentukan. Maka dari iti, Venya sebagai Flora ini akan memutuskan kontrak setelah kontraknya habis. Selanjutnya, yang akan dilakukan Venya adalah menulis lebih banyak di platform berbayar manapun yang jelas di bayar dengan koin dan masuk ke rekeningnya setiap bulan. Dan itu menurut Venya lebi worth itbdarinpada menunggu penjualan buku. Meskipun kesan menariknya dari menjual buku adalah dimana dirinya benar - benar menjalankan atau bekerja sebagai penulis yang seutuhnya jika dia berkunjung ke toko buku yang memajang bukunya di sana. Kesannya sangat berbeda. Rasanya memang menyenangkan. Tapi di jaman serba digital kali ini, banyak yang sudah tidak membeli buku dan memilih membacanya secara online dari pada offline. Setidaknya, yang Venya simpulkan di kehidupannyanjuga seperti itu. Venya jarang membeli buku dan lebih memilih riset mengugunakan ponselnya dari pada membeli dan membaca buku itu sekali saja. Hal yang seperti itu yang membuat Venya mempertimbangkan kontrak mana yang akan diperpanjang dan kontrak mana yang harus di putuskan. Selebihnya, Venya sudah menjelaskan sebelumnya. Perkataan yang membuat Venya sebagai Flora beetambah gugup dari sang penelepon adalah "oh ya, sebentar saya tanyakan kepada atasan saya dulu". Katanya. Apa tidak makin gugup tuh? Venya benar - benar menunggu sambil menajamkan telinganya berusaha mendengar apapun yang ada di sebrang sana. Di telepon di sebrang sana cukup banyak orang yang berbicara sehingga Venya tidak bisa mendengarkan orang yang tafi berbicara sebelumnya bersama Venya. Setidaknya, Venya mendengar sayup - sayup. Hanya saja tidak jelas. Semakin gugup ketika di ponselnya terdengar suara langkah yang mendekati telepon di sebrang sana. Venya bergetar ketika suara tfai menyapanya lagi. "Baiklah, Flora." Kata orang di sebrangnya. Venya menelan ludahnya susah payah. Sebelumnya memang belum minum sehabis tidur tadi. Dan sekarang tenggorokkannya mendadak sakit karena kering. Venya juga semakin berdebar setelah nafas panjang dari sebrang teleponnya. "Iya?" Sahut Venya ketika di sapa oleh orang yang tadi. Setelah menarik nafasnya mbak itu mulai berbicara lagi, "kami akan meneken kontrak setelah pemuntusan kontrak anda yang barusan anda sebutkan." Katanya. Satu kelegaan yang membuat Venya bisa bernafas lega. Rasanya nafasnya tidak tercekat lagi. Rasanya juga tidak sesak seperti tadi. Kemudian, rasa hausnya menghilang seketika. "Dengan satu syarat." Kata orang di sebrang telepon tadi. Satu kalimat itu membuat Venya kembali tercekat. Nafasnya kembali sesak dan hausnya mendadak ada lagi. Kerimg sekali rasanya tenggorokannya. Venya menunggu orang itu melanjutkan perkataannya. Dia tidak sanggup membalas perkataannya. Dan sialnya, Venya benar - benar ingin hilang dari dunia itu. Karena Venya benar - benar sudah di terbangkan dan sekarang malah di jatuhkan namun masih dengan tali yang melingkar di lehernya. Seperti itu kira - kira yang di rasakan oleh Venya sekarang. "Seminggu lagi, anda dan manager ke kantor untuk tandatangan kontraknya terlebih dahulu." Kata orang itu. Apa yang dirasakan Venya bukan dirinya yang di gantung oleh tali yang melingkar di lehernya. Tapi tali itu lepas dan ada tali lain yang menggantung di badannya. Dia tidak merasakan sakit namun seakan terbang begitu saja. Padahal talinya masih ada di dalam tubuhnya. "Kami membuat pernjanjian terlebih dahulu karena takut anda menekan kontrak dengan penerbit lain." Ucap orang di sebrang sana. "Anda bisa mulai menulis cerita lain dan mengajukan naskah yang sudah di kontrak yang disebutkan tadi setelah kontrak dengan penerbit lain sudah anda putuskan." lanjutnya. Venya benar - benar merasa lega. Dia tidak bisa berkata apa - apa lagi. "Baik." Kata Venya sebagai Flora. "Apa ada yanh dibutuhkan lagi selain saya datang untuk menanda tangani kontraknya?" Tanya Venya. Setahu Venya, penerbit sebelumnya meminta KTP dan form yang diisi sebagai persetujuan untuk tidak meneken kontrak dengan penerbit lain sebelum pemutusan kontrak. Dan Venya juga mengajukan hal lain tentang hak guna namanya. Dia tidak mau semua orang tahu jika dirinyalah Flora. Venya sebagai Flora. Dia hanya ingin di kenal sebagai Flora bukan Venya. "Hanya data diri dan juga kartu kependudukan." Kata orang di sebrangnya lagi. Oh iya, Venya lupa menyebiykan, mbak yang di sebrangnya bernama Rusdiana. Dia adalah selaku manager marketing penerbit dan juga sekaligus yang akan membantu para penulis menjelaskan aturan - aturan yang ada di pihak penerbitnya. Tentu saja itu adalah tugas seorang marketing. Setidaknya yang harus tahu apa yang ada di dalam perusahannya. Kemudian, Venya mengangguk. "Saya ingin memastikan satu hal, Mbak. Maaf." Kata Venya pelan. "Ya? Ada yang ingin di sampaikan?" Tanya mbak Rusdiana. Venya menganggun walaupun tidak diketahui mbak Rusdiana, itu adalah gerakan refleks dari seorang Venya di sini. "Flora adalah nama pena saya. Jika mbak Rusdiana meminta kartu tanda kependudukan dan tanda pengenal, mungkin mbak bisa mengetahui nama saya dan juga alamat dan segala hal pribadi saya." Kata Venya menjeda menunggu respon dari mbak Rusdiana. "Ya?" Selanjutnya, Venya menarik nafasnya setelah mendapat respon baik dari mbak Rusdiana. "Di penerbit sebelumnya, saya mengajukan surat untuk menjaga kerahasiaan dan juga tidak memberitahu atau menyebar luaskan nama asli saya dan data peibadi saya. Apakah di penerbit sana bisa begitu juga?" Tanya Venya pelan dan sangat hati - hati. Mbak Rusdiana terkekeh, "tentu saja, mbak Flora." Katanya, "kami juga mendapat beberapa klien seperti anda dan malah penulisnya sendiri yang pada akhirnya membuka identitasnya sendiri." Lanjut mbak Rusdiana. Venya terkekeh, "saya memastikan jika saya tidak menyebarluaskan nama saya mbak. Saya punya latar belakang kurang bagus jika harus di ceritakan. Maka dari itu, saya tidak akan menyebarluaskan nama asli saya." Kata Venya. "Baik, mungkin untuk selebihnya, mbak Flora bisa menjelaskan alasan agar saya juga bisa bertanggung jawab dengan nama mbak itu di kantor nanti." *** *** ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN