Bab 28 : HARGA

1028 Kata
Venya begadang lagi. Dirinya sedang mengetik untuk bab di platform online. Dirinya sendiri sekarang di kamarnya. Di depan laptopnya, dia terus menerus merangkai kata - kata yang bahkan sudah entah berapa kata untuk malam ini rasanya dia menikmati meja kerjanya yang baru. Cukup nyaman dan sangat membantu pekerjaannya. Apalagi kursinya. Ia benar - benar menyukainya. Entah untuk apa tapi, Venya merasa kursi ini memang di ciptakan untuk menulis dan penulis seperti dirinya. Walaupun Gemma mengatakan ini adalah kursi khusus gaming. Entah, yang Venya tahu adalah dirinya bisa memiliki ini dari segi kualitas sdan juga kegunaannya. Dia emang sengaja membeli kursi ini untuk punggungnya yang terkadang sakit jika harus duduk lama dan untuk pinggul juga lehernya. Dan kursi ini memang sangat cocok untuknya. Semuanya, semua kegunaannya membantu Venya untuk lebih aktif lagi menulis. Dan tentu saja, Venya akan terus aktif. Walaupun terkadang ranjangnya melambai - lambai memintanya untuk segera mendatangi ranjang itu. Terkadang juga ranjang itu posesif memeluknya. Susah untuk melepaskan Venya. Dan tentu saja, Venya sering sekali membalas pelukan ranjang itu. Gemma sedang ada di kamarnya. Entah, Venya tidak melihatnya dari gelap tiba. Terkadang, Venya mendapatkan pesan jika Gemma akan pergi. Walaupun terkesan cuek, sekrang Gemma suka mengabarinya walaupun hanya turun ke bawah membeli makanan ringan di minimarket terdekat. Terkadang juga Gemma meneleponnya secara tiba - tiba dan menanyakan apa yang ingin Venya makan. Bahkan hanya dengan satu malam, belum satu malam ini, Gemma berubah sebanyak itu. Entah apa kebutuhannya yang pasti, Gemma sangatlah berubah. Venya seleai menuliskan bab - bab yang di penuhi kata - kata untuk platform itu. Selanjutnya dia mengambil ponselnya lalu beranjak dari kursinya. Ia melihat jam menunjukkan pukul tiga waktu dini hari. Dia enuntaskan pekerjaannya lumayan panjang. Dia menambahkan bab juga untuk ke penerbit. Venya merasa bersalah sudsh libur kemarin malan, jadi dia menebus kesalahannyandengan menambahkan bab untuk bukunya nanti. Venya memberikan ucpan teroma aksih untuk laptop dan kursi barunya. Sebrnarnya, hal itu di lakukan Venya dari dulu. Dia berterima kasih pada laptopnya yang sudah menemani dia dan tentu saja menghasilkan uang untuknya. Venya sendiri menghormati sekecil apapun barang yang ia gunakan. Bahkan Venya pernah berterima kasih pada perutnya karena sudah menampung makanan dan membuatnya kenyang juga tidur nyenyak. Setidaknya, Venya menghargai hal itu. Selebihnya, Venya melakukan hal kecil itu setiap kali dia ingat. Tidak semua hal hanya yang dia ingat saja. Kini Venya sudah terbaring di ranjangnya. Dia membawa ponselnya dan membaca komentar - komentar yang ada di platform onlinenya. Dia benar - benar menghargai para pembaca yang sudah membeli koin dan membuka bab untuk membaca ceritanya. Venya sendiri merasa sangat dihargai lagi karena komentar - komentar yang terus membanjiri cerita - cerita yang Venya publish di sana. Setidaknya, dengan hal itu, Venya semakin bersemangat untuk menulis. Walaupun terkadang ada komentar buruk yang mengkritik tulisannya. Venya tidak pernah mengambil pusing orang dengan jempol panas mengetikkan hal yang menurut Venya cukup untuk mengeritiknya dalam segi menulis. Bahkan jika ingin membalas, Venya akan membalas, 'coba sekali saja menjadi diriku' dan menuliskan beberapa kegiatan yang Venya lakukan sehari - hari. Menulis memang mudah untuk orang yang melihat saja. Jika sudah merasakan mentok di bab satu dua atau bahkan puluhan bab, rasanya penulis juga bisa frustasi. Setidaknya tidak smpai ingin bunuh diri sih. Tapi, apa sulitnya menghargai penulis dan kau tinggal membaca dengan tennag. Tidak usah berkomentar jika belum emrasakan sulitnya merangkai kata dan sulitnya menemukan ide juga inspirasi untuk setiap babnya. Vjari avenya berhenti di komentar yang jelas - jelas sangat membantunya bangkit dari komentar - komentar yang cukup pedas di setiap babnya. Satu akun itu. Satu akun yang sering sekali muncul. Di setiap bab ceritanya, di setiap cerita - cerita yang Venya buat dan juga di setiap kali Venya membalas komentarnya. "Aree141." Ucap Venya membaca nama akun itu, "ari?" Katanya menebak cara membaca nama akun itu, "biasanya begitu, kan membacanya?" Tanyanya untuk diri sendiri. Dia ingin mengucapkan terima kasih yang snagat banyak untum orang itu. Karena dia benwr - benwr serinh sekali berkomentar dan meninggalkan jejak walaupun dirinya hanya lewat. Jika ia berkomentar, pasti setidaknya dua atau tiga kalimat yang bagusnuntuk Venya. Dan jika dia hanya lewat dan mungkin susah untuk berkomentar, dia hanya mengacungi jempol di kolom komentarnya. Atau bahkan hanya satu kalimat, 'hadir' atau 'sudah baca' saja. Tapi kalimat sederhana itu, hanya satu kalimat itu saja bisa membuat Venya tersenyum kecil. Dan tentu saja bersemangat. Setelah membaca dan membalas beberapa komentar, Venya di telepon oleh Gemma. "Ven, lo mau nitip ga?" Katanya di telepon. Ada angin dan suara kendaraan sayup - sayup di belakang suara Gemma. Venye mengerutkan keningnya kemudian emmastikan lagi dia melihat jam dengan ebnar, "lo dari mana subuh - subuh gini udah ngelantur nanya gue mau nitip apaan?" Kata Venya, "ini jam empat pagi, Gem. Lo besok ga kuliah?" Tanya Venya. Bukannya menjawab pertanyaan Gemma, Venya malah balim bertanya dan meninggu jawaban dari Gemma. "Iya gue baru mau balik, sama temen gue. Dari rumah temen gue yang ulang taun." Katanya, "besok kan minggu, Venya." Sahut Gemma lagi. Vemya menepuk jifatnya. Dia terkadang sudah lupa hari. Karena tidak bekerja dan tidak punya kalender tentu saja. Dia tertawa dalam hati, "ada apaan di deket lo?" Kata Venya yang sudah menyelesaikan tawa dalam hatinya. "Gorengan mau ga lo? Ada yang jualan nih, es kopi atau tau ga bajigur?" Kata Gemma yang sekaligus bertanya. Venya berdeham, "ya taulah. Gue pernah nyobain sekali." Kata Venya, "luamayan amget, beliin satu ya. Sama gorengan tuh. Kalo bisa yang baru mateng biar ke sini masih anget - anget." Kata Venya. "Lo sekalinya minta ribet amat nyak." Kata Gemma, "ya udah gue beli dulu. Ga ada lagi yang lo pengen?" Tanya Gemma lago. Venya menggeleng, "itu aja cukup." Kata Venya. Setidaknya, Venya akan menikmati gorengan subuh - subuh dan menikmati hangatnya bajigur. Sudah lama dia tidak meminumnya walaupun baru satu kali mencoba dan Venya cukup menyukainya. Setidaknya, Venya tahu apa itu bajigur. Venya juga harus tau minuman daerah. Terkadang, minuman daerah lebih nikmat daripada minuman dari restoran mahal dan juga minuman yang dijual dengan harga yang tidak sepadan dengan harganya. Venya lebih menikmati bajigur daripada kopi di star- yah kalian tahulahnya. Venya juga hanya sesekali meminum kopi bintang itu. Hanya sekedar penasaran dan juga setidaknya dia tidak kudet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN