Venya mulai mengetikkan kalimat - kalimatbyang di susun sedemikian rupa menjadi sebuah cerita yang menarik. Seakan tidak menganggunya, Gemma sedang merangkai potongan demi potongan meja yang bahkan sedari tadi ia bongkar dan pasang. Buku manualnya robek karena terkena tumpahan minuman yang tidak sengaja Gemma tumpahkan di atasnya.membuatnya bingung sekarang.
Pada akhirnya, Venyalah yang selesai terlebih dhaulu. Untuk sekwrnag ini, Venya lebih mementinhkan ceritanya masuk kenpenerbit dulu sebelum mengetik untuk di upload di dunia maya atau di platform berbayar. Venya menyusul Gemma yang kebingungan. Kemudian dia meilah dan memilih mana yang seharusnyabdipasang di kanan kiri dan atas meja.
"Kok sulit amat." Ucap Gemma kemudian diam melihat Venyanyang sedang menyusun ki meja.
"Salah siapa minum kayak orang sumbing," ucap Venya terkekeh bercanda, "canda sumbing." Lanjutanya, "ya elo sih, kenapa juga kudu numpahin minumnya di atas buku manual ginian." Seru Venya kini menunjuk keetas sobek yang mana adalah buku manual pemasangan meja.
Venya memang sengaja membeli meja yang agak rumit. Ada rak di kanan dan bawah mejanya. Ada rak di atas meja juga untuk menyimpan laptop. Ya begitulah, Venya memang senang sekali dengan kerumitan. Contohnya, cerita yang rumit untuk di tebak dan rumit untuk di pecahkan. Venya juga senang sekali menyusun ceritanyang seperti itu. Setidaknya, Venya mengerti apa arti kerumitan itu.
Akan ada selalu jalan.
Seberapa rumit cerita Venya, seberapa rumit kepercayaan Venya lada Gemma dan seberapa rumit hidup Venya ke depannya. Pastk akan selalu ada jalannya. Entah itu jalan berliku. Jalan beraspal. Atau bahkan jalan berbuga dan berbatu sekalipun. Pasti akan ada. Selalu ada jalan yang baik.
"Lo pesen meja kok yang rumit - rumit gininsih." Kata Gemma kini menyuruput minuman yang baru saja datang yang ia pesan lewat pesanan online.
Venya terkekeh, "rumit tapi nantinya jadi multi fungsi, Gem." Jawab Venya, "lagian, gue minta bantuan lo itu supaya cepet, kok jadi lambat gini. Dukuan guebkirim bab ke penerbit kali daripada ginian." Sahut Vemya lagi kemudian dia berhasil emasang kaki meja dan selanjutnya tangannya mengambil papan panjang yang sudah di ketahui bahwa itu adalah meja atasnya.
"Coba sini bantuin nih. Tinggal pasang dulu meja atasnya." Kata Venya pelan smabil mengajak Gemma utnuk membantunya memasnagkannya.
Jika kalian bertamya sedari tadi Gemma emlakukan apa, dia melakukan hal yang cukup bergina. Dia memasang rak - rak kecilnya dulu. Menyusunnya dan nanti tinggal emamsangkan ke bagian inti dari meja ini. Selanjutnya, itu saja yang dilakukan Gemma. Venya bahkan hampir tertawa sendiri ketika hanya itu yang dapat di pasangnya.
Setelah berbagai macam eprtikaian dan adu omongan. Yang jelas meja itu sudah berdiri kokoh. Dimana Venya sudah menempatkannua di sudut ruangan yang mungkin akan menjadikannya sebuah spot baik untuk menulis. Spot yang baik untuk menulis pertikaian dsn juga hal - hal yang bisa dimasukkan ke dalam ceritanya.
Selebihnya, selesai. Kursi yang dipesan Venya melaui online shop langsung tokonya mungkin memang secepat itu. Venya sudah memiliki tempat kerjanya.
"Seneng, lo?" Tamya Gemma sarkastik.
Venya tertawa pela lalu mengangguk, berputar di kursinya dan menatap Gemma, "banget." Katanya lalu tertawa dan masij berputar - putar di kursinya.
"Gue mau beli juga meja sama kursinya dah kalo udah ada duit." Seru Gemma membuat putaran kursi Venya berhenti di hadapan Gemma.
"Lah, buat apaan? Lo kan udah punya meja belajar." Kata Venya menjawab lernyataan Gemma barusan.
Gemma mengangguk, "gue mau coba bisnis gaming." Kata Gemma, "gue liat - liat banyak yang ngegame dan sukses." Lanjutnya.
Venya diam berfikir sebentar, "tapi mungkin butuh waktu lama buat lo buka semacam begituan." Kata Venya, "lagian, lo kan kuliah. Udah fokus kuliah aja deh." Serunya lagi.
"Ya tapi kayaknya seru aja dapet duit dari gaming." Kata Gemma lagi.
"Iya emang asti seru. Gue dapat duit dari hasil nulis juga seneng - seneng aja, seru - seru aja. Tapi tau kan gue dari kapan mulai nulis?" Tanya Venya lahgi.
"Empat tahun yang lalu." Kata Gdmma setelah mengangguk pelan.
Venya mengembalikan anggukan dari Gemma, "dan gue baru sukses sekarang. Bisa ngehasilin duit dan punya cukup tabungan dari nulis baru sekarnag." Kata Venya lagi, "jadi kalo menurut gue, lo juga mungkin bakal jadi gaming dan dapet duiy hasil datibitu lama juga. Ada proses yang ga semudah itu lo dapetin." Kata Venya.
Gemma mengangguk, "tapi ga ada salahnya buat di coba, kan Ven?" Tanya Gemma pelan.
Venya mengangguk, "iya sih. Tapi gue ragu aja gitu lo bisa fokus di dua bidanh sekaligus." Kata Venya.
"Kalo gue cabut dari kuliah mungkin bisa." Kata Gemma.
"Jangand eh Gem, di luar sana banyak orang yang pengen kuliah. Lah elo udah kuliah malah minta cabut." Kata Venya.
Gemma diam, "ya kan biar fokus aja gitu." Kata Gemma lagi.
Venya menggeleng kali ini, "ga usah ngadi - ngadi deh lu." Kata Vemya, "udah fokus dulu sama yang lo jalanin sekarang. Tonggak duantaun lagi juga." Kata Venya. "Lagian lo gue bantuin kuliah." Kata Venya, "tugqs lo bisa gue kerjain juga kalo gue bisa." Ucap Venya.
Gemma tersenyum, "ya udah, dua taun lagi gue bakal coba buat konten gaming ya?" Kata Gemma belum menyerah juga.
"Iya kalo lu lulus dua tahun kemudian." Kata Venya menyindir.
"Lah elu doain gue ga lulus aoa ya?" Tanya Gemma.
Venya tertawa, "ya kan gue berandai - andai." Kata Venya, "lagian, lo kalo nakal di kampus juga susah lulusnya loh." Kata Venya.
Gemma diam, "siapa bilang gue nakal, njir." Ucap Gemma.
"Ya itu. Lo mabok begitu. Lo uring - uriangan kalo tugas lo banyak salahmya." Kata Venya, "ya wajar aja, yang ngerjain ga kuliah biset dah." Kata Venya membela dirinya. Karena dulu oernah kejadian bahwa tugasnya Venyabisi asal - aslaan akrena dikerjar deadline. Dimana Venya punya deadline menulisnya dan tugas Gemma yang punya deadline untuk dikerjakan.
Venya kebingungan saat itu. Dial antara keduanya, Venya lebih memilih dirinya sendiri yang di prioritaskan. Dimana dirinya harus menulis dan setornke penerbit untuk di edit dan di telaah daripada tugas Gemma yang bahkan ga akan ada untungnya senditi untuknya. Dari sana, Gemma malas dengan Venya. Ada kali seminggu Gemma tidak menghubunginyangegara nilainya paling kelek di kelas.
Jika diingat lagi, Venya benar - benar ingin tertawa. Dia benar - benar pacarbyang sangat membangongkan. Dimana dirinya mementingkan diri sendiri daripada orang lain.
Namun, terkadang mementingkan diri sendiri lebih baik daripada mementingkan orang lain sehingga diri sendiri terabaikan.