Setelah Gemma datang dengan gorengan dan juga tidak lupa dengan bajigur yang tiba - tiba Venya menginginkannya, Venya kembali ke kursi kerjanya karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Memang harusnya, Venya tidur. Namun, setelah memakan gorengan Venya tiba - tiba mendapatkan beberapa ide untuk cerita platform yang ia sedang kerjakan.
Jika Venya adalah oramg yang cukul terbuka untuk siapapun yang dekat dengannya dan tertutup dengan orang baru saja di kenalnya. Tapi Flora yakni Venya di duniankepenulisan adalah orang yang cukup tertutup. Di cerita - ceritanya jarang sekali Venya memberikan author note yang biasanya digunakan penulis untuk menyapa penggemar dan juga pembaca yang membaca ceritanya.
Venya punya caranya sendiri untuk menyapa penggemarnya. Ah, setidaknya sejak dulu Venya menganggap pembaca adah penggemarnya. Hanya berkhayal tapi mudah - mudahan bisa menjadi kenyataan. Doain aja dulu.
Flora punya author note tapi tidak dan bukan di kolom khusus untuk author, Flora lebih memilih untuk memanfaatkan pergantian setting cerita udntuk menyapa penggemar. Misalkan dan contohnya adalah ketika Flora menceritakan eseorang bernama A, menceritakan segala kegiatanya si A dan kemudian lip selanjutnya setyingnya berubah. Flora menceritakan cerita si B setelah si A. Nah diantara cerita si A dan si B ada author note milik.Flora.
Biasanya di isi seperti emoticon.
-,- jika dirinya sedang badmood.
^.^ jika dia sedang senang dan ada di dalam mood yang bagus ketika menulis.
Lalu ada >•<" untuk menyatakan bahwa dirinya sangat senang sehingga dia menulis ini dengan perasaan senang.
Banyak lagi lainnya. Beberapa darinpenggemarnya senang sekali menebak beberapa emoticon yang Flora berikan. Karena setiap harinya akan berubah dan tentu saja jarang sekali Flora melewatkannya. Walaupun terkadang Flora tidak mrnambahkan emoticon karena setting hanya satu setting. Tidak ada penggalan - penggalan seting lainnya. Kadang haln itu memancing orang - orang untuk berkomentar.
Seperti, 'kok.ga ada emotnya kak? ' atau 'emotnya ketinggalan tuh'
Kadang - kadang Venya yang membaca penggemar Flora ini terkekeh. Selain karena banyak sekali yang berkomentar, Venya juga menganggap jika Flora adalah nama pena yang populer dengan emoticonnya.
Sehingga akun Aree141 itu sering sekali membalas emoticonnya walaupun Venya kadang menebak - nebak apa perasaan orang di sana ketika memberikan emoticon seperti itu. Ya, kebanyakan tidak tertebak sih. Jadi, biasnaya Venya bertanya sebagai Flora. Dan biasanya juga akun ini tidak memberitahu Flora. Malahan akun ini menyuruh Venya sebagai Flora menebak seperti ditinya menebak emoticon yang diberikan oleh Flora kepada akun ini.
"Kok gemes banget ni orang punya akun." Kata Venya ketika melihat ada lagi satu emoticon yang terpajang di kolom komentar. Venya senang sekali bisa bercengkrama sedekat itu dengan penggemarnya. Namun, Venya sebagai Flora biasanya merespon hanya sebatas itu saja. Tidak berkepanjangan dan tidak juga kelebihan. Setidaknya, Venya merasa penggemar yang satu ini adalah penggemar satu - satunya yang membuat Venya ingin terus update di platform ini. Walaupun Venya tidak terlalu kelihatan ingin mendapat uang dari sana, tapi tidak munafik juga Venya ingin mendapatkan penggemar juga. Uang juga jadi patokan utamanya. Biasanya, uang pembayaran dari platform ini lebih cepat cairnya dari pada dari penerbit buku.
Jika dari penerbit buku yang sebulan sekali penghasilan Venya bergantung pada buku yang di jual. Maka dari platform ini fi lihatbdsrinjumlah pembaca yang membaca bukunya per bab. Tentu saja tidak banyak. Hanya beberapa orang yang masih setia. Karena di platform ini banyak di gunakan oleh orang - orang yang bisa saja menganggu otak para pembaca apalagi yang di bawah umit.
Kalo Flora menerbitkan buku dengan judul satu kata yang dibuat sedemikan rupa untuk menggambarkan seluruh isi cerita yang ada di dalamnya. Di buat semenarik mungkin dan di buat sebagus mungkin. Tapi orang - orang yang tidak bertanggung jawab yang sengaja mengubah gaya kepenulisan yang tadinya sangat di jungjung tinggi kini lebih mebgarah kepada hal - hal yang merusak otak.
Akan Venya sebutkan di sini. Banyak penulis baru yang menetas dan mencoba dunia kepenulisan yang 'harusnya' penuh dengan liku dan gambaran sastra yang cukup bagus, kini menulis dengan asal - asalan. Dengan penuh kejutan dimana orang - orang menulis seenaknya. Menulis dengan gayanya sendiri. Melakukan riset setengah - setengah dan juga menuliskan hal - hal kotoor berbau se**sual yang bahkan pembacanya mungkin diantara bamyak ribu orang adalah anak di bawah umur yang harusnya tidak membaca dan belum saatnya mengetahui hal - hal berbau por**nografi.
Venya juga mengakui bahwa tulisannya tidak sebagus tulisan - tulisan senior - senior di atas - atasnya. Tidak juga menulis dengan kata - kata sesuai PUEBI. Dimana dirinya masih merancang kasar kalimat - kaimat yang diketahii olehnya saja. Sepengetahuan dia saja.
Kalaupun di dunia penerbitan Venya ditertawakan sebagai Flora karena tulisannya macam anak tk atau sd, Venya tidak akan peduli. Dimana Venya sendiri yang mengetahui dirinya sendiri. Dia sendiri yang tahu kualitas menulisnya sendiri. Dan tentu saja, Venya tahu jika para pembacanya menyukai apapun yang Venya tulis. Entah itu suka secara tulus atau karena hanua suka kepada pembawaan ceritanya saja.
Setidaknua, sekaranh Venya punya yang namanya penggemar.
Venya sendiri pada akhirnya akan menyerahkan tulisan - tulisan yang dibuatnya kepada editor dan mereka akan memperbaiki semampu mereka. Tidak bisa juga mereka mengubah semua gaya kepenulisannya Venya sebagai Flora. Karena Flora punya ciri khusus dalam menulis.
Balik lagi ke cerita dimana banyak penulis baru yang bahkan hanya mengetahui selintas tentang kepenulisan dan tidak ingin tahu lebih banyak karena sudah mendapatkan hasil yang bagus dari oembaca. Pembaca juga sekarang banyak yang tertarik dengan cerita di atas dua pukuh satu tahun plus. Dimana isi dalam ceritanya hanya oembahasan gairaaah panas dsn juga hubungan suami istri yang bahkan sangat berbelat belit.
Mulai ditemukannya tokoh A yang merupaka CEO peusahaan teekenal yang bahkan secara tidak masuk akalnya CEO tersbut masih dua puluh tahunan karena mewarisi perusahaan ayahnya. Padahal idealnya, menjadi CEO itu butuh, sangat butuh pengalaman. Dimana pengalaman tersebut tidak bisa langsung tahu selah dan trik jitu perusahaan.
Diceritakan juga bahwa CEO muda itu sangat cerdas. Oleh karena itu bisa menguasai bebberapa hal di luar nalar. Dimana bisa menggaet perusahaan lain untuk investasi dan sebagainya. Entah itu adalah satu tokoh yang snagat pasaran di dunia kepenulisan online. Bahkan Venya sebagai Flora juga pernah bersaing ketat dalam perebutan buku best seller di toko offline. Dimana pemenanhnya adalah penulis yang menulis cerita yang di dalamnya banyak adegann panas dan membuat gaiirahh - gaiiraah pembaca semakin memuncak.
Flora hanya bisa tersenyum kecil. Setidaknya, penjualan bukunya laku. Itu saja yang dipikiran Venya.
Oh ya, si tokoh A yang merupakan CEO muda itu di peremukan dengan satu gadis polos yang tidak sengaja datang untuk wawancara dan membuat mereka jatuh cinta. Lalu bisa di tebak apa yang terjadi berikutnya?
Jelas.
Adegan panaass yang bahkan lebih panas daripada telur kukus yang di kukus selama setengah jam.
Ya itu berlebihan.
Tapi pada faktanya, buku - buku yang seperti itu yang laku keras. Entah apa dan kenapa. Tapi sebagai Flora, dia snagat amat kecewa. Banyak cerita bagus yang isinya adalah romansa anak muda. Atau bahkan cerita dua puluh satu pluss tanpa adegan yang panas atau bahkan adegan di atas ranjaaang yang bagus. Cerita dua puluh satu pluss tanpa adegan yang seperti itu, mungkin kebanyakan pembuniuuhaan. Atau bahkan kaniballisme atau yang lebih sering lagi adalah adegan penembakan dan juga adehan penyelamatan diri dari kapal tenggelam yang menyata hari.
Banyak cerita seperti itu yang bagus.
Banyak cerita petualangan yang bahkan imajinasi yang sangat kuat dan sangatlah indah dituliskan dalam kalimat - kalimat yang baik dan benar bahkan tidak laku di dunia kepenulisan ini.
Di dunia ini hanya berlaku dan hanya banyak panggung untuk penulis - penulis yang bergelar 'banyak pembaca' karena tentu saja, sekarang banyak pembaca lebih memilih gairaaah panas dari pada pikiran keras.
Pikiran keras yang dimaksud adalah pikiran yang berfikir keras untuk memeecahkan misteri. Untuk menebak jalan cerita atau bahkan hanya sebatas berfikir siapa pelaku utama dalam kasus yang ada di dalam cerita itu. Kebanyakan sudah tidak ada yang mau lagi seperti itu.
Venya bilang kebanyakan ya, bukan semua oranh tidak mau seperti itu.
Hanya saja benar - benar sangat di sayangkan karena dunia penulis itu sebenarnya, bukan hanya mengejar uang dari penggemar. Harusnya sebagai media pembelajaran juga. Dimana para penulis biasa menulis dengan baik dan mencari tahu dimana letak kesalahan kenapa penggemar tidak mau masuk ke ceritanya. Atau bahkan pembaca yang belajar bagaimana cara bisa menjadi penulis seperti ini. Atau lebih sederhananya lagi, dimana oembaca bisa belajar dsri apa yanh sudah di buat oenulis dalam ceritanya.
Dimana pengalaman hidup dari tokoh yang di baca bisa membuatnya menjadi lebih baik dan lebih memilih untuk tidak melakukan hal yang buruk yang terjsdi di dalam ceriga.
"Dunia ini beneran sudah gi**la." Oceh Venya. Dia menggelengkan kepalanya, "sepertinya gue beneran butuh tidur." Katanya lagi.
*** *** ***
Venya terbangun darinti tidurnya karena ponselnya yang bergetar. Venya membuka sebelah matanya hanya untuk melihat siapa kali ini yang menganggu tidurnya. Venya sendiri sedikit kaget dengan orang yang meneleponnya. Ia kemudian terduduk dengan tergesa - gesa kemudian berdeham memastikan suaranya baik - baik saja.
Setelah dianggap sudah baik - baik saja, Venya menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon dari orang yang membuat Venya kaget tadi.
"Hallo?" Sapa Venya ketika sudah menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
Sebenarnya, Venya sudah lama menantikan telepon ini. Sejak dia menulis novel, dia mengajukam beberapa novel ke penerbitbini namun belum ada respon baik dari si penerbit ini kepada Venya yang sekarang tangannya masih gemetar di telepon penerbitn yang dari awal di incarnya.
"Flora?"
"Ya?" Sahut Flora.
Sebenarnya juga Flora bisa membalas percakapan itu dengan baik. Hanya saja, gugup masih menyelimuti dirinyam jadi dia menjawab seadanya dan Flora berharap itu akan baik - baik saja.
"Maaf kami dari penerbit Gram**edia ingin mengajukan kontrak untuk cerita yang sudah diberikan kepada kami." Katanya, dan Venyabyang mendengar hanya bisa mengangguk tanpa menjawab apapun karena dianbenar - benar tidak bisa berkatab-bkatabsaking gugupnya.
Baiklah.
Biarkan Venya bersikap berlebihan. Tapi ini adalah salah satu impian yang ingin Venya gapai. Dan sekarang itu tercapai. Setelah banyak sekali sinopsis dan naskah di ajukannya. Ada telepon dan ingin mengajukan kontrak dengannya. Tentu saja itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi seorang Venya. Dan tentu saja untuk Flora.
Selama ini memang bukan penerbit sebesar ini yang menerbitkan buku - bukunya. Ada empat buku yang sudah di terbitkan dan laku dengan sendirinyantanpa promosi ataupun penerbit besar. Dan sekarang penerbit besar mengajukan kontrak dengannya. Apa tidak bahagia?
Sangat bahagialah. Venya rasanya ingin terbang bebas setelah ini.
"Yang mana judul naskahnya adalah 'Detektif A', jika bersedia mungkin anda bisa didampingi dengan manager anda datang ke lokasi terdekat kami. Dimana anda sekarang?" Tanya si penelepon.
Venya gugup lalu ia menarik nafas dalam dan membuangnya pelan. "Terima kasih sudah menawari saya untuk bekerja sama, Mbak." Kata Venya karena yang menelepon itu adalah seorang perempuan. "Tapi saya masih terikat kontrak dengan penerbit lain sampai bulan juni ini." Kata Venya lagi, "apakah ada kesempatan bagi saya untuk melanjutkan kontrak dengan mbak setelah bulan juni?"